Cerita Seks : Noura XXX

[​IMG]

[​IMG]



Noura

[​IMG]

Nina Septiani

[​IMG]

Ussiy Fauziah

[​IMG]

Laili Meutia

[​IMG]

Asyifa Sasa

Mobil Avanza itu melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri tol Cipularang. Di dalamnya ada 4 orang bidadari bercakap-cakap dan bercengkerama satu sama lain. Ussiy, Sasa, Nina dan Laili, mereka berempat adalah personel Noura, grup vokal yang terdiri dari 4 hijaber cantik. Mereka berempat sedang menuju kota Bandung tempat mereka akan menginap hari itu. Noura dijadwalkan untuk tampil dalam sebuah konser amal yang diadakan oleh salah satu lembaga kemanusiaan. Hari itu mereka pergi berempat dari Jakarta via tol cipularang. Diantara mereka yang paling tua adalah Nina, Nina bisa dibilang mahmud karena baru mempunyai satu anak. Wajah Nina sangat imut walau badannya tidak terlalu tinggi. Lalu setelah Nina ada Ussiy yang baru menikah 2 minggu yang lalu. Bisa dibilang Ussiy baru selesai bulan madu dengan suaminya. Suami Nina dan Ussiy tidak ikut menemani dikarenakan ada pekerjaan di Jakarta. Lalu ada Sasa dan Laili dua daun muda yang masih perawan. Mereka berempat sedang meniti karir dalam bidang musik religi, dengan modal hijab dan kecantikan Noura semakin terkenal di dunia musik.

"Cie.... penganten baru, gimana rasanya malam pertama?" Ujar Laili menggoda Ussiy. "Ihhh.. dasar, makanya cepet nikah biar tau rasanya" bales Ussiy sambil tersenyum malu. "Mas Fuad kuat berapa ronde mbak pas malam pertama?" tanya Sasa kepada Ussiy. "Hush, kamu kok nanya begitu Sa? Gak sopan" Ujar Nina mengigatkan Sasa. "Iya deh maaf," Jawab Sasa. "Tau gak, suamiku pas malam pertama baru nyentuhin itunya ke anunya aku udah klimaks coba, tapi aku seneng berarti dia masih perjaka tulen.. hihi" cerita Ussiy. "Ya Allah, Ussiy malah cerita begitu, gak boleh tau aib," ujar Nina menasehati. "Mbak Nina jangan terlalu kaku ah, anggap aja ini sex education.. hihi." Ujar Laili membela Ussiy. "Terusin aja mbak ceritanya!" Ujar Sasa bersemangat. "Kalian ini ya, dikasih tahu malah ngeyel!" Ujar Nina dengan nada kesal. "Setelah istirahat dulu berhubung Mas Fuadnya masih lemes, beberapa waktu kemudian aku rangsang lagi, setelah penisnya tegang lagi aku masukin lagi ke dalam vaginaku. Kali ini masuk, mas Fuad sudah bisa mengontrol pikirannya, sampai akhirnya aku diperawani dia. Tau ga sih, sakit banget. Untungnya cuma beberapa saat, setelah itu dia genjot vaginaku, dan enak banget. Sayangnya dia keluar duluan lagi sebelum aku klimaks, spermanya memenuhi rahimku. Tapi gak apa-apa, wajar namanya juga pemula.. hihi" cerita Ussiy.

Rona wajah Sasa dan Laili terlihat agak berubah, "Tuh kan, kalian berdua horny ya? Apa gue bilang." Kata Nina. "Eh nggak kok, siapa yang horny, kita cuma menghayati ceritanya mbak Ussiy" ujar Laili nakal. "Duh.. kapan ya aku bisa bercinta kayak mbak Ussiy." Ujar Sasa. Dengan tiba-tiba Laili meremas Payudara Sasa dibalik hijabnya. "Awww!" Sasa terpekik kaget. Laili hanya tertawa-tawa, mereka semua faham apa yang dilakukan Laili hanya bercanda, dan tidak didasari nafsu. Sasa pun membalas, gantian dia meremas-remas payudara Laili. "Awas ya kamu!" ancam Sasa. "Kalian ya kebiasaan, becandanya berbahaya.. hihi.." Kata Ussiy yang duduk di jok depan bersama Nina yang sedang menyetir. "Iihh... putingnya Laili dah keras nih.. hihi" kata Sasa. "Yee.. puting kamu juga udah keras Sa.." balas Laili.. "Udah-udah, nanti kelepasan.." Ujar Nina personil yang paling senior diantara mereka. "Iya ih, kalian ini kayak lesbi.." kata Ussiy.. Sasa dan Laili pun menghentikan kelakuan mesumnya. "Sasa tanggung jawab ah, aku jadi horny kan." Ujar Laili. Tiba-tiba Sasa mengeluarkan sesuatu dari tasnya, "Ya ampun Sa, kamu punya ginian" Laili kaget melihat Dildo yang dikeluarkan Sasa. "Ternyata kamu binal ya Sa" ujar Nina. "Ya mbak, walau berhijab juga kita kan punya nafsu, hehe.. nih pakai dildo gue." ujar Sasa kepada Laili.

Dengan malu-malu perlahan-lahan Laili mengambil Dildo lalu memasukan ke dalam celana longgarnya. "Aaaaahhh.... sssssssshhhhhhh.... aaaaahhhhhh.... honey......" desah Laili sambil memegang Dildo di tangan kanan dan melihat layar hp di tangan kanannya. Sasa pun penasaran apa yang dilihat Laili, "cie.... itu pacar kamu ya?" tanya Sasa... "Aaaaahhh.... ssssshhhhh..... iya... aku membayangkan dia yg lagi genjot aku... ssshhhh.. aaaahhhh...." Ujar Laili.. permainan Dildo Laili semakin kencang, Laili pun mendekati klimaksnya, "Aaaaaaahhhh.... aaaahhhh.... aku sampai....." dan crt.... crt..... cairan cinta pun tumpah banyak mengotori celana dan sedikit mengenai jok mobil.. Laili pun lemas namun lega...."Edan kamu Laili, untuk di mobil ini cewek semua, kalau ada cowok pasti udah nafsu liat kamu, hihihi".. "Iya nih, jorok kamu, pipis enak di dalam mobil" kata Sasa.. Laili tidak mempedulikan hal itu, hasratnya sudah terpenuhi walau hanya dengan fantasi.

Begitulah perilaku gadis-gadis berhijab yang tentu tidak mungkin terekspose oleh media. Tak terasa mereka pun sudah memasuki pintu tol Cileunyi. Laili dan Sasa tertidur karena lemas. Ussiy asyik bbman dengan suaminya, sementara Nina fokus menyetir. "Hei kalian bangun, udah sampai Bandung nih.." kata Nina. Sasa dan Laili pun terbangun, "Terus kita nginep dimana kak Nina?" tanya Laili. "kita ke hotel di daerah jatinangor, tapi aku mau ke rumah temenku dulu ya di Tanjungsari. Kalian mau ikut?" tanya Nina. "Hhm... jauh gak Kak Nina?" tanya Sasa. "Lumayan jauh, karena di pelosok." jawab Nina. "Tapi ini udah mau magrib Nin." ujar Ussiy. "Aku cuma bentar kok kesananya, mau ngasih sesuatu. Perkiraan jam 9 malam kita udah di hotel kok" ujar Nina. "Ok.. kita harus kompak, kita semua ikut kak Nina.." ujar Laili. Mereka pun terus berjalan sampai tiba di daerah pedesaan. Infrastruktur pedesaan yang masih terbatas membuat penerangan kurang. Jalanan pun sepi dan sudah jarang sekali orang yang lewat. Perkampungan warga masih sekitar 5 km lagi. "Kak sebenarnya mau ke siapa sih? Kok ke pelosok begini?" tanya Sasa. "Aku mau ke rumah temenku pas kuliah dulu, dia memang orang sini, selepas kuliah dia mengabdi di desanya". Dor! Tiba-tiba terdengar letusan tembakan, mobil pun mulai oleng, ternyata ban mobil yang dikendarai mereka berempat pecah dikarenakan tembakan tersebut. Mobil pun berhenti, samar-samar terlihat 4 orang dengan menggunakan penutup wajah. Lantas apa yang akan terjadi selanjutnya?

[​IMG]

[​IMG]
Nina

[​IMG]
Laili

[​IMG]
Ussiy

[​IMG]
Sasa


Asap rokok mengepul di rumah sederhana tipe 21 di tengah terangnya lampu neon. Setumpuk kartu dan botol-botol bir berserakan di meja. Rumah itu adalah tempat tinggal dari Asep, peninggalan kedua orang tuanya yang telah meninggal. Anehnya rumah itu terletak jauh dari perkampungan, kurang lebih 1 km jaraknya. Entah kenapa orang tua Asep membangun rumah di tempat itu, namun rumah itu akhirnya jadi sangat strategis untuk jadi tempat persembunyian. Asep sendiri seorang residivis kasus perampokan di Jakarta. Warga kampung terdekat sudah mengenal track record Asep, namun mereka tidak mengusiknya mengingat Asep tidak pernah membuat masalah di desa. Kehidupan rumah tangga Asep hancur semenjak di penjara, istrinya kawin lagi dengan orang lain dan membawa anaknya. Asep kecewa dan sudah malas menemui istrinya lagi. Pasca keluar dari penjara Asep kembali ke kampungnya setelah 2 tahun malang melintang dalam dunia gelap di Jakarta. Asep sebenarnya ingin insyaf, dia kelola lahan yang ada di sebelah rumahnya ditanami jagung, Asep hidup dari berkebun. Sayangnya kebiasaan minum-minum Asep tak dapat dihentikan, akibatnya uang hasil berkebun cepat habis hanya untuk beli minuman beralkohol, Asep gak mau ambil resiko dengan minum oplosan. Hal ini membuatnya memutar otak bagaimana caranya mendapatkan uang tambahan. Akhirnya iblis menggoda Asep untuk kembali merampok, kebetulan senjata api dan peluru masih Asep simpan. Asep pun berniat melaksanakan aksinya, tentu dia tidak melakukan sendiri kalau mau aksinya berjalan lancar. Dia pun mengajak Ujang, Roni dan Dimas, mereka bertiga adalah anak muda tanggung yang kesehariannya menjadi tukang parkir di pasar tanjungsari. Awalnya mereka menolak karena takut ditangkap aparat, namun Asep meyakinkan aksinya kali ini tidak akan ketahuan polisi, dan mereka akan dapat uang tambahan. Namanya anak muda masih senang coba-coba segala sesuatu, mereka pun ikut Asep karena ingin dapat pengalaman baru. Sayangnya pengalaman itu adalah pengalaman kriminal.

"Jadi gimana kang rencana kita teh?" tanya Dimas kepada Asep. "Nanti malam kita akan ngebegal motor, motor dan dompet kita ambil, tapi kita jangan bunuh orangnya. Kalau dia ngelawan pukulin aja, pistol yang gue punya buat nakut-nakutin dia aja supaya gak ngelawan." ujar Asep menjelaskan. "Ok kang saya faham, terus pembagian tugasnya gimana?" tanya Ujang. "Gini, nanti si Roni bonceng saya pakai motor, kamu bareng Dimas jang. Kita pepet motor yang mau kita begal, saya nanti nembak ke atas buat nakut-nakutin korban. Setelah itu ya kita ambil motor dan dompetnya." ujar Asep menjelaskan. "Siap kang!" ujar Roni. Malam pun tiba, kurang lebih jam 7 malam mereka bersiap-siap untuk melaksanakan aksi mereka. Mereka berangkat dari rumah Asep menuju jalanan yang terkenal sepi untuk melaksanakan aksi mereka. Namun baru saja mereka akan pergi terlihat dari kejauhan lampu mobil. "Kang, aya mobil tuh, mending kita rampok pengendara mobil itu aja supaya gak cape.. hehe.." usul Ujang. Asep terlihat berfikir, usul Asep bagus juga, walau di luar rencana. Ah, persetan dengan rencana membegal, yang penting ada peluang di depan mata. "Ide bagus jang. Ayo kita eksekusi." kata Asep. "Jadi kita ga jadi begal motor bos?" tanya Roni. "Ini ada mangsa yang lebih besar bos, bawa mobil, duitnya pasti lebih banyak. Cepet pakai topeng skinya, biar identitas kita ga diketahui." kata Asep. Mobil pun semakin mendekat, mereka bersembunyi di balik semak-semak dengan topeng skinya. Kurang lebih jarang 30 meter, Asep menembakkan pistolnya ke ban belakang mobil itu, dan membuat bannya pecah dan mobil itu pun oleng. Mobil itu pun berhenti mereka berempat bergegas mendekati mobil itu. "Buka pintunya! atau kami dobrak dan kalian kami tembak!"

Asep berdiri di depan pintu sambil menodongkan pistol, sementara Ujang, Dimas dan Roni berdiri di 3 pintu lainnya. Perlahan-lahan pintu depan terbuka, Asep pun segera menodongkan pistolnya kepada Nina. Terlihat wajah Nina sudah pucat dan ketakutan, Asep pun agak kaget, ternyata yang dia hadapi adalah seorang perempuan berhijab yang sangat cantik. "Woi, awewe euy, geulis!" seru Asep kepada kawanannya. Asep segera menarik tangan Nina keluar mobil, Nina tidak melawan dan tidak berani berteriak karena takut pelatuk pistol ditembakkan Asep kepadanya. Nina hanya bisa menangis, air matanya perlahan-lahan keluar, menyadari dirinya dalam situasi yang belum pernah ia rasakan dan sama sekali ia tak menduganya. Tangan kiri Nina digenggam Asep sementara tangan kanan Asep menodongkan pistol. Lalu dilihatnya ke dalam mobil, ternyata ada 3 orang lagi perempuan berhijab yang sama cantiknya dengan Nina. "Woi! Ada 3 lagi, kalian bawa mereka masing-masing satu orang.!" Dengan serempak Ujang, Roni dan Dimas membuka pintu mobil yang tersisa. Mereka bertiga pun terpana melihat 3 orang bidadari yang mereka bawa. Ujang menarik segera mengeluarkan Ussiy dari mobil, Dimas mengeluarkan Sasa sementara Roni mengeluarkan Ussiy. Nina, Ussiy, Sasa dan Laili terlihat sudah pasrah dan takut, memang ancaman pistol sangat ampuh menaklukan mereka. Terlebih mereka berempat adalah anak dari kalangan sosialita yang terbiasa hidup nyaman dan tidak terbiasa menghadapi tantangan semacam ini. Yang bisa mereka lakukan berempat hanya menangis, menyesali mengapa hal ini terjadi. Penyesalan terbesar terutama dirasakan Nina, karena dialah yang mengajak mereka ke tempat ini. Nina menyesal mengapa tidak langsung ke hotel saja. Namun nasi sudah menjadi bubur, ke empat perempuan ini sudah berada di sarang penyamun. "Kang, cantik-cantik euy awewena! Asli cantik banget!" seru Ujang. "Ayo kita bawa dulu mereka ke dalam rumah!" kata Asep. Jarak dari rumah ke mobil hanya sekitar 30 meter, namun dasar lelaki tanpa instruksi sebelumnya mereka memanfaatkan kesempatan. Kapan lagi mereka bisa menggandeng gadis cantik berhijab, selama berjalan ke rumah tangan mereka nakal, mencubit pantat, meremas payudara, bahkan Ujang berusaha untuk mencium Ussiy. Penis mereka pun semua sudah menegang walau masih bersembunyi di balik celana jins mereka. Hal ini membuat 4 bidadari ini mempunyai firasat buruk bahwa mereka tidak hanya sekedar akan merampok, namun akan melakukan hal yang lebih jauh.

Malam itu menjadi hari keberuntungan bagi Asep dan kawan-kawannya. 4 orang gadis cantik berhijab duduk bersandar pada sebuah dinding di hdapan mereka. Mereka menunduk sambil sesenggukan menangis. Mereka pun geram dan marah kepada para perampok ini, namun apa daya mereka belum berani mengekspresikannya. Pakaian mereka penuh dengan keringat karena kelelahan dan kecemasan. Nina menggunakan rok hitam, kemeja kotak-kotak lengan panjang dan hijab pink. Ussiy mengenakan celana panjang berbahan kain, kaos putih lengan panjang dan hijab biru. Sementara Sasa dan Laili menggunakan celana pensil berbahan jins, kaos yang cukup ketat dan hijab yang dililitkan ke leher. Penampilan Sasa dan Laili ini yang paling menantang dibanding yang lain. Baju yang ketat membuat Payudara Sasa dan Laili sangat menonjol membuat mereka bisa disebut jilboob, terlebih celana pensil mereka membuat pantat mereka berdua tercetak dengan jelas. Memang 4 orang personil Nuoura ukuran payudaranya tidak ada yang di atas rata-rata, namun hal itu tidak mengurangi keseksian mereka.

Asep, Ujang, Roni dan Dimas berdiri di hadapan 4 gadis itu dengan masih menggunakan topeng ski. "Hei, udah berhenti nangisnya! Sini liat gue!" bentak Asep kepada mereka. Mereka pun berusaha menghentikan tangisnya dan mulai menatap wajah Asep. "Kalian bertiga, cepat ambil semua tas teteh-teteh ini yang masih ada di mobil!" perintah Asep kepada ketiga anak buahnya. Setelah ketiga anak buahnya pergi, Asep pun mendekati Noura, telapak tangannya berusaha mengelus wajah Nina, namun langsung tangan Nina menepis tangan Asep. Asep pun berusaha melakukan hal yang sama terhadap Ussiy, Sasa dan Laili, namun dengan tiba-tiba Laili melayangkan sebuah pukulan mengarah ke wajah Asep. "Eit, jangan macam-macam, dengan mudah menangkap tinju Laili. Tiba-tiba Laili pun meludahi wajah Asep, kali ini mengenai wajahnya. Asep kemudian menyeka wajahnya dari ludah Laili, namun dia tidak emosi. Tangan kiri Asep dengan tiba-tiba meremas payudara kiri Laili, "Awww", teriak Laili sambil berusaha menyingkirkan tangan Asep dari payudaranya. "Bajingan kamu!" bentak Sasa kepada Asep. "Eh, kok teteh berjilbab tapi omongannya kasar, gak boleh, hehe" goda Asep. Dengan proporsi 4 lawan satu orang sebenarnya mereka bisa saja mencoba untuk kabur, namun lagi-lagi mereka tidak berani karena pistol yang tergantung di pinggang Asep.

Asep mundur beberapa langkah dari mereka, "Gini teteh-teteh yang cantik, kenalin saya Asep, saya ga bakal mencelakakan teteh-teteh semua asal teteh mau menuruti kemauan kita.. hehe" ujar Asep. "Lepasin kami! Silahkan kalau kalian mau ambil harta kami! Tapi bebasin kami sekarang juga!" Ussiy angkat bicara. "Hehe.. Kita emang mau merampok harta teteh, tapi kita juga pengen senang-senang sama Teteh.. hehe.." ujar Asep. "Dasar kurang ajar! bangsat kamu!" ujar Nina, mereka berempat sudah tahu apa yang dimaksud oleh Asep. "Ya gini aja teh, mau pilih suka sama suka, kami enak teteh enak, kan jadi sama-sama enak. haha." ujar Asep sambil ketawa. "Najis! Gak sudi kami disentuh oleh jahannam macam kalian!" ujar Sasa angkat bicara. "Ih, teteh-teteh kok kasar omongannya, malu tuh sama jilbabnya. Ya terserah sih, kalau gak mau sama-sama enak, berarti terpaksa akan kami perkosa teteh-teteh. Tapi tenang kok, diperkosa ujung-ujungnya tetep enak juga.. dijamin ketagihan.. hahaha" ujar Asep puas..

Ujang, Dimas, dan Roni sudah masuk kembali ke dalam rumah itu dengan membawa seluruh tas dan koper dari Noura. "Ini kang barang-barangnya." kata Ujang sambil meletakannya di depan Asep. "Ok, sekarang kalian bongkar semua isinya, kita lihat di dalamnya ada apa aja." perintah Asep. Ketiga anak buahnya segera mengeluarkan isi tas dan koper keempat gadis itu. "Bos liat ini!" ujar Ujang sambil menunjukan majalah dan CD yang bergambar keempat gadis itu. "Wah.. ternyata teteh-teteh artis ya, pantes cantik banget" ujar Asep. "Wah, asyik kang, kita bisa ewean sama artis, berkerudung lagi haha.." ujar Roni.. Mendengar itu keempat gadis itu semakin tegang. Selain CD dan tabloid, dari tasnya para perampok itu mendapatkan dompet, handphone, laptop, make up dan pakaian untuk show esok hari. Lalu Asep pun memeriksa satu per satu dompet mereka. "Hhm... jadi nama teteh yang ini Nina ya, wah udah nikah dan punya anak, berarti udah ga perawan.. hihi" ujar Asep sambil melihat foto anak dan suami yang terdapat di dompet Nina. "Kalau teteh yang ini namanya Ussiy ya, wah kayaknya baru nikah nih" ujar Asep sambil melihat foto pernikahan Ussiy yang ada di dompetnya. "Nah, dua lagi namanya neng Sasa dan neng Laili, wah masih perawan. Eneng berdua masih perawan atau udah jebol?" tanya Asep. "Masih om" jawab Laili dengan spontan. "Wah asyik kang, lumayan, kita dapat satu mahmud, satu pengantin baru sama dua perawan, kita pesta seks malam ini kang.." ujar Dimas bersemangat. "Diem kamu, emang saya bakal ngizinin kamu ngewe teteh-teteh ini." kata Asep. "Yah bos, masa saya ga dikasih sih, hihi" ujar Dimas diiringi tawa kawan-kawannya.

"Baik teteh-teteh, jadi keputusannya gimana nih? Mau kita senang-senang bareng atau teteh-teteh kami akan perkosa?" tanya Asep. Nina, Ussiy, Laili dan Sasa saling berpandangan satu sama lain. Terlihat mereka berdiskusi dengan suara yang tidak bisa disengar oleh Asep dan kawan-kawan. "Gimana nih mbak Nina, kita harus ngapain, aku gak mau diperkosa mereka." Ujar Laili kepada Nina dengan nada berbisik. "Kita harus tetap tenang, kita harus bisa kabur dari tempat ini." ujar Ussiy kepada kawan-kawannya. "Tapi gimana caranya mbak?" tanya Sasa. "Baik aku punya ide, gimana kalau aku saja yang melayani mereka berempat, dengan syarat mereka gak akan nyentuh kalian bertiga." ujar Nina. Ussiy, Laili dan Sasa terlihat kaget mendengar hal itu. "Kalau mbak Nina mau begitu, aku juga ikut, soalnya aku dan mbak Nina kan udah gak perawan. Kalian berdua masih perawan. Biar aku dan mbak Nina saja yang memuaskan mereka, asal jangan sampai mereka mengambil keperawanan kalian berdua. ujar Ussiy. "Jangan mbak, kita harus kompak, kalau mereka mau memperkosa kita ya semuanya harus diperkosa, ini wujud setiakawan kita." kata Laili. "Iya mbak, biarlah perawan kami hilang, mungkin memang sudah nasib kami."Ujar Sasa pasrah. "Kalian jangan bodoh! nanti gimana dengan suami atau pacar kalian kalau tahu kalian dah gak perawan gara2 para begundal itu?" ujar Nina. "Ok, bentar, sebelum bahas itu mereka minta kita memutuskan, mau sukarela bercinta dengan mereka atau kita lawan dan mereka perkosa kita." ujar Ussiy. "Yah mbak, mau sukarela atau diperkosa intinya mereka akan bercinta dengan kita. Menurutku sih mending sekalian sukarela aja," usul Sasa. "Hush, lalu mau dikemanakan harga diri kita Sa kalau begitu? mereka bakal anggap kita cewek murahan?" bantah Laili. "Persetan dengan harga diri, diperkosapun nanti kalian akan merintih kenikmatan, karena memang itu adalah dorongan biologis." bantah Sasa lagi. "Sudah-sudah, karena aku paling tua aku saja yang putuskan. Kita akan layani mereka, dan pesta seks dengan mereka." ujar Nina. "Apa? Serius kak?" tanya Ussiy setengah percaya. "Mereka itu penjahat Siy, aku sadar kalau aku melarang mereka menikmati Laili dan Sasa pasti mereka akan ingkar pada komitmen. Soalnya gak mungkin mereka mau begitu saja melepaskan dua perawan. Kalau kita melawan pun percuma, mereka akan tetep memperkosa kita dan ujung-ujungnya kita pun akan tetap menikmatinya." ujar Nina. "Kak aku gak mau.." Ujar Laili. "Sabar ya, menyesali pun gak ada gunanya, toh kita sudah terjebak di sini. Namun ini gak gratis, kita akan minta mereka gak mengambil barang-barang kita dan melepaskan kita besok" ujar Nina.

"Woi ngomongin apa sih! lama banget!" bentak Asep kepada mereka berempat. Nina pun berdiri berhadapan dengan para perampok itu. Sambil meletakan tangan di atas pinggang Nina bilang, "Ok, kita akan pesta sex malam ini." kata Nina. 4 orang penjahat itu terlihat sumringah. "Tapi ada syaratnya, kalian ga boleh mengambil barang-barang berharga kami, dan harus melepaskan kami esok hari." Ujar Nina. "Hhm.. ok, kami minta 500 ribu saja buat minum-minum, sisanya kami gak akan ambil." tawar Asep. "Ok, deal.." Ujar Nina..

Akhirnya Nina memutuskan bahwa mereka akan melakukan pesta seks, menurut Nina ini pilihan paling rasional dibanding pilihan lain. Para penjahat itu pun membuka topeng skinya masing-masing. Wajah ke empat perampok ini tidak ada yang menarik, di bawah standar semua. Asep mempunyai badan yang lumayan kekar, sementara Ujang dan Roni postur tubuhnya kurus kering. Hanya Dimas yang bertubuh tambun. Yang jelas ke empat perampok ini tak ada satupun yang menarik perhatian keempat dara itu. Jika disandingkan antara masing-masing mereka dengan Nina, Ussiy, Laili dan Sasa, akan terlihat seperti beauty and the beast, sangat kontras sekali.

"Baik teteh-teteh yang cantik, sekarang sebelum kita bersenang-senang, kami minta teteh-teteh pada mandi dulu. Terus pakai baju bagus yang teteh bawa di koper, dan pakai make up yang bagus. Pokoknya teteh-teteh harus tampil secantik-cantiknya. Anggap saja teteh-teteh ini semua pengantin, dan kita semua pengantin prianya.. hahaha.." ujar Asep sambil tertawa puas. "Mantap kang, tapi jangan terlalu lama teh, udah sange nih.. pengen ngewe teteh-teteh.. haha" timpal Ujang yang disambut gelak tawa rekan-rekannya. "Ok, tunggu ya, kita akan gantian mandi, tapi jangan ada yang ngintip." ujar Nina. Dalam hati Nina kesal karena perampok ini banyak maunya, "KAmi gak akan ngintip, nanti setelah mandi puin teteh semua akan telanjang kok di hadapan kita semua. haha:" ujar Dimas. "Setelah mandi nanti teteh-teteh akan mandi peju kita." ujar Roni puas.

Nina pun melangkah ke kamar mandi berukuran 3x2 meter dengan membawa pakaian yang seharusnya digunakan esok untuk tampil. 10 menit kemudian keluarlah Nina dengan sudah mengenakan baju show nya. Nina pun mulai merias dirinya sendiri dengan make up yang di bawanya. Selanjutnya Ussiy, Laili dan Sasa melakukan hal yang sama dengan Nina, Ujang Roni dan Dimas mengawasi mereka sambil menikmati kecantikan mereka. Sementara Asep duduk-duduk di luar rumah sambil merokok . Satu jam kemudian, "Kang, udah siap semua teteh-tetehnya." kata Roni memanggil Asep. Asep masuk ke dalam rumah dan terpukau, di hadapannya sudah ada bidadari-bidadari cantik. Merek menggunakan pakaian seragam karena memang digunakan untuk tampil bernynayi. Rok berwarna pink, baju batasan berwarna merah yang tidak ketat namun tidak juga longgar. Jilbab pink yang digunakan diikat ala hijaber era kekinian. Wajah mereka dibalut bedak dan bibir mereka dihiasi lipstik, benar-benar seperti pengantin yang akan melaksanakan akad. Sekujur tubuh mereka pun sangat wangi. Asep dan rekan-rekannya sudah ngaceng melihat Nina, Ussiy, Laili dan Sasa, mereka pun mulai menggoda dengan senyuman-senyuman centilnya. "Ayo akang-akang, puasin kita dong.." kata Nina sambil mendesah manja. "Haha... kalian berempat bener-bener bikin kami sange.. " ujar Asep. "Ayo bos, kita garap mereka, dah ga tahan nih.." pinta Roni..

"Kita ada berempat, dan teteh-teteh ini juga ada 4, jadi kita bisa jadi pasangan masing-masing teteh ini. Karena saya bosnya, maka saya akan memilih siapa yang akan jadi pasangan saya. Nanti setelah itu, kalian silahkan diundi, yang menang dapat giliran pertama, yang kalah berarti dapat sisa yang terakhir." ujar Asep menjelaskan. "Siap bos!" kata Ujang dengan semangat. Asep pun mulai mendekati keempat dara itu, pertama kepada Nina, lalu Asep meremas-remas payudara Nina dengan tangannya. Setelah itu payudara Ussiy, lalu Laili dan terakhir Sasa. Keempat gadis itu hanya mendesah kecil saat payudaranya diremas-remas Asep. "Hhm... payudara yang paling montok Nina dan Laili, Nina lebih kenyal karena baru punya anak. Kalau Laili Payudaranya besar dan masih sekal, belum disentuh sama laki-laki. Ah gue milih perawan aja." Ujar Asep di dalam hatinya. "Ok, Laili, kamu sama akang." ujar Asep. Lalu Asep pun menggandeng Laili layaknya pasangan suami istri, walau Asep dan Laili lebih terlihat seperti om-om dan simpanannya. Berdasarkan hasil undian selanjutnya Ujang yang memilih, pilihan Ujang jatuh pada Nina, menurut Ujang wajah Nina paling imut walau pun sudah jadi mahmud. Lalu dilanjut Roni yang memilih Ussiy, dan Dima karena sudah tidak ada pilihan memilih Sasa sebagai pasangannya.

Mereka pun sudah bergandengan masing-masing dengan pasangannya. "Ok, siapa yang mau jadi pertama kali main, nanti kita tonton bareng-bareng. Setelah itu gantian?" tanya Asep. "Aku aja kang.." tiba-tiba Nina mengacung. Ujang yang menjadi pasangan Nina, tak menyangka dia yang akan giliran pertama. "Ayo teh!" kata Ujang kepada Nina. Nina pun digandeng Ujang ke tengah ruangan dengan alas karpet seadanya. Sementara 3 pasangan lainnya siap-siap menyaksikan adegan liver percintaan antara seorang preman pasar dengan artis cantik berhijab. "Camera.. Roll.. Action!" ujar Asep meniru-aba-aba sutradara, sambil merekam dengan kamera hpnya. Sementara Roni dan Dimas sambil menonton merek asyik grepe-grepe payudara dan pantat Ussiy dan Sasa.

Adegan hot pun dimulai, "Sayang, cium aku.." kata Nina dengan nada mendesah manja. Ujang pun langsung menyosor bibir Nina. "mmmhhh... mmmmhhh...." lidah mereka saling beradu.. namun terlihat bahwa Ujang masih sangat canggung, berbeda halnya dengan Nina yang sudah pengalaman dalam hal ini. Nina sudah punya jurus yang ia selalu membuat suaminya cepat ejakulasi. "eemmmmhhh... eeemmmmhhhh.." ciuman antara Nina dan Ujang masih berlangsung dalam keadaan masih berdiri. Sambil berciuman, Ujang meremas-remas payudara Nina dari luar bajunya.. "Uh.... kenyalnya susu teteh..." ujar Ujang memuji kekenyalan susu Nina. "Akang mau nenen, sini kang. ASI ku masih penuh, seoalnya belum diminum anakku lagi." Kata Nina dengan nada menggoda. "Mau teh, mau banget.." kata Ujang. Sini atuh, bukain baju Nina", kata Nina menantang. Perlahan-lahan Ujang pun membuka baju bagian atas dari Nina. Tersingkaplah tubuh mungil nan sintal milik Nina. Kulitnya mulus dan halus, payudaranya masih tertutup bra putihnya seakan-akan menantang untuk segera dibuka. Perlahan Ujang membuka kait bra Nina yang terletak di punggungnya. Terpampanglah sebuah payudara yang indah yang membutakan nafsu kaum adam yang melihatnya. "Aduh teteh, kulitnya putih, halus banget. susunya indah banget euy.." kata Ujang penuh nafsu. "Ujang, nenen dulu ya sama teteh,"ujar Nina seraya menyodorkan buah dadanya. Dengan sangat bernafsu Ujang pun meremas-remas payudara Nina. "Aahhhh... teh...... kenyal banget......" penis Ujang sudah sangat tegang dibalik celananya.. Tak tahan lagi, dengan tergesa-gesa Ujang membuka baju dan celananya, terlihat sesuatu menyembul dibalik celana dalamnya. Ujang pun membuka sempaknya, muncullah penis Ujang dengan ukuran standar orang Indonesia, penis yang masih perjaka. Berbeda dengan Ujang yang masih perjaka ting-ting, Nina dibalik jilbannya sudah sangat lihai memuaskan suaminya. Hasilnya bisa ditebak, Ujang pasti akan KO.

Ujang pun lalu nenen, "Aaahhh.. teteh.... ini susunya keluar..." ujar Ujang kagum. "Minum aja, itu ASI ku buat kamu.." kata Nina.. Sambil Ujang nenen, tangan Nina melakukan handjob kepada penis Ujang.. Para penonton sudah sangat bernafsu melihat adegan yang ditontonkan Ujang dan Nina. Asep pun merekam sambil memainkan penisnya. Roni dan Dimas sudah tidak sabar ingin menggarap Sasa dan Ussiy. 5 menit berlalu muka Ujang sudah belepotan dengan semprotan susu Nina. sementara ujang mulai keenakan dengan handjob yang dilakukan Nia. "Ujang, biar Nina service kamu ya" ujar Nina, lalu Nina berjongkok dan melakukan blowjob kepada Ujang.. "AArrggghhhh... sssshhh.... oooouuuuuhhhh... aaaaaaaahhhh..." Ujang mendesah sambil memegang kepada Nina.. ini blowjob pertama bagi Ujang, dan Nina langsung memakai jurus blowjob andalannya.. "Aaaahhh.. udah teh, nanti Ujang keluar..." baru dua menit namun Ujang sudah tdiak tahan.. "Ujang pengen masukin ke memek teteh.." kata Ujang, Nina pun mengangkan memperlihatkan memeknya yang baru dicukur. Nina hanya menyisakan jilbab yang masih terpasang, sementara yang lainnya sudah telanjang. Dengan segera Ujang memasukkan perlahan-lahan penisnya ke dalam memek Nina. "Aaaahhh... uuurrrggg.... teteh sempit memeknya... enak banget... aarrhh...." terlihat ekspresi Ujang merem melek keenakan membuat Nina semangat. "Ayo genjot jang, buat teteh puas.." ujar Nina menggoda Ujang.. Namun baru dua kali genjotan Ujang berhenti, "aduh teh... enak banget.. ujang mau keluar... " kata Ujang. Dengan tiba-tiba Nina mengeluarkan jurus goyangan andalannya.. "Ujang, rasain nih jurus rahasia teteh.." Nina menggoyangkan pinggulnya dengan sangat erotis sambil mendesah-desahn manja. Perpaduan antara wajah cantik, kesintalan tubuh, goyangan maut dan desahan erotis membuat Ujang akhirnya menyerah.. "AAaaaaaaahhh...... tetehhhhhhhhhhhhh........" crot... crot.... crot...... sekitar 10 kali penis Ujang berkejat kejat mengeluarkan sperma yang sangat kental ke dalam memek Nina, sampai-sampai sperma itu pun meluber keluar dari memek Nina.. Sesaat Ujang seperti melayang kehilangan kesadaran. Ujang sangat puas dan lemas.. dia ambruk di atas tubuh seksi Nina.

Tulang belulang Ujang terasa lepas, tubuhnya sangat ringan. Keringatnya membanjiri tubuhnya. "Ya Tuhan, ternyata inilah enaknya ngentot, enak banget euy.. Ujang ketagihan.. Apalagi sama teteh cantik kayak teh Nina.." kata Ujang dalam hati.. "Akang gimana, enak pisan ya barusan, iya teteh.. Ujang puas banget.." mereka berdua berciuman. "Hei Jang, baru gitu aja dah keluar kamu, liat teh Nina belum puas tuh.." Ujar Asep. "Ya maklum bos, saya kan perjaka ting ting." ujar Ujang. "Ayo jang.. kesini.. gantian yang lain.. "kata Roni. Ujang dan Nina pun bangun dan berjalan ke pinggir dengan tubuh telanjang masing-masing. Mereka berdua segera ke kamar mandi untuk membersihkan sperma, tentu sambil meneruskan bercinta di kamar mandi. Asep puas walau dengan durasi sebentar namun video Ujang dan Nina cukup hot. Giliran selanjutnya adalah Roni yang akan bercinta dengan Ussiy, sebelumnya Roni mengelap sisa-sisa sperma Ujang yang tersisa si karpet.
 
loading...