Cerita Seks : Pesta di Akhir Pekan 3








Tertidur dalam rasa lelah yang luar biasa, ingatan Asep melayang ke hari pertamanya bekerja. Asep sangat grogi waktu itu. Dia pernah ke perusahaan itu sebelumnya untuk interview, tapi tetap saja rasanya beda. Resepsionis yang cantik menyuruh Asep menunggu di lobi. Senyum manisnya tak mampu mengurangi grogi Asep. Lama menunggu, barulah ada orang dari HRD. Setelah menandatangani kontrak kerja dan sejenisnya, Asep lagi-lagi disuruh menunggu orang dari departemen yang akan ditempati oleh Asep. Diganti rasa kesal disuruh menunggu terus, grogi Asep mulai hilang. Dia mulai berpikir soal tujuan keduanya bekerja selain mencari uang: nyari jodoh. Resepsionis barusan cantik juga, tapi rasanya terlalu tinggi buat Asep. Realistis aja lah, pikirnya. Lebih baik dia mencari yang selevel. Mungkin ada tenaga kebersihan, penjaga kantin atau sejenisnya yang masih single dan lumayan untuk dipacari. Terlalu tinggi buat mengincar para karyawati perusahaan itu, mereka yang minimal sarjana itu mana mau sama Asep.

Asep masih larut dalam lamunan ketika seorang gadis menyapanya.


“Mas Asep Suryana ya?” tanya suara lembut itu

Asep menoleh, dan ia serasa melihat sesosok bidadari. Gadis yang menyapanya itu berkerudung tapi pakaiannya ketat (jilbab gaul lah istilahnya). Tubuhnya indah dengan tangan kaki ramping, dada ukuran sedang, tapi pinggulnya melekuk sempurna. Gadis itu berwajah cantik dengan dagu lancip, bibir tipis, dan hidung bangir. Matanya indah dengan bulu mata lentik dan alis lebat dengan lengkung sempurna.

“Eh, maaf...salah orang ya?” tanya gadis itu tersipu malu ketika Asep hanya bengong

“Oh bukan..eh, iya...eh maksud sayah...iyah saya Asep Suryana” jawab Asep gugup

“Ohh...kirain aku salah orang..ampir aja malu aku” ujar gadis itu sambil tersenyum manis

Cantik, pikir Asep

“Aku disuruh ngejemput Mas Asep dari sini ke ruangannya R&D”

“Oh iya, sayah tadi dibilang mas dari Ha eR De ditempatinnya di ar endi...eh ar endi itu apaan sih?” tanya Asep polos

Gadis itu hanya tertawa, setelah meyakinkan Asep bahwa nanti juga dia mengerti, mereka meninggalkan lobi menuju bagian R&D yang ternyata terpisah dari bangunan utama. Gadis manis berkerudung itu berjalan di depan sementara Asep mengikuti di belakang. Mata Asep mencoba untuk beralih dari pinggul dan pantat indah di depannya, tapi namanya juga laki-laki, percuma. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu di samping bangunan lain agak jauh dari bangunan utama.

“Nah, di sini Mas Asep”

“Oooh, ‘re-se-archhh en depelop-men’ itu toh singkatannya” ujar Asep polos membaca plang di atas pintu itu yang dibalas gelak tawa si gadis.

“Haha, iyah itu artinya. Udah ah, ayo masuk”

“Oh iya..mmm..belum kenalan nih” potong Asep

Gadis itu menepuk jidatnya “Iiya aku lupa hehe...”

“Dinda” ujarnya sambil mengulurkan tangannya

“Asep” jawab Asep sambil menjabat tangannya. Halus. Lembut. Hangat.

“Udah tau kalee...”

“Haha oh iya...” giliran Asep yang menepuk jidatnya sendiri

Lalu Dinda membuka pintu. Tapi bukannya disambut oleh Bu Supervisor seperti yang diingatnya, Asep malah disambut oleh Dita, Eci, dan Irma yang semuanya telanjang bulat. Ketika Asep berbalik, dilihatnya Dinda sudah telanjang bulat juga. Semuanya tersenyum menggoda, dan perlahan bergerak mengepung Asep.

“Lho lho lho bentar nih...maksudnya a-“


Asep membuka matanya.


“...Oh. Cuman mimpi”


Tapi yang dia alami tadi malam bukanlah mimpi.


Asep terbangun bukan di kamarnya sendiri tapi di sebuah villa milik orangtua Irma. Tubuh-tubuh telanjang bergelimpangan di sekitarnya. Nuansa seksual masih terasa samar di ruangan itu, Asep tak bisa mendeskripsikannya tapi dia bisa merasakan.

Asep bangun dengan kepala sedikit berat. Entah berapa jam dia tertidur, langit di luar sudah terang. Sambil duduk, dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi hari sebelumnya. Dia diajak Reza jalan-jalan ke Puncak bersama Jejen dan Ari. Mereka tidak pernah berterus terang dengan agenda kegiatan yang akan mereka lakukan. Lalu sesampainya di tujuan, ternyata empat karyawati di tempat Asep bekerja sudah ada di sana. Termasuk Dinda gebetan (rahasia) Asep. Sampai di sana, tidak terlalu aneh.


Lalu Jejen memberinya minuman misterius. Dan kemudian puncaknya jam 9, Eci dan yang lain memberi Asep kejutan. Tak pernah terpikirkan oleh Asep bahwa dia bisa melihat tubuh telanjang keempat rekan kerjanya itu. Dan tak hanya pemandangan itu yang dia dapat. Eci memasukkan Asep ke dalam klub rahasia mereka. Saat itu otak Asep tak bisa memproses semua informasi yang bertubi-tubi masuk, jadilah dia terseret masuk ke dalam situasi yang dia sendiri tidak pahami.

Pemandangan pertama yang dilihatnya sungguh mencengangkan. Dia melihat Dita, gadis paling pendiam dan alim diantara berempat, menungging dan merengek minta disetubuhi secara kasar. Permintaan Dita dikabulkan Jejen, teman Asep yang hitam dan buruk rupa, yang langsung main coblos membuat gadis manis berkulit putih mulus itu memekik nikmat.


Sewaktu Asep tahu bahwa para gadis itu rela tubuhnya dijamah oleh para lelaki yang bukan pasangannya, para lelaki yang secara kasta sosial lebih rendah dari mereka, itu saja sudah tidak masuk akal buat Asep. Lalu, setelah melihat para gadis itu yang memegang kendali, Asep jadi tambah bingung. Apa yang membuat mereka seperti itu? Dulu dunia terasa sederhana buat Asep. Yang nakal ya pasti kelihatan nakalnya. Yang alim, walapun ternyata punya sisi nakal ya paling tidak senakal yang betulan nakal. Tapi dunia yang dikenal Asep hancur berantakan malam ini. Dan syarat yang diajukan Eci seolah-olah memaksa Asep masuk ke dalam dunia itu tanpa boleh bertanya. Lalu nanti setelah weekend ini berakhir, Asep akan ditendang keluar dan kembali masuk ke dunia yang dikenalnya; sekali lagi dengan larangan untuk bertanya.


Asep berpikir apakah Jejen, Reza, dan Ari juga punya segudang pertanyaan seperti dirinya, ataukah mereka tidak peduli – yang penting dapet memek gratis? Mereka terlihat santai, dan patuh dengan perintah Eci tanpa banyak protes. Mungkin karena mereka sudah sering, dan Asep baru pertama kali. Tapi Asep tak yakin dirinya akan terbiasa. Tidak sebelum pertanyaannya terjawab. Apalagi ada Dinda di sini. Gadis yang selama ini Asep diam-diam perhatikan. Asep mengira dirinya tahu segala aspek dari kehidupan Dinda: sifat-sifatnya, masa lalunya, keluarganya, dan hubungannya dengan pacarnya saat ini. Tapi ternyata ada rahasia yang baru Asep ketahui sekarang. Dan Asep baru sadar, dia memegang rahasia besar Dinda yang selain dia hanya 6 orang lain di villa itu yang tahu. Dia lebih tahu Dinda daripada pacar atau keluarganya sendiri. Asep tak tahu harus merasa apa.


Dan kebetulan malam tadi, Dinda lah yang pertama dia setubuhi. Mimpi yang terwujud. Tapi walaupun secara birahi terpenuhi, persetubuhan pertamanya dengan Dinda terasa kurang. Entah karena larangan Eci soal membawa perasaan, atau karena sejuta pertanyaan masih mengambang di benaknya. Berhasil menyatukan kelaminnya dengan milik gadis pujaan hatinya, Asep puas tapi juga merasa hampa. Dan dari situ, kegilaan berlanjut. Asep ingat betapa ia terbawa suasana sehingga malam itu dia bisa mencicipi tubuh keempat gadis itu sekaligus. Dita, Eci, dan akhirnya Irma. Betapa keempat gadis itu memberinya kenikmatan jasmani dengan memek dan teknik bercinta mereka yang berbeda-beda. Dan Asep pun terpana menyadari daya tahannya yang luar biasa malam itu. Dia bisa ereksi segera setelah ejakulasi, dan setiap ejakulasi dari total tiga kali, rasanya sama nikmatnya dengan sperma yang sama berlimpahnya. Entah karena efek jamu Jejen, atau memang dia sudah terbawa suasana.


Dan ngomong-ngomong soal ejakulasi...Asep baru ingat tadi malam dia memuntahkan air maninya dalam rahim Dinda dan Irma, tanpa perlindungan apapun! Asep terlalu bingung tadi malam sehingga dia tidak menyadari apa yang dia lakukan. Waduh! Gimana kalo salah satunya hamil? Kalau dua-duanya hamil? Dan kebetulan dua-duanya punya pacar, bisa dihabisin gue sama mereka! 

Asep mengelap keringat dingin yang mengalir di jidatnya. Tenang Sep, tenang! Dia mencoba berpikir. Yang lain pun dengan cueknya crot di dalam para cewek itu tanpa peduli. Di ronde pertama semuanya kena crot di dalam. Di ronde kedua, memek Dinda dan Irma disembur oleh Jejen dan Ari. Lalu faktanya mereka bilang mereka sudah sering melakukan pesta ini. Dan para gadis itu juga tidak protes rahim mereka jadi tempat pembuangan peju Asep dkk. Melihat mereka yang memegang kendali, pastinya para cewek itu juga sudah mempersiapkan diri. Seperti para cowok dengan jamu Jejen, mungkin para cewek itu juga sudah meminum obat tertentu. Ketakutan Asep mulai hilang sedikit demi sedikit.


Asep menarik nafas mencoba menenangkan pikirannya, melupakan pertanyaan dan kecemasan yang masih bersarang di benaknya. Dia memandang sekeliling arena pertarungan semalam. Bagaikan medan perang setelah pertempuran selesai, ruangan itu begitu sunyi. Terlihat Ari tergeletak dengan Dita dan Dinda disebelahnya. Ketiganya bugil tentu, karena mereka semalam langsung tertidur setelah selesai threesome. Irma tertidur di atas sofa. Setelah menguras isi kontol asep semalam, Irma langsung ke kamar mandi meninggalkan Asep terlelap di karpet ruang tengah. Tapi Irma sepertinya tidak sempat berpakaian karena gadis itu tidur di sofa masih dalam keadaan telanjang bulat. Toh yang lain juga sama saja bugil. Di pojok lain nampak Eci yang tertidur di atas tubuh Reza. Kontol Reza walaupun sudah menyusut masih menempel dalam memek Eci. Jejen entah di mana.


Walaupun tubuh putih mulus Dita yang terlihat paling menggoda, Asep lebih fokus ke satu orang: Dinda yang terlentang agak jauh dari Dita dan Ari. Tubuh polosnya tergeletak begitu saja dengan kaki mengangkang memperlihatkan belahan memek pinknya yang begitu menggoda. Mengundang kontol siapapun untuk mencoblosnya. Dan ketika terlihat oleh Asep, kontolnya kembali menegang. Entah berapa lama efek dari jamu Jejen, tapi tanpa obat pun laki-laki normal akan ngaceng melihat pemandngan itu. Asep menelan ludah, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk langsung menyumbat lubang merekah itu dengan batang kerasnya.

Tapi masa main coblos aja sih gua? Batin Asep

Lagi-lagi Asep teringat permainan malam sebelumnya. Semua teori tentang seks yang dia pelajari seolah-olah terlupakan malam itu. Tak ada foreplay, mood making dan persiapan lain. Semuanya, termasuk Asep sendiri main coblos langsung hajar, dan para gadis itu tidak keberatan. Bahkan mereka terlihat menikmati. Secara teori memang salah, pikir Asep. Mestinya ada tahapannya dulu. Tapi anehnya ada kepuasan tersendiri yang dialami Asep. Seolah, insting primitifnya sebagai lelaki yang dominan dalam bercinta bangkit. Dengan langsung hajar tanpa harus membuat basah lawan mainnya, seorang lelaki bisa menunjukkan dominasinya. Dipikir-pikir, buat lelaki tak perlu foreplay. Asal senjatanya sudah siap, bisa langsung dipakai kawin. Foreplay utamanya buat perempuan, untuk memancing mood dan birahi mereka. Juga agar kelamin mereka terlumasi sehingga siap menerima tamu yang akan datang.

Nah kalau mereka para wanita sudah gatal minta langsung dicoblos, ya apa salahnya?


Masalahnya sekarang Dinda masih tidur. Mungkin dia akan marah kalau Asep langsung menyetubuhinya tanpa persetujuan. Tapi pemandangan itu begitu menggoda. Kontol Asep sudah begitu keras. Keinginannya untuk langsung menusukkan senjatanya ke lubang nikmat Dinda sudah tak bisa dibendung lagi.

Cukup ah mikirnya, pusing gua; Asep mengambil keputusan: dia akan menerima undangan memek itu. Dihampirinya Dinda dan segera diarahkannya kontol saktinya ke dalam memek Dinda.

“Mmmhhmm..” Dinda menggumam pelan dengan mata masih terpejam saat kontol Asep menusuk memeknya

Asep diam merasakan jepitan hangat dan basah memek Dinda untuk beberapa saat sebelum dia mulai menggerakkkan kontolnya pelan-pelan. Pompaan kontol di memeknya membuat Dinda terbangun. Dia membuka matanya dan menatap Asep sayu.

“Ah, Asep iih..nyoblos teu bilang-bilang” desahnya sambil tersenyum

“Hehe, sori ya Ceu”

“iiya..terusin sep” rengek Dinda lirih sambil kembali memejamkan matanya

Asep lega Dinda tidak protes Asep mencoblosnya begitu saja. Asep menjawab permintaan Dinda dengan menaikkan tempo genjotannya walaupun masih dengan gerakan lembut. Mengingat keduanya baru bangun, dan juga karena Asep tidak ingin membangunkan yang lain.


Dinda mendesah “ah” dan “mmh” pelan berulang-ulang dengan mata masih terpejam. Asep begitu menikmati persetubuhan yang syahdu ini. Tak seintens sebelumnya tapi terasa lebih nikmat. Dibayangkannya hanya ada dirinya dan Dinda di situ, tanpa ada yang lain termasuk Eci yang selalu cerewet mengingatkan untuk tidak membawa perasaan.

Asep menggenjot memek Dinda dengan penuh perasaan, penuh cinta di setiap tusukan kontolnya. Dan memek Dinda seolah memeluk kontolnya dengan hangat dan mesra.

“Seeep...” Dinda menggumam lirih

“Iya knapa Da?”

“Kontolnya gesekin ke kiri dikit...”

“Di sini?”

“Ahh..iiya trus..gesekin situ sep..”

Dinda membimbing Asep untuk menggaruk bagian memeknya yang paling sensitif, dan begitu Asep bisa memenuhinya tanpa kesulitan, lenguhan Dinda semakin keras.

“Aaahh, iiyaaa...enak banget...aduhh..hhhhmmmhhhh”

Erangan manja Dinda membuat Asep tambah semangat

“Anto ga bisa nyampe ke situ...” gumam Dinda menyebut nama pacarnya

Tahu dirinya bisa memberi kenikmatan lebih dari pacar Dinda membuat Asep tambah semangat

“Aahh, Aseeeppp...”

“Iya Dinda...”

“Akhu mau nyampee..mmfffhhh” lenguh Dinda makin keras

Dinda menjerit lirih sambil menggenggam tangan Asep dengan keras. Tubuhnya menggelinjang dan tersentak-sentak. Kedutan di memeknya membuat kontol Asep serasa diurut, persis seperti yang dilakukan memek ajaibnya Dita.

“Enak?” tanya Asep penuh perhatian saat orgasme Dinda selesai

Dinda hanya melirik Asep dengan matanya yang indah itu sambil tersenyum kecil dan mengangguk pelan.

“Asep belum keluar ya?”

“Iya sih, belum..”
“Sini aku sepongin aja”

Asep sebenarnya ingin melepas pejunya dengan penuh cinta dalam memek Dinda, tapi dia tidak memaksa. Begitu Asep melepas kontolnya dari lubang memek yang basah milik Dinda, gadis asal Garut itu bangkit dan segera merangkak mendekati kontol Asep. Diciumnya ujung kontol Asep yang berlumur cairan cintanya sendiri.

“Makasih ya tol udah bikin aku enak hihi”

Dan slurp! Hilanglah kontol Asep dalam mulut Dinda. Dengan cekatan Dinda mengulum kontol Asep bagai lolipop. Permainan mulut dan lidah Dinda membuat Asep kelabakan. Tak berapa lama cairan kental menyembur dari kontol Asep langsung ke dalam mulut gadis pujaan hatinya itu. Dinda membiarkan kontol Asep berhenti berkedut dan mengeluarkan isinya dulu. Kemudian tanpa canggung Dinda menggunakan lidah dan bibir tipisnya untuk membersihkan kontol Asep dari segala macam cairan yang menempel di situ.


Dinda memandang Asep sambil tersenyum, lalu dia membuka mulutnya memperlihatkan peju Asep di dalamnya. Dan dengan ekspresi binal dia menelan seluruh cairan kental itu dengan sekali teguk. Asep terpana melihat keliaran gadis yang sehari-harinya alim itu.

“Dari kemarin aku belum nelen peju, hehe, makasih yah Sep” ujar Dinda santai

Asep sesaat merasa bahagia, tadi malam dia masih grogi dan bingung jadi dia tidak bisa mengingat detil persetubuhan pertamanya dengan Dinda. Tapi barusan, dia bisa merasakan nikmatnya bercinta dengan orang yang dia kasihi. Tak seintens sewaktu dengan Irma tadi malam, tapi yang ini jauh lebih nikmat. Seandainya hanya ada mereka di situ, mereka akan melewatkan seharian berdua; makan berdua, mandi berdua...Dengan asumsi Dinda juga punya perasaan yang sama dengannya. Sekarang, bisa jadi Dinda masih menganggap Asep sama seperti yang lainnya: hanya sebagai alat pemuas nafsu. Sadar perasaannya hanya sepihak, Asep kembali galau. Ibarat terbang tinggi sebentar lalu kembali jatuh ke tanah.


“Iiih kalian, pagi-pagi udah ngentot aja ga ngajak-ngajak ah” tegur Eci tiba-tiba mengagetkan mereka

“Udah siang gini kali mbak” tukas Dinda santai

“Udah terang yaa..eh, Asep kok ga sama aku siiihh” rajuk Eci

Asep nyengir “Waduh mbak, tadi saya liat mbak masih nempel gitu deh sama si Reza hehe”

“Yah, sep, coblos mah coblos aja. Ato mau lubang yang ini tinggal coblos aja” goda Eci sambil menggoyangkan pantatnya yang bahenol tanpa malu membuat Asep rada jengah.

“Biasanya kalo kita pesta nginep gini, mbak Eci yang duluan bangun” jelas Dinda

“Iiya dongs, ngentot pagi-pagi tuh rasanya ser ser gitu hahahaha” timpal Eci dengan heboh

Asep ikut tertawa walau dalam hati perasaannya berkecamuk. Apakah setelah hari ini dia bisa memandang para gadis rekan kerjanya itu dengan perasaan yang sama? Ataukah imej Dita, Irma, Eci, dan Dinda yang alim di kantor selamanya akan terganti dengan imej wanita haus seks yang tak malu untuk nungging dan memohon untuk dientot? Syarat pertama yang diajukan Eci ternyata lebih berat yang dia duga.


Asep memutuskan untuk tidak memusingkan hal itu dulu sekarang. Dia berdiri dan melangkahkan kaki ke arah kamar mandi. Tapi belum juga sampai ke sana, Asep mendengar suara dari dapur.

Dilihatnya Jejen sedang menggenjot tubuh Dita dari belakang. Gadis itu bertumpu pada meja makan dan sedang berusaha mengoles mentega ke roti tawar. Tentu usahanya sia-sia karena genjotan Jejen merusak konsentrasinya. Sedangkan di sebelah kiri Jejen tampak Irma berdiri dengan sebelah kakinya berpijak ke kursi meja makan. Dua jari tangan Jejen tampak keluar masuk memek Irma yang mengangkang dengan cepat. Sementara si pemilik memek asyik memagut bibir pria buruk rupa yang sedang menyetubuhi sahabatnya.

Tampaknya kedua gadis itu bangun saat Asep sedang memadu nafsu dengan Dinda tadi. Asep sudah kebelet jadi dia tidak terlalu mempedulikan mereka.

Suara orang-orang itu terdengar sampai kamar mandi, mengiringi Asep yang sedang kencing di sana.

“Ahh Mas Pepeeen...aku lagi bikin roti” desah Dita

“Cluurpp...Iiyah nih Mas Jejen, liat Dita lagi nungging langsung maen coblos aja” bela Irma

“Mana coloknya ke situ lagi...mhhh” tambah Dita

“Tapi situ seneng pan disodomi heuheu?” goda Jejen yang membuat Asep nyaris terpeleset di kamar mandi mendengarnya

“Iiya...hehe...enak juga...aduuhhhh...”

Waduh, ternyata Dita juga sudah tidak perawan pantatnya, pikir Asep. Dan ternyata Jejen memang spesialis pantat, sesuai tampangnya.

***

Mereka makan siang bersama di sebuah restoran. Asep merasa aneh melihat para gadis itu kembali berpakaian dan berdandan rapi, setelah semalaman dibombardir pemandangan tubuh telanjang mereka yang banjir keringat. Semuanya bersikap normal, seperti yang Asep kenali sehari-hari. Padahal tadi malam mereka berpesta birahi seperti binatang. Ekspresi para gadis yang begitu menikmati disetubuhi oleh para lelaki yang bukan pasangan mereka tak bisa hilang dari ingatan Asep. Jilbab mereka yang sampai acak-acakan dan basah oleh keringat sekarang begitu manis, bersih, dan rapi. Begitupun tubuh bugil mereka yang tadi malam Asep sentuh sekarang rapat terbungkus. Yang beda hanyalah cara jalan Eci yang sedikit mengangkang. Maklum, habis digenjot depan belakang sampai lewat tengah malam.

“Mbak, abis ini ada games lagi?” tanya Irma sambil menyeruput minumannya

“Ow iya dongs, aku punya ide, trus Ari juga punya ide” jawab Eci

“Tumben lo bisa mikir Ri!” ledek Reza yang hanya dibalas Ari dengan nyengir kuda

“Sep, punya ide juga?” tanya Dinda tiba-tiba membuyarkan lamunan Asep

“W-wah, kalian juga tau lah gua mah bukan tipe kreatip...”

“Yaa kirain punya ide gitu anggota baru, hehe” senyum Dinda membuat salah tingkah

Ide gua ya pengennya ngentotin lu seorang selamanya ga pake yang lain, batin Asep


Begitu kembali ke villa, Asep masih mengunci pintu gerbang ketika didengarnya suara heboh Eci

“Rezaaa ambilin karpet yang di gudang! Cuacanya cerah jadi kita main di luar!”

Hah? Pikir Asep, di luar?

Benar saja, setelah Asep menembus rumah menuju halaman belakang yang cukup luas, dilihatnya Reza dan Jejen sedang menggelar karpet tipis di atas rumput. Sedangkan para gadis dengan cueknya menelanjangi diri.

“Mas Asep gerbangnya udah dikunci?” tanya Irma yang payudaranya sudah menghirup udara bebas

“Sudah Mbak, ini kuncinya...”

“Simpen aja di situ”

Seperti tadi malam para gadis itu telanjang bulat tapi masih menyisakan jilbab. Asep yang masih bengong ditegur Ari.

“Sep! Hayu, geus pada buligir yeuh!”

“Ini beneran nih maen di luar? Gak takut ketauan apa?” tanya Asep

“Moal atuh Sep, noh liat temboknya tinggi gitu, trus gak ada villa lain di sekitar,’

“Ah tapi masih was-was gua mah...”

“Tenang Sep, udah sering kita mah kalo lagi gak hujan...” Ari meyakinkan Asep


Masih ragu, Asep melangkah ke arah karpet. Di sana, para maniak seks itu sudah mulai saling menggoda satu sama lain. Asep cemburu melihat Dinda digerayangi Reza. Gadis pujaan hati Asep itu tertawa-tawa senang sambil sesekali mendesah saat Reza memeluknya dari belakang dan memainkan puting susunya.

“Mbak Eci, minta jatah waktu bebas satu ronde dulu dong” tawar Reza

“Kenapa sih Mas Reza, kalo males ikut games lagi tenang aja, sekarang ada hadiahnya” balas Eci yang sedang mengocok kontol Ari

“Bukan gitu mbak, saya belom dapet jatah nih tadi pagi. Noh si Asep ama Jejen udah, mana si Jejen maruk lagi ngegarap dua orang pagi-pagi” Jejen yang sedang mengobel memek Irma hanya nyengir

“Gua juga belom” timpal Ari

“Hmmm...Ya udah satu ronde aja ya, trus kita mulai gamesnya...Ri ayo sama aku” Eci menyetujui proposal Reza, sambil menggamit tangan Ari dan membawanya ke pojok halaman

“Yes! Ayo Dinceu, gua crotin di dalem ya, tadi malem kan belom” ujar Reza sambil semakin agresif menggerayangi tubuh Dinda

“Haha, nafsu banget sih ama gue, hayoh sok weh crot di dalem. Yang banyak siah” jawab Dinda santai


Asep semakin cemburu. Sial, rutuknya, kalah cepat sama Reza. Tapi kalau dia terus memonopoli Dinda, yang lain bisa curiga.

“Mas Asep...”

Asep baru sadar dari tadi ada yang menggengam tangannya. Dita tersenyum manis di sampingnya sambil menatap mata Asep dengan mata sipitnya.

“O-Oh iyah Mbak? Mau maen sama sayah?”

Dita tidak menjawab pertanyaan Asep, tapi gadis itu tiba-tiba memeluk Asep. Sedikit berjinjit (karena tubuhnya sedikit lebih pendek dari Asep) Dita berbisik di telinga Asep.


“Aku tau kok kalo Mas Asep suka sama Dinda”

Asep hanya bisa mematung. Bisikan Dita sungguh di luar dugaan; butuh waktu lama buat Asep untuk merespon

“A-ah..s-saya mah...s-saya...” Asep tak bisa merangkai kata, apalagi dengan Dita yang terus menatapnya sambil tersenyum

“Sssst” Dita menaruh telunjuk di atas bibr tipisnya “Di sana aja yuk, Mas Asep”

Asep menurut saja ketika Dita menuntun tangannya ke tempat yang agak jauh dari yang lain. Sepanjang jalan pikiran Asep berkecamuk, bagaimanapun mungkin Dita tahu? Asep tak pernah cerita ke siapapun. Atau dia hanya menebak-nebak saja? Mengingat Dita dekat dengan Eci, bahaya kalau dia sampai bilang-bilang ke Eci. Asep harus mencoba menyangkal.

Dua manusia berlainan jenis yang telanjang bulat itu sampai di tempat yang diinginkan Dita. Dengan santainya Dita berbaring, mengangkangkan kakinya hingga terlihat memek pink dengan jembut tipisnya.

“Ayo Mas Asep, di atas yaa” rajuknya

Dengan ragu, Asep mengikuti perintah Dita. Pelan, Asep memposisikan tubuhnya di atas tubuh Dita yang terlentang. Lalu dia menurunkan tubuhnya untuk menindih Dita, tapi tiba-tiba Dita memeluk Asep dengan erat sehingga dada kurus Asep langsung menempel di bukit empuk gadis berjilbab itu. Dalam posisi itu kepala mereka berdekatan, dan Dita kembali berbisik di telinga Asep.

“Aku perhatiin dari dulu kok Mas Asep...Aku bisa liat Mas Asep ada rasa sama Dinda”

“Nggak Mbak, saya mah gak ada rasa sama Dinda” sangkal Asep, sama-sama berbisik walaupun mereka sudah cukup jauh dari yang lain. 

“Masa?”

“Iyalah Mbak, kan Dinda mah udah punya pacar”

“Apa hubungannya?”

“Eh?”

Asep mengangkat kepalanya. Dita lagi-lagi menatapnya dengan senyuman manis yang akan membuat siapapun meleleh. Kecuali pria yang otaknya sedang dipenuhi wanita lain, seperti Asep.

“Justru Mas Asep gak cerita ke siapa-siapa, gak berani mulai PDKT karena Dinda udah ada yang punya kan? Tapi aku bisa liat kalo orang nyimpen perasaan terpendam”

Asep terdiam, dia ingin menyangkal tapi tak tahu harus berkata apa.


“Tenang aja Mas Asep, aku gak akan bilang-bilang ke si Mpok Eci” ujar Dita memutus lamunan Asep

“M-maksudnya?” Asep bingung

“Iiya...Rahasia Mas Asep aman kok sama aku”

Asep langsung sumringah “Wah...Makasih Mbak!”

“Berarti bener kan?”

“Hah?” senyum Asep langsung hilang

“Hehehe, tadi Mas Asep gak langsung ngakuin sendiri” ujar Dita santai sambil tertawa kecil

Ah, sial! Kena jebakan deh gue, batin Asep

“Yaa, asal jangan bilang siapa-siapa lagi ya Mbak. Bukan masalah aturan pesta ini aja, tapi juga sayah gak enak sama Dinda sama yang lain, apalagi pacarnya si Anto” Asep yang sudah lega mulai tak sungkan curhat.

“Iiya, aku ngerti kok..Mas Asep bisa cerita sama aku..eh tapi ngomong-ngomong..”

“Apa Mbak?”

“Masukin dong”

Dita melepas pelukannya hingga Asep bisa mengangkat badannya

“Oh...I-iya Mbak” Asep bergegas mengecek kontolnya dan hebatnya, kontol itu sudah mengeras tanpa dia sadari. Amejing! Hanya dengan ditempel tubuh Dita, batang itu bisa tegak dengan sendirinya. Kalau sudah begini, siapa yang butuh foreplay? Bukan Asep, bukan juga Dita karena begitu Asep menusukkan pedangnya ke lubang nikmat Dita, gua itu sudah cukup basah dan merekah.


“Mmmmmhhhh...” Dita melenguh dengan mata terpejam, menikmati sensasi birahi yang menjalar tubuhnya. Begitu juga Asep yang kembali merasakan kedutan memek ajaib Dita. Sensasinya benar-benar luar biasa.

“Mas Aseeep...” Dita merajuk dengan lembut “Aku punya request tapinya yaaa...”

“Rikues?”

“Iiya, gantinya aku pegang rahasia Mas Asep, aku minta Mas Asep menuhin penginnya aku..”

Wah sial nih, ternyata ada bayarannya juga, batin Asep.

“Gak susah kok requestnya hehe. Aku cuma pengen...” Dita sengaja tidak melanjutkan ucapannya

“Pengen apa Mbak?”

“Aku pengen Mas Asep ngentotin aku kayak Mas Asep sama Dinda tadi pagi...Kayaknya mesra banget deh hehe” pinta Dita dengan suara manja

“Ah Mbak, saya mah pelan-pelan waktu itu soalnya kita baru bangun” elak Asep

“Hmm, tapi Mas Asep maennya pake perasaan kan?”

Asep menggaruk-garuk kepalanya “Iya deh Mbak, saya coba”


“Nah gitu dong, aku juga bantu kok” Dita tersenyum lalu lalu menarik kepala Asep dan mencium bibirnya. Mau tak mau Asep membalasnya. Ciuman Dita begitu lembut, seperti ciuman dari seorang kekasih. Beda dengan pagutan penuh nafsu Eci tadi malam, juga sewaktu dengan Dinda pertama kali. Asep seolah diajari Dita cara menyampaikan perasaan lewat ciuman, sesuatu yang dia lupakan di pesta asal coblos ini. Sementara di bagian bawah, Asep mencoba menyeimbangkan kecepatan dengan intensitas. Daripada mengejar jumlah tusukan per menit, Asep lebih memilih untuk memompa lubang nikmat Dita dengan tusukan-tusukan panjang dengan sedikit gerakan memutar. Aksinya ini dibantu oleh Dita yang juga menggerakkan pinggulnya sesuai ritme genjotan Asep. Bahkan gerakan dinding memek Dita yang mengagetkan Asep tadi malam juga lebih lembut, seperti memeluk dan memijat-mijat batang keras Asep yang bertandang ke sana.


Ketika bibir mereka terlepas selesai berciuman mesra, bibir tipis Dita mengeluarkan desahan manja dengan matanya terus menatap mata Asep.

“Ahhhmhhhhh...Mas Aseeeepppp...” Dita memanggil nama Asep dengan suara semesra mungkin

“Mbak Ditaaaa....” Asep membalas

Asep tahu betul Dita berusaha untuk berperan sebagai kekasih di sesi persetubuhan ini. Memang tak mungkin Asep melupakan Dinda begitu saja, pun tak mungkin Asep akan memperlakukan Dita seperti Dinda. Perasaan tak bisa dibohongi. Baik Asep dan Dita tahu itu. Maka Asep berusaha memainkan perannya, mencoba memperlakukan Dita selembut dan semesra mungkin. Berharap kejadian tadi malam terulang, ketika Asep bisa fokus menyetubuhi Irma membiarkan instingnya bekerja, terisolir dari pikiran lain yang mengganggu. Dan tampaknya Dita tahu itu dan membantu dengan mengajak Asep bercinta di tempat yang agak jauh dari yang lain. Agar Asep tidak terganggu dengan Dinda yang sedang asyik masyuk disetubuhi Reza.


Dan sepertinya usaha mereka berhasil. Asep mulai membiarkan instingnya mengambil alih. Dia terus menumbuk memek Dita tanpa perlu berpikir, dengan tempo natural menimbangi gerakan pinggul Dita. Jelas, sensasi lubang basah Dita yang memijat batang kerasnya adalah yang paling nikmat. Tapi kehangatan badan Dita juga membangkitkan birahi Asep ke awang-awang. Posisi misionaris adalah posisi yang memungkinkan kedua orang yang terlibat menyentuhkan kulit mereka semaksimal mungkin. Buah dada Dita yang empuk terhimpit dada Asep yang kurus. Puting susunya yang kenyal bergesekan dengan kulit dada Asep yang kasar dan sedikit berbulu, memberi sensasi nikmat bagi keduanya. Sementara kaki Dita sudah naik mengunci kaki Asep, seolah tak rela melepas pria yang sedang menyetubuhinya itu. Tangan Dita juga tak tinggal diam, sesekali dia merabai punggung Asep yang membuat pria berkulit gelap itu menggelinjang, Kadang tangan Dita mencengkram erat lengan Asep yang kurus namun berotot.


Saking nikmatnya, keduanya sesekali memejamkan mata meresapi kenikmatan birahi. Tapi ketika mata mereka terbuka, mereka saling menatap dan memanggil nama masing-masing.

“Mas Asseeeppphhhh...”

“Mbak Ditaaaahhhh...”

Kalau sudah begitu mereka lalu berciuman mesra. Begitu nikmatnya, sesekali Asep merasa cengkraman tangan Dita tiba-tiba menguat, kakinya semakin memeluk erat, begitu juga dinding kelamin Dita yang mencengkram lebih erat diiring erangan lirih. Asep semakin takjub dengan Dita; gadis itu bisa berekspresi dengan liar seperti tadi malam sewaktu disetubuhi Jejen, tapi juga bisa mengekspresikan puncak birahinya dengan elegan seperti ini. Di balik wajah kalem dan imej alimnya, Dita seperti mesin seks yang sempurna. Selain tubuhnya Dita punya skill yang lebih dari yang lain. Memang yang lain juga tidak kalah, terutama soal agresivitas dan stamina Eci adalah yang paling ganas. Tapi Dita seolah-olah yang paling berpengalaman daripada yang lain.


Sementara Dita sukses menggapai orgasmenya berkali-kali, Asep juga hampir mencapai puncak. Sekarang tangan mereka saling berpegangan erat seperti sepasang kekasih. Memek Dita semakin intens memijat kontol Asep yang menggenjotnya.

“Mas Aseep...Mas Aseeppp....Ahhh Mas Aseeppppp!!!!”

Dan Dita memanggil-manggil namanya, terus mendorong birahi Asep ke puncak tertinggi. Akhirnya Asep serasa melihat sekelebat sinar, rasa nikmat menjalar dari tulang belakang ke kelaminnya, dan...

“Arrghhhhh...Mbak Ditaaaaaaaaaa!”

CROTT CROTT CROTT

Tubuh Asep gemetar saat air maninya memancar menemprot rahim Dita. Gadis itu juga ikut tersentak, matanya terpejam. Rasa hangat di organ intimnya memberi rasa damai di benak Dita.


Keduanya terdiam, saling menindih mengatur nafas masing-masing. Ketika rasa itu reda, Asep menggulingkan tubuhnya berbaring di samping Dita.

“Enak..huff...huff...gak...Mas Asep?” tanya Dita yang masih ngos-ngosan

“Iyah..haahhh...Mbak gimana?”

“Banget...Aku dapet banyak...Gak keitung hahah”

Asep bangkit untuk duduk, diikuti Dita

“Makasih ya Mbak pelajarannya” cetus Asep tiba-tiba

“Ih, emang aku ngajarin apa?” tanya Dita heran

“Banyak deh Mbak, saya belajar banyak tadi”

“Ah Mas Asep, tadi Mas Asep itu pake insting sendiri...Yakin deh, Mas Asep punya potensi alami”

Asep manggut-manggut. Tapi dia masih punya pertanyaan di benaknya.

“Eh Mbak, maaf ya tapi ngeliat semalam sama Jejen saya kira Mbak seneng rada kasar gitu, hehe”

“Oooh, aku sih emang biasa maen kayak gitu, tapi aku juga pengen dong nyoba yang rada lembut dikit. Tuh cowok-cowok itu gak pada bisa diajak slow dikit. Yah bukannya aku gak seneng, aku juga pengen ngerasain seks yang kayak tadi...” jawab Dita cuek

Asep kembali manggut-manggut ketika Dita menggumam dengan suara pelan “Kan aku juga cewek...”

“Hmm? Tadi ngomong apa Mbak?”

“Mmm...Bukan apa-apa kok...Yuk ah balik ke yang lain, udah pada nungguin pasti”

Dita berdiri, melangkahkan tubuh bugilnya yang putih mulus di bawah sinar mentari sore.


Asep dan Dita berjalan beriringan ke tengah halaman. Di sana Reza, Dinda, dan Irma sedang duduk-duduk sambil mengobrol. Jejen sedang merokok di pojokan. Tampaknya acara gulat birahi mereka juga sudah selesai. Dengan santainya, masih dalam kondisi bugil mereka bercengkrama tanpa beban. Asep sedikit iri melihatnya. Asep juga sebenarnya ingin menikmati pesta ini tanpa dibebani apapun.

“Beres Sep?” tanya Reza begitu Asep duduk

“Ya iyalah, kalo belum ngapain gua balik sini” jawab Asep

“Heheh, lo juga kemarin malem belom sempet ngecrot di dalem Mbak Dita kan? Gua juga baru hari ini bisa puas ngecrotin memek si Dinceu” Dinda hanya tertawa mendengar perkataan Reza, tak tahu bahwa hati Asep tak menentu mendengarnya.

“Eh Asep ngapain tadi maennya jauh amat?” tanya Dinda tiba-tiba

“Oh? I-itu..”

“Biar gak keganggu si Irma, suka berisik tuh anak kalo lagi maen” jawab Dita cepat membantu Asep

Mata bulat Irma melotot “Iih, enak aja, emang aku segitu berisiknya...nggak kan Reza?”

“Dih, tadi aja dia teriak-teriak ‘aduh memek aku Mas Jejen’ kenceng banget dah” goda Reza menirukan Irma. Kontan Irma yang kesal memukul-mukul tangan Reza, sambil tergelak Reza menambahkan “Si Jejen sampe panik nyuruh si Irma diem takut kedengeran orang, beneran Mbak!”. Mereka tertawa-tawa sambil saling meledek, sampai Dita teringat sesuatu.

“Eh jadi ini gimana nih gamesnya?” tanya Dita

“Lah Mbak Eci-nya mana? Yuk kita susul aja” usul Dinda

“Jangan-jangan belum beres maennya tuh berdua” Irma menimpali


Dan memang Eci dan Ari masih belum selesai. Eci masih bergoyang dengan intens di atas badan Ari yang terlentang. Nafas Eci memburu bersahutan dengan erangan erotisnya. Tangan Eci mencengkram payudaranya sendiri dan meremasnya dengan liar seperti kesetanan. Sementara Ari hanya diam terlentang tak bergerak. Tampak mukanya meringis seperti menahan sesuatu, membuat Asep merasa kasihan melihatnya.

“Hey Mpoook!” tegur Dita

Eci yang dari tadi terus menengadah sambil terpejam membuka matanya dan menengok ke arah rombongan.

“Ohh..Udah pada beres yahh..Bentarr aku dikit lagi ahhhh!”

“Huu malah yang paling lama maen” gerutu Reza

Tapi Eci cuek aja, sambil terus mengerang dia memberi Ari instruksi terakhir “Ariii keluarin ajjah...Ahh..Gak usah...Ditahan lagi...Ahhhh”

“I-iya Mbak...Gaaahhhh!” Ari pun ikut mengerang

Gerakan keduanya terhenti, hanya sesekali tubuh Eci tersentak-sentak. Eci yang disembur air mani Ari orgasme di depan mata teman-temannya. Melihat betapa agresifnya Eci, Asep jadi sedikit takut.

“Haahhh...Puas deh guee..Oke guys, rehat bentar 10 menit yah, aku mau minum dulu” setelah beberapa detik terdiam menikmati orgasmenya, Eci dengan santainya berdiri mencabut memeknya dari kontol Ari yang sudah layu. Dengan agak sempoyongan Eci berjalan ke arah dapur dengan cairan kental menetes-netes dari selangkangannya.


”Ri kok kalo sama aku kemaren kok keluarnya cepet sih, gak kayak tadi” Irma bertanya sambil manyun

Ari yang masih terlentang kelelahan di karpet hanya nyengir.

“Gua diancam Ir, katanya ‘awas aja kalo keluar duluan sebelum aku suruh’. Takut gua”

“Yaelah si Mpok” Dita hanya geleng-geleng kepala. Memang Ari adalah yang paling pasif di antara mereka, jadi cocok buat Eci yang dominan. Reza dan Dinda tertawa, tapi Asep jadi kepikiran. Wew, serem juga si Mbak Eci. Diliriknya Dita di sebelahnya. Jangan sampe rahasia gua bocor deh, pikir Asep sambil menelan ludah.

Jejen yang baru bergabung cengar-cengir dengan muka bloon “Ada apah ini teh rame-rame?”

***


Ternyata lomba yang direncanakan Eci adalah...balap karung. Dengan para cewek sebagai karungnya. Lomba yang aneh tapi Asep ikut saja, lumayan buat break dari persetubuhan tanpa henti hari itu. Jadi di halaman belakang yang luas itu para cowok akan berlari ke arah para cewek yang sudah menunggu. Lalu para cowok harus menggendong pasangannya kembali ke posisi start, lalu balik lagi ke finish. Dan karena ini pesta seks, tentu bukan digendong biasa. Tapi posisi dimana para cewek memeluk pasangannya dari depan, kemudian menggantungkan kakinya di pinggang para cowok yang menahan beban tubuh pasangannya dengan tangan mereka.

“Jangan asal gendong dan lari. Kontol kalian harus masuk ke memek kita-kita. Terus biar ceweknya ada peran, harus ngegerakkin pinggulnya mompain kontol pasangannya. Biar adil kan, gak cuman cowoknya aja yang kebagian capek” Eci memimpin briefing

“Wah kalo gitu mah susah atuh sambil lari” protes Jejen

“Ya jangan lari aja, secepet-cepetnya kalian bisa gerak. Yang ngelanggar diskualifikasi OK?”

Asep mengangkat tangan “Kalo kita semua ikut, atuh siapa yang nanti mastiin gak ada yang curang?”

“Hmm...bener juga ya...” Eci tampak berpikir “Aku sih pikirannya semua bakal main fair tapi...”

Giliran Ari yang mengangkat tangan “Saya ajah Mbak, saya jadi wasit! Masih cape nih”

“Trus kurang dong orangnya?” protes Irma 

“Yah udah, kalo gitu aku juga gak ikut, pas kan. Aku ngawasin aja” Eci memberi solusi, yang membuat Ari lega karena sebelumnya dia khawatir bakal dimarahi Eci.


Beberapa lama kemudian, persiapan dimulai. Para cowok yang jadi peserta sebelumnya dikocok dan disepong dulu oleh para cewek agar kontol mereka kembali tegak, sambil pemanasan.

“Oke, para cowok ngambil undian nentuin pasangannya. Kalo gak, semua pasti bakal milih Dinda yang paling ringan” perintah Eci sambil menunjuk Dinda yang mulutnya sedang dipenuhi kontol Jejen. Nampaknya kali ini bukan hanya Asep yang menginginkan Dinda.

Bergiliran Reza, Asep, dan Jejen mengambil lintingan kertas yang dibuat Dita. Asep agak terbelah dua soal ini. Di satu sisi, kalau dia dapat Dinda, Asep bisa berpasangan dengan gadis pujaannya itu di lomba ini. Tapi nantinya sulit baginya untuk mengambil Dinda lagi setelah ini tanpa terlihat dia ingin memonopoli.


...Dan Asep pun mendapat Dinda sebagai pasangannya.

“Selamat yaa Mas Asep...” ucapan selamat Dita oleh yang lain dianggap biasa saja, karena Asep jadi unggulan dengan mendapat beban paling ringan. Tapi melihat senyum dan tatapan mata Dita, Asep tahu Dita punya makna lain.

Jejen mendapat Irma, jadi Reza dapat Dita. Irma memang langsing, tapi tubuhnya tinggi sehingga agak sulit buat digendong Jejen, kedua terpendek setelah Ari. Dita memang tidak terlalu gemuk sebenarnya, tapi Reza adalah yang paling kurus di antara yang lain. Sementara Dinda, tubuhnya setinggi

Dita tapi selangsing Irma. Cocok buat Asep. Hmm, memang tubuh kita paling kompatibel, batin Asep.


Lomba absurd ini segera dimulai. Ari mengawasi di garis start, sedangkan Eci di garis finish tempat para gadis menunggu.

“Ayooo semangat semuanya!” teriak Eci

Para peserta pria bersiap di garis start. Bedanya dengan lomba biasa, selain telanjang mereka juga sibuk mengocok kontol masing-masing agar tetap tegak waktu sampai ke tempat pasangan mereka.

“Siaaaap...Mulai! PRITTTTT!” Ari meniup peluit yang dia dapat entah dari mana

Asep, Reza, dan Jejen berlari sekencang yang mereka bisa. Reza memimpin, diikuti Asep. Begitu sampai, dengan sigap Dita memeluk Reza dan meloncat ke pangkuannya. Agak susah, Reza mencoba memasukkan kontolnya ke memek Dita. Sebenarnya trik untuk posisi ekiben dari berdiri adalah penetrasi dilakukan sewaktu sebelah kaki si wanita masih menjejak tanah, sehingga minimal ada satu tangan si pria yang bisa membantu mengarahkan. Bila kedua kaki si wanita sudah terangkat, kedua tangan si pria sudah sibuk menopang paha pasangannya. 


Reza kehilangan sedikit waktu karena usaha penetrasi pertamanya gagal. Sementara Asep dan Jejen memilih untuk pelan-pelan yang penting berhasil. Eci hilir mudik mengawasi para peserta.

“Ayo masukin! Itu udah tuh Mas Jejen! Ayo!”

Jejen mulai bergerak, tapi kaki Irma yang panjang agak menyulitkannya. Irma sendiri berusaha menggerakkan pinggulnya sesuai aturan, yang membuat Jejen tambah kesulitan.

“Kalo ceweknya gak gerak, cowoknya juga gak boleh gerak!” seru Eci mengingatkan

Dinda melenguh saat kontol Asep menembus memeknya. Tangan gadis itu sudah melingkar di leher Asep, tinggal menunggu Asep mengangkat kakinya.

“Ahhh..Udah masuk Sep..”

“Iyah, siniin kakinya” sekarang Dinda sudah menggantungkan tubuhnya di pelukan Asep. Inginnya Asep sih Dinda juga menggantungkan hatinya (ngarep). Momen ini seharusnya indah, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk Asep menikmati.

“Ayo Sep, mulai, kita bisa menang nih!” seru Dinda

Mendengarnya Asep berpikir, bila mereka menang Dinda akan senang karena sepertinya dia semangat sekali di lomba ini. Yup, Asep memantapkan hatinya. Mungkin ini bukan apa-apa, tapi kalo dia bisa membahagiakan Dinda sekecil apapun, akan dia lakukan.


Asep dan Dinda memimpin, tak jauh Reza dan Dita semakin mempertipis jarak. Jejen dan Irma juga tak mau kalah. Jarak yang ditempuh memang tak terlalu jauh, tapi karena mereka tak bisa bergerak terlalu cepat maka lomba itu jadi lebih lama dari yang mereka duga. Para gadis mendesah dan sesekali menjerit, bukan hanya karena sedang menjepit kontol dengan lubang mereka, juga karena takut jatuh setiap kali pasangannya melangkah.

“Ahhahh..ahh..haaa.hhhaa...Asep...bentarrr..ahh..iiya ayo terus!” Dinda meracau sementara Asep berusaha keras untuk melangkah lebih cepat dari yang lain. Biar menang, demi Dinda.

Akhirnya Asep mencapai garis yang dijaga Ari, tapi tak lama setelah memutar balik, dia harus berhenti sebentar karena Dinda juga menghentikan gerakan pinggulnya. Tak lama, karena Dinda hanya mengambil nafas. Tapi momen itu dimanfaatkan pasangan Reza-Dita untuk menyusul Asep-Dinda. Pertarungan sengit terjadi. Jejen-Irma berusaha sekeras mungkin tapi tetap tertinggal di belakang.

“Mas Jejeeennn ayo cepetannn! Aku udah gerak terus nih!” protes Irma

“Beurat siah! Aduhh suku aing!” gerutu Jejen tak mau kalah


Akhirnya di pertengahan lintasan, Jejen tak kuat lagi. Dia terjatuh sambil mengaduh. Irma yang dipeluknya menjerit, untungnya mereka tidak terjatuh dalam posisi berbahaya. Eci dan Ari menertawakan mereka, tapi dua pasangan lain yang masih berlomba tak punya waktu untuk itu.

Asep-Dinda dan Reza-Dita sudah ¾ menuju garis finish. Asep mulai kehilangan tenaga, membuatnya hampir disalip oleh Reza yang lebih kurus dan membawa beban lebih berat.

Gawat! Reza sudah sejajar dengan Asep, sedangkan Asep semakin melambat. Padahal Dinda juga sudah berusaha sekuat tenaga terus bergerak agar Asep tidak perlu berhenti. Tapi kaki Asep sudah hampir tidak kuat. Persaingan keduanya terus berlangsung sampai menjelang garis finish. Perlahan Reza mulai sedikit lebih maju dari Asep. Butuh keajaiban buat Asep untuk menang...


Dan tiba-tiba Reza berhenti.

Reza tampak meringis dengan sebelah mata terpejam. Dita masih terus menggerakkan badannya di pelukan Reza.

“Mmmmbb-mbak stoop...Stoop dulu bentar...ini ngejepitnya...aduh!” teriak Reza

Asep tak menyia-nyiakan peluang. Dikerahkannya semua tenaganya yang tersisa, untuk menyusul Reza, dan akhirnya mencapai garis finish pertama.

“Yeey! Selamat buat Asep dan Dinda!” Eci meloncat-loncat kegirangan.

Begitu Dinda lepas dari pelukannya, Asep pun ambruk berbaring di karpet mengatur nafasnya. Dinda menyusul di sebelahnya.

“Capek Sep?” tanya Dinda, juga ngos-ngosan tapi matanya berbinar bahagia

“Ya pastilah”

“Sori ya aku berat, hehe” hilang sudah capek Asep melihat senyuman Dinda

“Ah, nggak kok, gua aja yang kurang stamina”

Dinda bangkit berdiri, tapi sebelumnya dia mencium bibir Asep “Mmmuah...Makasih ya Sep”

Asep terus berbaring dengan rasa bahagia. Tak jauh dari situ Reza terduduk kelelahan.

“Kok lo berhenti Za? Padahal tinggal dikit lagi menang” tanya Ari

“Itu tadi tiba-tiba memeknya si Mbak Dita ngejepit kontol gua keras banget, sakit banget dah”

“Maaf ya Mas Reza, aku juga gak tau kenapa kok bisa gitu” ujar Dita yang juga duduk dekat situ memasang tampang bersalah.

Mendengarnya Asep langsung terduduk. Kemampuan unik dari Dita adalah dia bisa mengontrol gerakan dinding memeknya. Jadi jangan-jangan...Dita tadi sengaja menghambat Reza agar Asep bisa menang? Masa sih? Asep menengok ke arah Dita. Dan sepintas dilihatnya gadis yang memegang rahasianya itu tersenyum penuh arti kepadanya. Hmm, kalau benar Asep harus berterima kasih nanti.


“Yupz! Pemenang games ini adalah Asep dan Dinda! Keduanya berhak mendapatkan reward!” seru Eci

“Yeeeyyyy!” yang lain bertepuk tangan

“Dan reward untuk mereka adalah....”
loading...