Cerita Seks : Pesta di Akhir Pekan 2

 Eci
 Dita

 Irma
 Dinda

“Anjrit, lagi? Wah gila ini mah”

“Yee bukan pesta atuh kalo cuman satu ronde, Sep” tukas Ari

“Mas Asep, kan tadi aku udah bilang, selama di villa ini kalian bebas make tubuh kita, jadi kalo kalian di sini sampe minggu sore ya kita bakal ngentot terus sampe kita pulang” jelas Eci dengan cuek.

Asep melongo. Dikiranya acara ngentot rame-rame tadi hanyalah salah satu acara selama di sini. Yah, acara buat malam sementara siangnya mereka ngapain gitu. Tapi terus-terusan ngentot? Gila! Yah, pikir Asep, memang mereka sudah terlanjur gila, tapi sebesar apapun nafsu mereka, mana mungkin stamina mereka bisa mengimbangi

Dinda yang melihat ekspresi Asep tahu apa yang ada di pikirannya.

“Kenapa Sep? Masa cuman kuat sekali aja?”

“Y-yaa kuat aja sih, cuman masa langsung gak ada istirahatnya” jawab Asep yang grogi oleh mata indah Dinda yang menatapnya

“Asep tadi udah minum jamunya Mas Jejen kan? Kalo udah pasti gak masalah, percaya deh”

Asep merenung, oh jadi jamunya Jejen tadi itu obat kuat? Wah parah, dirinya dicekoki obat tanpa persetujuannya. Bagaimana kalau ada efek samping? Memangnya ampuh sampai tiga hari?

“Tenang aja Sep, gak akan apa-apa, percaya deh, kita mah udah sering kok” Dinda meyakinkan, tak sadar kalau perkataanya barusan soal ‘sudah sering’ menohok Asep yang untungnya masih melamun

“Lagian kalo waktunya tidur atau makan ya kita brenti dulu kali, tewas atuh ngewe terus non-stop mah” lanjut Dinda sambil tertawa memecah lamunan Asep.


“Mpok, jadi nih games-nya?” tanya Dita yang sudah selesai mengelap keringat di wajahnya

“Jadi dongs...ayo semua cowok duduk yang manis di sofa yang itu yaa”

Para cowok masih bingung tapi menuruti perintah Eci.

“Okeeh, kita rotasi ya pasangannya. Aku ama mas Jejen, Irma ama Ari, Dinda ama Reza, Dita kamu ama mas Asep yaa”

Asep sedikit kecewa dia tidak mendapat Dinda lagi, tapi ditutupinya agar yang lain tidak iri dan curiga.

“Asik, meunang memek si Dinceu euy” celetuk Reza sambil tertawa

“Awas siah Reza ngecrot duluan sebelum aku” timpal Dinda

Keduanya saling ledek tanpa canggung, Asep merasa cemburu tapi direlakannya.

“Horeee, aku ngerasain kontol baru! Mas Asep sama aku yaa..” pinta Dita sambil tersenyum manis

“Eh, oh iya mbak, nikmatin aja hehe” jawab Asep gugup.

Dibanding yang lain, Asep sehari-harinya masih canggung dengan Dita. Asep mengira gadis pendiam itu yang paling alim dibanding yang lain. Asep sering melihatnya membaca buku dan novel agama di waktu senggang. Asep pikir, Dita pasti tipe yang tidak mau pacaran sebelum menikah. Tentu, pemandangan Dita yang begitu menikmati digenjot Jejen barusan mengubah pandangannya.

“Kenape sih Sep, ga usah grogi gitu deh ama Dita” goda Eci yang sudah berlutut dan mulai mengocok kontol Jejen di depannya

“Ah, si Mpok –slurp” Dita tanpa ragu langsung mengulum kontol Asep seperti permen. Seumur-umur Asep tak pernah membayangkan melihat pemandangan kepala berjilbab di antara kedua kakinya. Asep tak menyangka para gadis yang kelihatannya baik-baik itu tak sungkan memasukkan kontol para pria ke dalam mulut mereka. Apalagi para pria seperti mereka.

Irma dan Dinda juga mulai menyepong pasangan mainnya. Suara sedotan dan kuluman memenuhi ruangan. Berkat efek jamu Jejen, tak butuh lama untuk para kontol itu untuk kembali sekeras baja.

Asep takjub melihatnya, dan seolah tahu yang dipikirkan Asep, Jejen dengan bangga berseru

“Mantep pan jamu urang? Asli Jampang Kulon!” Asep hanya manggut-manggut karena kontolnya masih diseruput dengan khidmat oleh bibir tipis nan lembut Dita dan permainan lidahnya yang begitu ahli.

“Udah keras lagi semuanya?” tanya Eci

“Slurp-plop, yang ini udah” lapor Dita

“Mmphh-puah..udah nih” giliran Dinda

“Shrrthh..ahh, ini juga udah” Irma melapor terakhir

“Oke girls, kita mulai!”


Para cewek berdiri dan berputar membelakangi pasangannya. Lalu mereka mencoba untuk duduk di pangkuan para cowok. Tangan para cewek membimbing kontol pasangan mereka ke arah bibir memek masing-masing.

“Okeh, semuanya, 1..2..3..mulai!”

Desahan dan erangan terdengar bersahutan saat kontol para cowok menghilang ditelan memek pasangan masing-masing.

Jejen tampak sengsara dengan sempitnya memek Eci. Kontol Jejen hanya bisa masuk setengahnya. Tapi Eci terus mendorong tubuhnya ke bawah agar kontol Jejen bisa masuk sepenuhnya. Gadis bertubuh mungil itu malah menjerit-jerit riang.

“Agh, anjing..mbak Eci sempit banget..”
“Heheheee...aduh sesek banget nih kontolnya mas Jejen...aku sukaaaa..aahh!”

Di sebelah mereka Dinda mendesah manja saat kontol Reza menerobos memeknya

“Ugh, masih sempit aja, Dinceu. Jarang dipake si Anto ya?” ledek Reza menyebut nama pacar Dinda

“Ah, berisik. Ngentot mah ngentot we” tukas Dinda datar masih dengan mata terpejam

Di pojok sofa Irma memasukkan kontol Ari sambil menggoyangkan pantatnya. Irma menoleh ke arah Ari dan memasang tampang binal.

“Enak khan memek gue?”

“I-iya Ir..licin banget..enak nyoblosnya” Ari hanya bisa nyengir keenakkan.


Sementara Asep agak gugup melihat punggung Dita yang begitu putih mulus kemerahan dan pantat montoknya yang akan segera melahap kontol Asep.

“Waa-wow!” Asep terbelalak ketika kontolnya dicengkram oleh memek Dita. Dinding memek Dita seperti hidup, bergerak-gerak mengurut kontol Asep yang ditelannya.

“M-mbak Dita..memeknya kok gerak-gerak..urgh”

“Hhehehe..blom pernah ngrasain yaa..enak kan memek aku?”

“I-iyaa”

“Makasih..kontol Mas Asep juga enak hhehe”

Sekarang keempat gadis itu sudah menunggangi pasangan masing-masing.

Eci menjelaskan peraturan. Siapa yang cowoknya ngecrot duluan, pasangan itu out. Yang tersisa dirotasi dan begitu seterusnya hanya tinggal sisa satu cowok.

“Kalo ceweknya yang ngecrot duluan gimana mbak?” tanya Reza

“Ya lanjut aja”

“Wah, curang itu mah. Masa cewek bisa ngecrot berkali-kali tapi kita cuman sekali terus out” protes Reza tak rela

“Mas Reza yang ganteng, orgasme laki-laki dan perempuan itu berbeda ya, harap jangan disamakan” jelas Eci sok serius seperti seorang guru, walau gadis berkacamata itu sedang naik turun menggesekkan memek sempitnya dengan kontol Jejen.

“Kalo ga mau ya udah, aku cabut nih memek” timpal Dinda

“Eitss, siapa yang ga mau. Udah Dinceu, sini gua entotin memek lo sampe kelenger”

“Kyaa hahahaa beneran siah Reza ngentot urang nepi ka pingsan!” Dinda memekik riang sambil tertawa-tawa ketika tangan Reza menggerayangi tubuhnya


Sementara Asep bertekad dalam hati agar tidak menjadi yang pertama out. Sebagai member baru dia harus bisa membuktikan kemampuannya. Tapi masalahnya memek milik Dita tempat kontolnya sekarang berada begitu agresif mencengkram kontol Asep. Goyangan pinggul Dita yang begitu profesional membuat Asep kaget, tak menyangka gadis yang sehari-hari alim berjilbab itu begitu ahli dalam bercinta. Tapi yang Asep lihat, semua cewek di situ juga sama. Gerakan pinggul mereka semua seperti yang Asep sering liat di film porno. Entah latihan seperti apa atau mungkin saking seringnya mereka menunggangi kontol.

Termasuk Dinda. Mengingat Dinda, Asep semakin termotivasi untuk bisa bertahan. Siapa tahu setelah dirotasi dia kebagian memek Dinda lagi. Memang memek Dita enaknya luar biasa, tapi Asep semakin berkonsentrasi untuk bertahan.


Tiba-tiba...

“Anjrit! Aaahhhh...” teriak Ari sambil mengejan

“Yaahhhh...Ari ihhh!” desah Irma kecewa setelah tahu Ari menyemprotkan cairan kental dalam lubang nikmatnya. Berarti Irma juga harus out.

Ari yang terhempas di sofa hanya nyengir puas sekaligus malu. Irma yang masih menungganginya merajuk seperti anak kecil. Tampaknya Irma masih belum puas.

“Udahlah Ir...terima aje nasib situ...” ledek Eci

“Rasain lho kentang...emang enak” timpal Dita yang masih terus menggeolkan pantatnya di atas kontol Asep.

Jejen dan Reza tentu tak melewatkan kesempatan untuk meledek Ari. Setelah mengeliminasi Irma dan Ari, dengan komando dari Eci, peserta yang lain serempak menghentikan aktivitasnya dan mencabut memek masing-masing dari pasangannya.

“Yup, ayo kita tukeran...aku pilih mas Asep ya!” seru Eci yang membuat Asep kecewa. Bukan Dinda seperti yang diharapkan. Berarti Dinda dengan Jejen dan Dita dengan Reza.


Kali ini posisinya berhadapan, bukan memunggungi lagi. Ketiga pasangan itu kompak saling berciuman sebelum kontol dan memek mereka menyatu. Ari dan Irma hanya bisa menonton.

“Emmmhh...” desah erotis Dinda terdengar ketika gadis manis itu mulai menduduki kontol Jejen.

“Ah, mentok” erangnya agak tercekat

“Edun, si Dinda memekna ajib euy!” kekeh Jejen

“Beneran kan Jen...aduh Mbak Dita memeknya tambah anget aja!” timpal Reza yang terpotong aksi Dita membenamkan memeknya ke batang Reza. Dita hanya tersenyum sambil memeluk Reza dan menyumpal mulut Reza dengan botol susunya yang menggantung.

“Mas Reza sedotin...” pintanya manja, yang dituruti Reza tanpa protes


Sementara Asep sudah ditunggangi Eci. Ujung kontol Asep sudah menyentuh bibir bawah Eci.

“Gila gede juga ih Mas Asep...pasti puas deh gue!” seru Eci dengan mata berbinar

Dengan dibimbing tangannya, gadis bertubuh mungil itu mulai melesakkan kontol Asep dalam memek sempitnya. Walaupun sudah basah, tetap saja sulit masuk. Seperti Jejen, Asep meringis merasakan kontolnya ditekan kuat oleh dinding memek Eci.

“Aduh Mbak, stop! Kayaknya ga muat neeh...” pinta Asep

“Muat kok Mas Asep...Passtiii masuuuukk...Ahhh” racau Eci dengan ekspresi campur aduk

Jejen yang sedang asyik memuntir puting susu Dinda terkekeh melihat penderitaan Asep

“Heheh....awas potong eta kontol” ledeknya

Tapi akhirnya kontol Asep bisa muat sepenuhnya dalam memek sempit Eci. Ketiga pasangan itu pun mulai bergerak memompa gairah masing-masing. Reza masih asyik menyusu ke payudara Dita. Jejen membiarkan Dinda bergerak liar di pangkuannya biarpun tangannya sesekali menjelajah tubuh Dinda dan merangsang titik-titik sensitifnya. Asep ingin mencuri-curi pandang ke arah Dinda yang tampak begitu menikmati kontol Jejen, tapi tak bisa karena Eci terus menciumi Asep dengan penuh nafsu. Kini Asep merasakan sendiri betapa tingginya libido gadis yang satu ini.


Ketiga pasangan itu terus memacu birahi. Asep masih mencoba bertahan, demi kesempatan bersama Dinda lagi. Memang memek Eci tidak se-‘hidup’ kepunyaan Dita, tapi sempitnya luar biasa. Kontol Asep serasa ditekan kuat.

“Mas Aseeep...sekali-kali maen ke kosan aku yaa...enak bangeth kontolnyaaah...hnngggh” erang Eci

“Iiih Mpoook jangan maen monopoli gitu dongs” protes Dita

“Iiiya Dit, entar aku bagi dehhh...aduhh enak banget oh my Goddd!”

Lah, katanya gak boleh di luar villa ini, gimana sih, batin Asep tapi dia memilih diam.

Para cowok tidak terdengar suaranya. Mereka mati-matian menahan diri dari kenikmatan yang diberikan pasangan masing-masing.

“Mas Jejeeen...Hmmmh...aku mau dapet...iiyaah...iiyaah di situuu” racau Dinda tiba-tiba

“Kela Dindaaaa stop siah tong ngageol kitu!” teriak Jejen panik melihat Dinda yang tiba-tiba bergerak semakin agresif, hingga akhirnya...

“Aaaaahh...iiyaaaaahhhhhh!!” Dinda berteriak keras sambil tubuhnya gemetar

“Anjriitttttt....ahhh, siaaaaallll!!” teriak Jejen tak kalah keras, juga sambil gemetar

Seketika gerakan tubuh keduanya terhenti.


“Yeeyy si Jejen ngecrot!” seru Ari girang

“Nah, Dinda sama Mas Jejen out!” timpal Irma sambil bertepuk tangan

Sontak kedua pasangan lain yang tersisa berhenti. Eci dan Dita bersorak gembira. Reza hanya nyengir, sementara Asep diam-diam kecewa. Ya, hilang sudah harapannya untuk bisa berpasangan lagi dengan Dinda di ronde ini.

“Si Dinda mah ih, ujug-ujug ngagancangan jadi weh uing ngecrot” sungut Jejen

“Hehee, abis aku mau dapet, jadi nanggung” balas Dinda dengan nafas masih terengah-engah

“Ah, alasan wae maneh mah Jen” ledek Ari

“Huuu beneran, eta memek ngajepitna teu kira-kira siah” jawab Jejen sambil menjawil puting susu Dinda, yang dibalas dengan tawa renyah gadis manis itu.

“Mpok, trus gimana dong? Kalo tukeran lagi aku dapet Mas Asep lagi, kan udah” tanya Dita

“Nah kan, emang sistemnya gak bener” timpal Reza

“Diem ah, Reza” Eci berpikir sejenak “Ya udah kita BJ aja berdua sampe ada yang keluar”

“Hah? Bi-je? Apaan tuh?”

“Disepong, Sep” jelas Reza ke temannya yang lugu itu

Dita dan Eci lalu bersimpuh di depan selangkangan Asep dan Reza yang masih duduk di sofa.


“Babak final!” teriak Eci sebelum mencaplok kontol Asep ke dalam mulut mungilnya. Peserta lain yang sudah tereliminasi menyoraki mereka.

“Ayo Reza! Ayo Asep!”

Suara seruputan terdengar jelas saat Dita dan Eci meng-oral pasangan masing-masing. Kepala mereka yang terbungkus jilbab bergerak maju mundur dengan kecepatan tinggi. Pipi mereka terlihat kempot menyedot kontol dalam mulut mereka. Begitu lihainya teknik blowjob kedua gadis itu, Asep dan Reza sampai kewalahan. Kontol mereka seolah-olah disedot vacuum cleaner, bahkan ujung kontol mereka serasa hampir menyentuh bagian dalam tenggorokan pasangannya.

“Ayo Asep!”

Walaupun disemangati Dinda, Asep sudah tidak peduli lagi. Toh setidaknya dia bukan yang pertama gugur. Dibiarkannya sedotan vacuum cleaner Eci merangsang kontolnya hingga mencapai kenikmatan tertinggi. Dan tanpa ditahannya, Asep ejakulasi untuk kedua kalinya malam itu.

“Aaahh...gua keluar...gua keluar...stop Mbak Eci!” serunya sambil mengangkat tangan tanda menyerah.

Tapi di luar dugaannya, Eci tidak melepas kontolnya. Malah semakin kuat menyedot membuat Asep ngilu. Barulah setelah ejakulasi Asep berhenti Eci melepas kontol Asep dengan suara ‘PLOP!’

“Mpoook...jangan telen dulu! Aku mau!” rengek Dita yang juga sudah melepas kontol Reza

“Iye Dita sayang, cini aku bagiii...” jawab Eci

Asep melongo melihat Dita dan Eci berciuman, membagi cairan lelakinya yang berada di mulut Eci. Lalu dengan ekspresi puas keduanya menelan air mani Asep tanpa ragu.


Ini lebih gila dari fantasi terliar yang pernah dibayangkan Asep. Benar-benar gila.

Selagi Asep melongo, Reza merayakan kemenangannya. Dia bersorak-sorak dan meledek Jejen dan Ari.

“Payah lo pade, kalah sama anak baru!” lalu ia berpaling ke Eci “Trus hadiah saya apa Mbak?”

“Hadiah?” Eci berpikir sejenak “Oh iya, aku belum mikirin reward yang menang sama punishment buat yang kalah hehehe”

Reza uring-uringan mendengarnya tapi Eci cuek saja “Udah deh Reza, anggap aja ini tes buat anggota baru, iya gak Mas Asep?”

“Hmm? O-oh iya Mbak. Hehe” jawab Asep sekenanya


Karena sudah larut malam, Eci mendeklarasikan waktu bebas. Mau tidur silakan, mau lanjut ngeseks juga boleh. Asep belum mengambil keputusan ketika Irma tiba-tiba menghampirinya.

“Mas Asep belum ya sama aku? Maen sama aku ya!” ajaknya dengan mata berbinar

“Boleh sih mbak, cuman saya masih cape nih...” Asep coba mengelak

“Tenang Mas Asep, efek jamu Mas Jejen pasti masih ada. Pasti kuat kok!” ujar Irma cuek sambil mendudukkan dirinya di pangkuan Asep “Tadi aku dapet kentang jadi Mas Asep puasin aku yaa!”

Asep pun tak bisa menolak ketika Irma dengan semangat mencumbui tubuhnya yang terduduk lemas di sofa. Sementara itu, terdengar olehnya suara Dita yang mengajak Dinda untuk mengeroyok Ari berdua. Kedua gadis itu terlihat oleh Asep berlari kecil sambil cekikikan ke arah kamar mandi tempat Ari berada. Di sisi lain, Eci malah minta dikeroyok oleh Reza dan Jejen sekaligus. Asep takjub melihat para gadis itu mengambil kendali total. Tadi Eci bilang para gadis merelakan tubuh mereka untuk ‘dipake’ para cowok, tapi kenyataannya seolah justru para lelaki itu yang dimanfaatkan para gadis. Seolah merekalah yang punya pesta dan Asep dkk hanyalah pemuas...kalau dipikir-pikir bisa jadi, karena memang villa itu punya Irma dan mereka bisa tinggal dan makan di sana gratis.


Saat masih sibuk melamun, Asep dikejutkan oleh teriakan Eci dan geraman Jejen

“Aaawhh Mas Jejennnn...masukin ayooo...aduuhhhh...aahhhh!”

“Hngggk..anjing sempit...aarrrghh anjiingg!” ekspresi Jejen tidak karuan, membuat wajahnya yang jauh dari tampan semakin parah.

“Ayo Jen, dorong! Gua juga waktu itu bisa!”

“Anjing ieu bool sempit pisan siah, Reza! Leuwih sempit ti memekna!” seru Jejen

Asep melihat Eci dalam gendongan Reza dalam posisi berdiri, dengan kontol Reza menancap di memeknya, dan Jejen dari belakang sedang mencoba memasukkan kontolnya ke anus Eci. Ini pertamakalinya Asep melihat seks anal dengan mata kepalanya sendiri. Dan bukan sekedar seks anal biasa!

“Waduh, si Mbak Eci dimasukin depan belakang gitu?”

“Iya Mas Asep...slurp...itu namanya DP” jelas Irma yang sedang asyik mengulum kontol Asep

“Depe? Dewi Perssik? Dana Pinjaman?”

“Ih bukan Mas Aseeeep...sluurrppp..Double Penetration..”

“Owhh...”

“Si mpok emang doyan disodomi, klop deh sama Mas Jejen yang seneng pantat...Apalagi kalo dijepit kayak gitu, beuh, suka lupa waktu dia. Kalo Mas Asep gimana?” cerocos Irma yang sekarang mengocok kontol Asep yang sudah basah oleh liurnya barusan.

“Gimana apanya Mbak?”

“Seneng anal gak?”

“Hmm, maen belakang maksudnya? Wah, gak terlalu sih...” Asep mencoba menyembunyikan fakta bahwa dia belum pernah melakukan anal. Takut ditertawakan oleh maniak-maniak seks di sekelilingnya.

“Ohhh, kalo Mas Asep mau, tinggal bilang aja. Kita semua gak keberatan kok...”

Apa? ‘Kita semua’? Berarti...berarti...Dinda juga...di-anal...dia...

“Mas Asep...Udah keras nih”

“Eh?”


Asep tak sadar kontolnya yang dikocok Irma sudah keras kembali. Amejing! Pikirnya. Irma menatap batang Asep dengan mata berbinar. Gadis berwajah sayu itu tidak membuang waktu. Dengan segera dia membimbing ujung kontol itu ke bibir memeknya.

BLESH! Kontol Asep menembus masuk memek Irma yang sudah sangat basah

“Ahhhhhhkkk” Irma mendesah manja dengan mata terpejam

“Ahh..beda ya rasanya kontol baru” gumamnya saat kontol Asep sudah masuk sepenuhnya

Dan Asep pun akhirnya merasakan memek keempat malam ini. Empat memek yang dia tidak pernah mimpikan sekalipun. Kecuali Dinda. Tapi mimpi Asep tentang Dinda situasinya tidak seperti ini. Dalam fantasi terliarnya sekali, pesta gila ini tidak pernah dia bayangkan.

Memek Irma ternyata tak kalah nikmatnya dengan yang lain. Asep yang merasakan empat memek yang berbeda dalam satu malam baru menyadari bahwa tiap memek berbeda-beda dan punya karakteristik sendiri.


“Ahhh...Mas Asep aku gerak yaaa” ujar Irma basa basi karena tanpa persetujuan Asep pun gadis berjilbab itu sudah menggerakkan tubuh indahnya naik turun. Asep membiarkan Irma memacu tubuhnya sesuka hatinya. Sudah larut malam, dan sudah ejakulasi dua kali tapi Asep merasa tubuhnya masih bugar dan perlahan birahinya mulai naik kembali. Untuk sementara dia melupakan sejuta pertanyaan di kepalanya dan memilih untuk mengikuti suasana. Dibiarkannya Irma puas dengan posisi berpangkuan, seperti ronde sebelumnya yang Irma lewatkan karena tereliminasi duluan. Asep tidak perlu bergerak banyak karena Irma dengan sendirinya menggerakkan tubuh bugilnya memompa kontol Asep. Sepertinya rasa kesal karena kalah sebelumnya membuat Irma semakin agresif. Dan Irma pun akhirnya bisa meraih orgasme atas usahanya sendiri, sedikit dibantu oleh Asep yang sesekali meremasi bukit susunya.


“Aaaa...Ahhhh! Aduuuh aku nyampeeee!”

Irma memekik nikmat, memeknya berkontraksi mencekik kontol Asep. Tubuh bugil Irma yang sudah banjir keringat ambruk ke pelukan Asep. Saat memeluk Irma, Asep samar-samar bisa mencium bau harum rambut Irma dari balik jilbab tipisnya walaupun sudah basah oleh keringat. Entah kenapa bau itu membangkitkan birahi Asep. Dia teringat bau parfum Dinda yang diciumnya tadi sewaktu ronde pertama yang membuatnya tenang dan menghilangkan groginya. Hingga Asep memutuskan untuk mengambil alih. Irma kaget ketika Asep tiba-tiba mencium bibirnya, tapi langsung disambutnya dengan hangat.

“Chppp...Ah, Mas Asep akhirnya mau gerak juga kan...terusin yuuk” rajuk Irma dengan manja

“Iya Mbak, ganti gaya yah, saya mau nyoba posisi baru nih”

“Posisi apaan Mas Asep?”

“Itu, gaya yang kayak anjing tuh apa sih namanyah”

“Oh, gaya doggy? Hayu, di bawah aja yuk”

Keduanya turun dari sofa. Irma lalu menungging di karpet, bertumpu pada lutut dan sikunya. Pantatnya dinaikkan, kakinya sedikit direnggangkan sehingga Asep bisa melihat rekahan memek basah Irma dan lubang pantatnya yang imut dengan jelas.

“Ayo Mas Asep, masukiiin” Irma menggoda Asep dengan suara manjanya

Melihat Irma yang menungging seperti anjing Asep teringat adegan pertama yang dilihatnya malam itu saat Dita disetubuhi dengan liar oleh Jejen. Meniru Jejen, Asep memegang pantat Irma yang bulat dan langsung menusuk memek Irma dengan sentakan kasar.

“Awwhhh!” Irma memekik

Dalam posisi doggy, kontol Asep bisa masuk sepenuhnya sampai pangkalnya, menyumpal memek Irma sedalam-dalamnya. Sensasinya luar bisa, seperti waktu di-deepthroat oleh Eci di ronde sebelumnya. Irma sendiri dalam posisi ini memeknya terasa lebih penuh, dan ada bagian yang di posisi lainnya tidak tersentuh, sekarang bisa tergaruk oleh kontol Asep. Irma mendesah-desah saat Asep mulai bergerak memompa tubuhnya, semakin lama semakin cepat.


Ruangan itu makin ramai saat Ari muncul dari lorong arah kamar mandi dengan Dinda dan Dita bergelayut di kanan-kirinya. Kedua tangan Ari sibuk mencucuk memek masing-masing gadis sambil bergantian mencium bibir keduanya. Sampai di ruang tengah tak jauh dari Eci yang masih di-sandwich, Ari merebahkan diri. Dinda langsung menduduki kontolnya, dan Dita membenamkan wajah Ari di selangkangannya. Dinda dan Dita yang berhadapan saling berpegangan dan berciuman, payudara ranum mereka bergantian diraba-raba Ari yang tidak bisa melihat apa-apa karena dibekap selangkangan Dita.


Sementara Asep semakin gencar men-doggy Irma. Tubuh Irma sampai tersentak-sentak oleh genjotan Asep. Payudaranya yang menggelantung bergoyang-goyang liar seiring gerakan tubuhnya. Suara desahan Irma yang serak-serak basah semakin menambah semangat Asep. Larut dalam birahi, Asep seperti lupa dengan semuanya. Lupa dengan sejuta pertanyaan di benaknya dan Dinda di hatinya. Lupa bahwa Irma yang sedang dia pompa dengan ganas adalah rekan kerjanya dengan posisi lebih tinggi di kantor. Lupa bahwa Irma punya pacar. Dan bahkan di puncak birahinya Asep seperti memperlakukan Irma bagai seonggok daging dengan lubang tempat kontolnya bersarang, bukan sebagai manusia apalagi pasangan bercinta.


Asep baru sadar ketika Irma melolong keras dan tubuhnya ambruk ke atas karpet. Asep ikut ambruk, dan dirasakannya tubuh Irma menggelinjang dalam tindihannya.

“M-mbak..huff...huff...Mbak Irma gak kenapa-kenapa kan?” tanya dengan terengah-engah

Gila, sampai kejang-kejang kayak gini diapain sama gua barusan ya? Pikir Asep

“Nyam..pe..e..nak ba...nget..ahhhh” Irma menjawab terputus-putus di sela nafasnya yang juga terengah-engah.

Keduanya terdiam di posisi itu beberapa saat lamanya. Tubuh Irma sesekali tersentak kecil diiringi lenguhan lirihnya. Kontol Asep masih menancap erat di memek Irma. Akhirnya Irma cukup sadar untuk bicara jelas.

“Ahh Mas Asep..gila enak bangeeettt...aku orgasme sampe lemes gini ampuuun”

“Oh, makasih Mbak” Asep senang, tapi di sisi lain dia sedikit bingung, gua gak inget ngapain aja tadi!

Rasanya seperti kerasukan, pikir Asep. Atau jangan-jangan mereka semua di sini pada kerasukan makhluk mesum? Asep mengesampingkan itu jauh-jauh. Tapi dia tahu, sesaat dia seperti menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Lepas dari segala beban pikiran, membiarkan insting primitif mengambil alih. Mungkin, inilah yang dilakukan yang lain. Bebas lepas tanpa memikirkan apapun, memenuhi nafsu birahi sepuas hati. Mungkin inilah sebabnya mereka tampak cuek dan santai melakukan pesta di luar batas ini. Karena tidak ada batasan bagi mereka.


Diperhatikannya ke sekeliling, Ari sekarang men-doggy Dita yang asyik menjilati memek Dinda yang mengangkang di depannya. Eci masih dijepit depan belakang oleh Reza dan Jejen. Semuanya begitu lepas, begitu bebas. Wajah-wajah mereka begitu puas, begitu bahagia. Di ronde sebelumnya, Asep masih grogi dan bingung. Sekarang, sepertinya Asep sudah bisa menyesuaikan diri dengan yang lain. Walaupun Asep tidak yakin, karena kehadiran Dinda di situ yang mengganjal hatinya. Kalau saja Dinda tidak ikut di sini mungkin dia bisa lebih...


Lamunan Asep buyar ketika dia merasa Irma mulai menggerakkan pantatnya. Membuat memeknya perlahan mengurut kontol Asep.

“Mas Aseeep...ayo gerakin lagiii...belum keluar khaan?” rengek Irma lirih

“Iya Mbak, saya gerak” jawab Asep

Masih menindih tubuh Irma yang telungkup, Asep menggoyang pinggulnya menusuk memek Irma yang disambut si pemilik lubang dengan menggerakkan pantatnya.

“Maaf Mbak kalo berat ditindih sayah, ganti posisi aja yah kalo gak enak”

“Gak papa Mas Asep, trus aja gini sampe Mas Asep keluar...ahh iyah gitu terusin” racau Irma dengan kepala menengadah dan mulut megap-megap. Asep meneruskan genjotannya, perlahan mempercepat tempo walaupun tidak seintens sebelumnya. Di sisi lain Dinda menjerit-jerit nikmat disetubuhi Ari dengan posisi menyamping. Dita sudah terbaring lemas di samping mereka. Sementara Eci, masih belum selesai di-sandwich Reza dan Jejen.


Tak lama kemudian Asep merasa ejakulasinya sebentar lagi. Mengingat ronde-ronde sebelumnya, Asep pikir tak perlu memberitahu Irma apalagi harus bertanya dikeluarin di mana. Di pesta ini semuanya bebas crat-cret-crot di mana saja dan para cewek dengan senang hati menerima. Jadi Asep mempercepat temponya yang membuat desahan Irma semakin keras dan CROT! Asep ejakulasi untuk ketiga kalinya malam ini, diiringi jeritan Irma yang ikut orgasme merasakan cairan hangat menyembur memeknya. Anehnya ejakulasi ketiga ini masih senikmat yang pertama dan jumlah mani yang keluar pun masih cukup banyak. Tapi Asep tidak memikirkan hal itu karena kepalanya masih di awang-awang. Lagi-lagi mereka terdiam beberapa saat dalam posisi yang bertumpuk.


Hingga tak lama kemudian Asep mencabut kontolnya dari memek Irma. Asep lalu menggulingkan tubuh lemasnya, berbaring terlentang di atas karpet. Di sebelahnya Irma bangkit lalu berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi sambil bergumam “Ahh, puas banget gue..”.

Hanya jeritan nikmat Eci yang masih menggema di ruangan itu. Ari sudah terlelap dengan dua gadis cantik mengapitnya bagaikan raja minyak.


Mengikuti Ari, Asep pun terlelap. Menyudahi malam yang gila menuju esok hari yang lebih
loading...