Cerita Seks : Balada Mahasiswi STIKes



Mutia adalah salah seorang mahasiswi jurusan kebidanan di STIKes Nusa Bakti. Akrab dipanggil Muti, dia adalah primadona kampus tersebut. Hal ini karena wajahnya yang sangat cantik, kulitnya putih mulus, dan bodynya yang ideal. Berbalut seragam perawat dan jilbab yang dikenakan sehari-hari, menambah pesonanya. Hampir seluruh mahasiswa di kampus itu bermimpi jadi pacarnya. Dosen-dosen pun sering curi-curi pandang kepadanya. Dianugerahi kelebihan seperti itu terkadang membuat Muti tidak nyaman. Sudah banyak laki-laki yang menembak dia namun dia tolak. Bahkan ada dosen-dosen muda yang melakukan PDKT kepadanya, namun dia belum mau menjalin asmara karena ingin fokus menjadi bidan terlebih dahulu. Sebenarnya memang diantara semua yang menyatakan cinta kepadanya belum ada yang dia suka.


Suatu hari ketika akan pulang ke rumahnya, Mutia mendadak didatangi oleh salah seorang dosen. Dia mengatakan bahwa Muti dipanggil ke ruang yayasan. Muti sudah tahu kenapa dia dipanggil, yaitu karena dia belum bayar uang semesteran sebesar 12 juta rupiah. Bukannya Muti tak mau bayar, namun kebetulan bisnis orang tuanya bangkrut sehingga ekonomi keluarganya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Syarat mengikuti UAS adalah melunasi uang itu, namun Muti berharap pihak kampus memberi keringanan. Dia kemudian berjalan menuju ruang yayasan dimana Pak Andi selaku kepala yayasan sudah menunggu.


Pak Andi adalah ketua yayasan yang membawahi kampus tempat Muti kuliah. Perawakannya gempal dengan kumis tebal membuat mukanya menyeramkan, ditambah dengan perangainya yang galak. Pria yang sudah kepala 4 ini sudah berumah tangga dan mempunyai 2 anak. Walau sudah beristri namun Pak Andi terkenal suka iseng dan jelalatan kepada staf atau para mahasiswi. Terkadang dia suka menepuk pantat mahasiswi atau mencolek payudara dosen perempuan. Namun tak ada yang berani melawan beliau karena posisinya sebagai ketua yayasan. Muti pun tahu hal ini, namun dia tidak terlalu khawatir karena Pak Andi belum pernah melakukan tindakan yang lebih parah selain yang tadi.

"Selamat siang pak."
"Ya silahkan Muti masuk ke dalam."

Pak Andi duduk di mejanya, sementara Muti melangkah menuju sebuah kursi di depan meja Pak Andi. Dengan masih mengenakan seragam lengkap dan jilbab, Muti duduk berhadapan dengan Pak Andi. Pak Andi terlihat memandangi Muti dari wajah sampai payudara, membuat Muti agak risih.

"Baik, jadi kamu yang namanya Mutia?" tanya Pak Andi.
"Iya pak, saya Mutia." ujar Muti sambil menunduk.
"Baik, kamu sudah tahu kenapa kamu dipanggil sekarang?" tanya Pak Andi.
"Hhm.. tidak tahu pak." jawab Muti pura-pura tidak tahu.
"Muti, kamu belum membayar uang kuliah semester ini. Jadi kamu tak bisa ikut UAS." ujar Pak Andi..
"Maaf pak, orang tua saya sedang bangkrut, mohon keringanan." ujar Muti memelas.
"Mutia, kamu tahu bahwa kampus ini pun bisa bangkrut kalau banyak mahasiswanya yang tak membayar uang kuliah seperti kamu." ujar Pak Andi dengan nada agak marah.
Mendengar itu Mutia ciut nyalinya dan perlahan air mata menetes di wajahnya.
"Iya pak, tapi tolong beri saya keringanan, kalau orang tua saya sudah ada uang pasti dibayar pak." ujar Muti.
"Tidak bisa, pokoknya minggu depan kalau kamu tak bisa bayar, kamu akan drop out dari kampus ini." ancam Pak Andi.
Kali ini Mutia tak bisa membendung tangisnya, terbayang di wajahnya kegagalannya meraih cita-citanya menjadi perawat akan sirna. Melihat itu terlihat senyum jahat Pak Andi menyeringai seolah-olah ada rencana yang sudah dia rancang dalam fikirannya.

"Sudah jangan menangis Muti, Bapak bisa memberi kamu keringanan." ujar Pak Andi.
"Ah, yang benar pak? Terima kasih. " ujar Muti sambil menghapus bekas tangisnya..
"Hehe.. Bapak akan memberi kamu keringanan namun ada syaratnya." ujar Pak Andi.
"Mmh.. Maksud Bapak? Syarat apa? Tanya Muti dengan polos.
Pak Andi beranjak dari kursinya lalu mendekat ke arah Muti, melihat itu Muti merasa risih, sampai akhirnya Pak Andi duduk di samping Muti.
"Iiihhh. Bapak kok deketin Muti?" ujar Muti.
"Muti, kamu boleh tak membayar uang kuliah di kampus ini sampai kamu lulus. Syaratnya kamu mau jadi istri simpanan bapak." ujar Pak Andi setengah berbisik.
Jleb! perasaan Muti bagai disambar petir, Muti sangat kaget dengan tawaran yang diajukan Pak Andi. Dia masih setengah tidak percaya bahwa seorang ketua yayasan yang sepatutnya menjadi teladan namun mempunyai nafsu rendahan, dan yang akan dijadikan pelampiasan adalah Muti.
"Muti, beberapa bulan ini Bapak sering memperhatikan kamu, kamu adalah salah satu mahasiswi tercanti di kampus ini, Bapak ingin menikmati tubuhmu." ujar Pak Andi.
"Nggak pak, Muti nggak mau!" ujar Muti menolak dengan tegas.
"Hehe. Silahkan saja, besok bapak akan keluarkan surat drop out buat kamu." ujar Pak Andi mengancam.
"Biarin, lebih baik Muti keluar dari kampus ini daripada Muti harus tidur dengan orang bejat seperti Bapak!" ujar Muti menolak.
"Kurang ajar kamu Muti!" ujar Pak Andi.
"Bapak yang kurang ajar!" ujar Muti.
"Berani sekali anak ini, dan sulit juga ditaklukan." ujar Pak Andi dalam hati.
"Muti, coba fikirkan dengan jernih, kalau kamu menerima tawaran bapak, kamu bias bahagiakan orang tua kamu, kamu tak akan jadi beban orang tua kamu." ujarku terus berusaha merayu Muti.
"Tapi pak, Muti takut.. Muti gak mau.." ujar Muti sambil menangis.
"Apa yang kamu takutkan Muti sayang?" tanyaku
"Ini dosa pak, ini zina, Muti takut dosa. Terus nanti perawan Muti juga hilang, gimana kata suami Muti?" ujar Muti.
"Muti sayang, Bapak akan nikahi kamu secara sirri, jadi kita tidak dosa kan?" ujarku menenangkannya.
"Tapi, bapak kan sudah punya istri dan anak? Apa mereka akan setuju?" ujar Muti.
"Kamu tak perlu pikirkan itu Mut, itu biar jadi urusan bapak saja." ujar Pak Andi.

"Baik pak beri waktu saya sehari untuk berfikir" ujar Muti.
"Silahkan Muti, besok Bapak tunggu kamu lagi di sini." ujar Pak Andi.

****
Esok harinya Muti memutuskan untuk tidak pergi ke kampus dan mengurung diri di kamar. Kejadian kemarin membuat Muti memerlukan waktu untuk berfikir dan menenangkan diri. Muti pun hanya berbaring di atas Kasur sambal memainkan hpnya. Orang tuanya bertanya dari luar kamar kenapa Muti tidak kuliah, Muti menjawab bahwa tubuhnya sedang kurang fit. Muti pun sempat terfikir untuk menceritakan hal ini kepada orang tuanya, namun dia takut orang tuanya akan langsung menyuruh Muti keluar dari kampusnya. Akhirnya Muti memutuskan memendam semua itu dari kedua orang tuanya.

Muti mencoba berfikir dan menimbang-nimbang, namun ternyata sulit. Dia tidak bisa berfikir sendiri, dia membutuhkan masukan dari orang lain. Dia berfikir siapa orang yang bisa memberinya masukan dan yang pasti bisa menjaga rahasianya. Akhirnya Muti ingat kepada Dea, sahabat karibnya. Dea adalah teman sekelas Muti yang sangat dekat dengannya. Saking dekatnya mereka berdua selalu terbuka tentang hal-hal yang sifatnya pribadi dari masalah keluarga sampai percintaan. Muti kemudian mengkontak Dea via bbm dan mengajaknya bertemu sore nanti. Dea pun langsung menanyakan kenapa Muti tidak ngampus hari itu. Muti menjawab dia akan menceritakannya ketika mereka bertemu.

"Ummi, Muti keluar dulu ya mau ketemu Dea." ucap Muti kepada ibunya.
"Lho, katanya kamu sakit saying?" Tanya ibunya.
"Sudah agak mendingan ummi."ucap Muti.
"Pulangnya jangan malam-malam ya nak." ucap ayahnya.
"Iya abi, sebentar aja kok." ucap Muti kepada ayahnya.

Muti kemudian memanggil gojek untuk menuju kafe langganannya, di sanalah mereka berdua akan berjanjian untuk mengobrol. Muti menggunakan setelan kaos santai yang ditutupi jaket, jilbab biru dan celana jeans yang cukup ketat. Muti memang lebih suka memakai pakaian dengan gaya santai yang tak jarang membuat mata laki-laki jelalatan kepadanya.

"Hai Mut, kemana aja lo?" Tanya Dea.
"Mmh.. to the point aja ya, gue lagi ada masalah nih?" ujar Muti.
"Masalah apa Mut? Cerita donk, siapa tau gue bisa bantu." ujar Dea penasaran.
"Tapi lo janji ya ga akan bilang siapa-siapa." ujar Muti sambal memelankan suaranya.
"Yaelah, lo kayak baru kenal gue kemarin aja." ujar Dea

Muti pun menceritakan kronologis obrolannya kemarin dengan Pak Andi.

"What? lo serius Mut?" ujar Dea kaget.
"Yee. Ngapain juga gue bohong sama lo. Ya makannya gue hari ini males banget ke kampus. gue pengen nenangin diri dulu." ujar Muti.
"Kurang ajar tuh si tua bangka, ternyata bejad juga ya dia." ujar Dea setengah marah.
"Ya gitulah." ujar Muti.
"Terus lo terima tawaran dia Mut?" Tanya Dea.
"Gue ya tolak, gue gak mau najis banget tidur sama dia. Tapi gue juga masih pengen kuliah, gue mau meringankan beban ummi abi gue." ujar Muti.
"Jadi, lo masih mungkin nerima tawaran Pak Andi Mut?" Tanya Dea.
"Ya gue pengen minta saran dari lo juga. Makanya gue ngajak ngobrol lo sekarang." ujar Muti.
"Hhm.. kalau gue jadi lo agak bingung juga sih. Ya salah lo juga kenapa gak punya pacar, padahal banyak banget cowok yang ngejar-ngejar lo." ujar Dea.
"Ihh. Kok jadi bahas itu sih? Apa hubungannya coba?" ujar Muti.
"Ya kalau lo punya pacar kan lo bisa lepas keperawanan sama pacar lo, jadi Pak Andi gak bisa ngambil perawan lo. hehe." ujar Dea.
"Ihh.. Parah lu, perawan gue kan cuma buat suami gue nanti." ujar Muti.
"Ya gue serius loh Mut, sekarang kan masalahnya lu bakal diperawanin sama Pak Andi. Daripada gitu mending lu cari pacar dan gituan dulu sama pacar lu." ujar Dea.
"Dasar lu ada-ada aja, jangan-jangan lu dah diperawanin ya sama si Anto." ujar Muti.
"Hihi. Baru malam minggu kemarin si Anto merawanin gue, soalnya dia janji nikahin gue." ujar Dea.
"Apa? gila kamu Dea, berani banget ya." ujar Dea.
"Ya gimana, abis kita berdua dah saling cinta sih, dan gue percaya Anto orangnya komitmen." ujar Dea.
"Hati-hati lho Dea, banyak cowok yang habis manis sepah dibuang." ujar  Muti.
"Ih amit-amit deh, tapi liat aja kalau emang si Anto khianat hidup dia gak bakal tenang, gue kan dah pegang kartu dia. Hihi" ujar Dea.

"Ngomong-ngomong ada cowok yang lagi deket gak sama lo Mut?" Tanya Dea.
"Gak ada sih, tapi banyak yang pdkt sama gue. hihi." ujar Muti.
"Yaudah, diantara yang pdkt sama lo ada yang lo suka gak Mut?" Tanya Dea.
"Hhm.. Siapa ya? Ah si Riko, dia ganteng terus atletis, kayaknya orangnya juga baik." ujar Muti.
"Nah, yaudah, lu jadian aja sama dia terus ajak tidur. Hihi." ujar Dea.
"Kalau dianya gak mau gimana?" Tanya Muti.
"Cuma cowok homo yang gak mau tidur sama lo Mut." ujar Dea.
"Tapi nanti gue dianggap cewek murahan donk De?" Tanya Muti.
"Ya pakai trik donk Mut. Ntar gue ajarin deh caranya." ujar Dea.
"Hhm.. tapi ini dosa, ini zina." ujar Muti.
"Aduh, bu haji. Iya sih ini dosa, tapi lebih dosa mana dengan kamu membiarkan keluarga kamu kayak sekarang. Ya setidaknya dengan kamu gunakan uang dari Pak Andi kamu dah berbuat baik sama ortu kamu. Siapa tahu dosanya diampuni." ujar Dea.
"Hhm.. tapi.." ujar Muti.
"Hari ini kita mending realistis aja Mut, lagian Tuhanlah yang membuat kamu dosa dengan memberi kebangkrutan sama bisnis orang tua lo. Ya gue ngasih saran aja selanjutnya terserah lo." ujar Dea.
"Ok deh, yaudah gue pulang dulu dah mau maghrib soalnya." ujar Muti.
"Ok deh say, kabar-kabar aja ya kalau butuh bantuan lagi." ujar Dea.
"Makasih sarannya ya say, gue fikir-fikir lagi deh." Ujar Muti.

Mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.

***
"Jadi bagaimana Mutia? Kamu sudah memutuskan?" Tanya Pak Andi dengan senyum mesumnya.
"Iya pak, saya akan terima tawaran Bapak." ujar Muti dengan malu-malu.
"Hahaha.. Akhirnya kamu takluk juga, berarti sekarang kamu harus jadi pelampiasan nafsuku." ujar Pak Andi.
"Iya pak, tapi aku sedang haid sekarang, seminggu lagi baru selesai." ujar Muti.
"Apa? Sial. Tapi gak apa-apa lah. Yang penting seminggu lagi Bapak bias menikmati sama kamu." ujar Pak Andi.
"Hhm.. Lantas gimana pak dengan biaya kuliah saya pak?" Tanya Muti.
"Tenang saja Mut, Bapak tidak akan ingkar janji, Bapak akan membayarkan uang kuliah kamu sampai beres. Anggap saja itu beasiswa dari Bapak." ujar Pak Andi.
"Asyik... Makasih Bapak baik banget." ujar Mutia.

Lalu kemudian Pak Andi mendekat kepada Mutia dan tangannya bermaksud menyentuh wajah putih dan mulus Muti.  Dengan reflek Muti menangkis tangan nakal Pak Andi.

"Iihh.. Bapak apaan sih pegang-pegang?" ujar Muti.
"Hehe. kamu kan sekarang dah jadi simpenan Bapak, walau belum bisa merawanin kamu sekarang boleh donk bapak ambil dp nya." ujar Pak Andi.
"Ihh. DP kayak kredit motor aja." ujar Muti.
"Iya boleh ya, itung-itung latihan buat malam pertama kita nanti. Hihi" ujar Pak Andi.
"Iya, tapi Muti takut.. Muti belum pernah pak." ujar Muti.
"Masa sih? Emang pas SMP atau SMA kamu belum pernah deket gitu sama cowok?" ujar Pak Andi.
"Pernah sih Pak. Tapi.. Sama ummi dan abi Muti diajarin kalau si cowok mulai pegang-pegang Muti harus galak." ujar Muti kepada Pak Andi.
"Wah asyik, kamu selain cantik juga masih belum terjamah. Hihi." ujar Pak Andi.
"Mmh.. ya kurang lebih gitu pak." ujar Muti.
"Yasudah, saya boleh menjamah kamu kan?" ujar Pak Andi.
"Bentar pak, pintunya kunci dulu. Takut ketahuan yang di luar." ujar Muti.
"Oh iya, untung kamu ingetin." ujar Pak Andi.

Pak Andi pun lalu mengunci pintu ruangan kantornya. Hari itu pukul 16.30, mayoritas karyawan dan mahasiswa sudah pulang dari kampus. Namun Pak Andi tak mau mengambil resiko jikalau ada yang ternyata masuk ke ruangan. Setelah pintu terkunci Pak Andi duduk dan bersandar pada salah satu sofa yang ada di ruangan itu.

"Muti sayang ke sini donk." ujar Pak Andi.
Muti yang hari itu masih berseragam lengkap dengan jilbab kemudian mendekati Pak Andi.
"Muti sini, kamu duduk dipangku sama Bapak ya." ujar Pak Andi.
Perlahan Muti pun mulai meletakkan pantatnya tepat di selangkangan Pak Andi. Spontan saja penis Pak Andi langsung tegang walau masih ditutupi celana panjangnya. Muti memunggungi Pak Andi dan mencoba mencari keseimbangan di pangkuan Pak Andi.
"Aahh.. Muti kamu Wangi banget." ujar Pak Andi sambal mencium jilbabnya.
"I.. iya pak.. " Muti terlihat agak tegang membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Benar saja, kedua tangan Pak Andi mulai menggerayangi senti demi senti lekukan tubuh Muti. Dimulai dari paha, lalu naik ke perut sampai akhirnya ke bagian payudara. Muti hanya bisa pasrah dan sedikit melenguh saat bagian-bagian tubuhnya digerayangi. Perlahan tangan Pak Andi mulai focus di bagian payudara dan meremas-remasnya. Diperlakukan seperti itu Muti hanya sedikit melenguh sambil memejamkan mata. Sama sekali tak ada perlawanan terhadap perilaku Pak Andi. Walau masih berpakaian lengkap namun kemontokan tubuh Muti sudah cukup membuat Pak Andi ngaceng maksimal.

"Aaahhh.. Muti, tubuh kamu bagus say, payudara kamu masih sekal banget. Pasti mulus." ujar Pak Andi.
10 menit berlalu, setelah puas meremas-remas payudara kemudian Pak Andi menyuruh Muti berdiri. Muti lalu berbalik badan dengan posisi Muti berdiri dan Pak Andi duduk di sofa, mereka saling berhadapan.
"Muti kamu liat apa yang ada di balik celana bapak ini?" ujar Pak Andi sambal telunjuknya mengarah ke tonjolan celana.
"Iihh.. bapak.." ujar Muti sambil menaruh tangannya di depan mata.
"Ini semua gara-gara kamu, burung bapak jadi pengen keluar sarangnya, kamu harus tanggung jawab. hihi." ujar Pak Andi.
"Aaahhh.. Bapak..." ujar Muti sambil mendesah manja.
Tiba-tiba Pak Andi berdiri dari sofa, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Muti. Mereka lalu melakukan frenchkiss dengan penuh birahi. Pak Andi yang sudah pengalaman melumat bibir Muti, lidah mereka saling beradu. Muti yang belum pengalaman pun mengikuti naluri birahinya. Kecupan demi kecupan mereka berdua nikmati bersama. Tangan Pak Andi menggerayangi pantat Muti lalu naik kembali ke payudaranya. Seakan-akan payudara Muti memang menjadi sasaran utama Pak Andi. 5 menit berlalu lalu Pak Andi melepaskan bibirnya dari bibir Muti.

"Muti sayang, bajunya dibuka ya." ujar Pak Andi.
Satu per satu kancing seragam Muti dilepas oleh Pak Andi. Mulai terlihat kemulusan perutnya, sementara payudaranya masih tertutup bra berwarna pink. Terlepaslah seragam kuliah muti, dan terpampanglah seorang calon bidan cantik dengan perut dan tangan yang putih bersih dan mulus. Pak Andi kemudian menyampirkan jilbabnya sehingga bra nya bisa terlihat dengan jelas. Pak Andi lalu mengambil kamera  dan mencoba memotretnya.
"Aaahh.. Pak jangan di foto!"  ujar Muti.
"Tenang sayang, ini buat koleksi pribadi, buat bacol Bapak. hihi." ujar Pak Andi.
Akhirnya Muti di foto dengan berpose seksi seperti yang diminta Pak Andi. Foto yang sangat langka untuk didapatkan dan pasti sangat mahal kalau dijual.
"Sayang, buka bra nya ya." ujar Pak Andi.
Muti pun mengangguk tanda setuju, lalu tangan Pak Andi meraih kaitan bra yang terletak di bagian belakang. Dan terpampanglah dua gundukan daging berwarna putih nan mulus dengan dua buah tonjolan berwarna coklat yang tegang. Pak Andi spontan kagum atas keindahan buah dada yang menjadi impian setiap lelaki ini, ukurannya tak terlalu besar namun pas, dihiasi oleh kedua putting yang sedang tegak karena terangsang.

Tak tahan Pak Andi pun menurunkan celananya dan sempaknya, terpampanglah penis berwarna hitam dan berurat yang cukup besar. Muti pun spontan menutup mata, namun segera Pak Andi minta untuk melihat penisnya.
"Nah, Muti, ini namanya kontol. hihi." ujar Pak Andi.
"Iya pak.. Muti dah tau." ujar Muti.
"Udah pernah pegang belum?" ujar Pak Andi.
"Mmh.. belum pak." ujar Muti.
"Coba pegang sayang." ujar Pak Andi.
Lalu tangan Muti diarahkan ke penis Pak Andi, dan Muti mulai menyentuhnya. Terlihat Pak Andi melenguh saat penisnya disentuh bahkan dikocok oleh seorang gadis cantik. Pak Andi pun mengajak Muti duduk, mereka berdua duduk berdampingan dengan tangan Muti masih memainkan penis Pak Andi. segera saja tangan kiri Pak Andi memainkan payudara Muti yang sudah tak terlindungi apapun, dan mulutnya kemudian menyusu bagai seorang baru yang kehausan. Terlihat pemandangan seorang perempuan cantik yang topless hanya memakai jilbab dan rok putih dengan bapak-bapak yang sudah tak memakai celana. Si wanita memainkan penis si bapak sementara si bapak menyusu ke si wanita. Terkadang si bapak mencium bibir si wanita dan menikmati kecantikannya. Lalu setelah 15 menit mereka menikmati hal itu Pak Andi pun tidak tahan.
"Aaaaaahhhhh.. Muti saya mau keluar....."
Mendengar itu spontan saja tangan Muti melepaskan penis Pak Andi. Pak Andi kemudian mengarahkan penisnya ke arah Muti. Dan crot.. 5 kali tembakan sperma mengenai perut payudara dan jilbab Muti.
"Iiiihhh.. Bapak... Bau dan lengket.." ujar Muti.
"Hihi.. maaf ya Mut, habis dah seminggu gak dikeluarin. Bapak lega banget." ujar Pak Andi.
"Ah.. iya pak. Aku harus mandi nih kalau gini." ujar Muti.
"Ya tenang aja, bapak ada alat mandi, kamu bisa mandi di sana." ujar Pak Andi sambil menunjuk kamar mandi kantornya.
"Iya pak." Muti pun segera berdiri dan mengelap sperma di tubuhnya dengan tisu.
"Sayang kamu lagi mens, kalau nggak bapak bisa puasin kamu. hihi." ujar Pak Andi.
Muti pun lalu mandi dan memakai pakaiannya lagi. Pak Andi tersenyum penuh kemenangan sore itu,

loading...