Cerita Seks : Pesta di Akhir Pekan 4







“Sebagai pemenang, Mas Asep bakal dilayanin sama kita bertiga dan Dinda dapat tiga cowok sekaligus!” seru Eci sambil bertepuk tangan
“Asik, sama tiga orang sekaligus, akhirnya ngerasain juga!” sorak Dinda bahagia
“Beuh, malah seneng dia...Hayu Jen, Ri, kita hajar sama-sama si Dinceu!” balas Reza
Dinda dan para cowok lalu sibuk berbalas ledekan. Sementara Asep tentu kecewa. Kalo gini ceritanya mending gak usah menang deh tadi, pikirnya. Tapi kalau mereka kalah pun, ya tetap saja mereka tidak akan berpasangan lagi. Yah, sudahlah. Mungkin memang takdirnya.
“Mas Asep gak usah tampang grogi gitu kalee” ujar Dita memecah lamunan Asep
“Hmm? O-oh iya Mbak, kaget saya nih sama tiga cewek sekaligus haha” Asep mencoba menutupi kekecewaannya
“Tenang aja Mas Asep...kita bakal melayani Mas Asep sepenuh hati” goda Eci dengan mata berbinar
“Cieee Mas Asep jadi raja sehari nih” timpal Irma

Reza yang menggamit tangan Dinda berteriak dari pintu belakang “Mbak Eci, gak harus maen di situ kan? Kita mau ngegarap si Dinda di kamar atas”
“Yoooooo” balas Eci tanpa menengok, dan Dinda beserta ketiga pria yang siap mengganyang tubuhnya itu pun menghilang di balik pintu.
Asep sedikit lega dia tidak harus melihat eksekusi Dinda di depan matanya, tapi tetap saja dia merasa cemburu. Dan Asep semakin dongkol ketika dia sadar bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tidak punya hak apapun untuk protes.
“Mas Asep gak usah pikirin macem-macem, nikmatin aja” saran Dita
“I-iya Mbak, hehe, grogi saya” Asep tahu yang dimaksud Dita adalah tentang Dinda
“Ya udah kalo Mas Asep belum panas kita aja yang mulai, ok gals? Aku punya ide” ujar Eci sambil berbisik bergantian ke telinga Dita dan Irma. Asep hanya bisa garuk-garuk kepala.

Asep kemudian dibimbing para gadis ke arah kursi panjang di teras belakang. Matahari sudah mulai condong ke barat saat Asep duduk menghadap halaman belakang yang luas. Seperti seorang raja minyak dengan haremnya, Asep diapit oleh Dita dan Irma di kanan kirinya. Oleh kedua gadis itu, tangan Asep diarahkan untuk merangkul bahu mereka. Dengan binal keduanya mulai menciumi leher Asep, membuat pria beruntung itu kegelian. Ditambah lagi gesekan empuk pabrik susu Irma dan Dita beserta puting mereka yang sudah menegang di kanan-kiri dada Asep. Tangan mereka membimbing tangan Asep yang sedang merangkul mereka untuk meremas payudara keduanya yang tidak sedang menempel di dada Asep. Puas mencumbui leher Asep, Dita dan Irma bergantian mencium mesra bibir Asep, mengajari pria lugu itu french kiss yang panas. Saat salah satunya mencium bibir Asep, yang lain turun mencumbui dada Asep. Kontolnya tak disentuh sama sekali, tapi perlakuan kedua gadis di bagian tubuh lainnya cukup untuk membuat senjata Asep terkokang siap untuk ditembakkan.
“Mas Asep susah panasnya tapi kalo udah mood maennya mantep gila..hmmmhh..cuupphh” goda Irma di sela-sela cumbuannya.

Tentu ada alasannya kontol Asep tidak mereka sentuh sama sekali. Karena benda yang mereka puja itu adalah jatahnya Eci sekarang. Asep tidak percaya ketika melihat Eci dengan binalnya merangkak ke arah selangkangannya. Di balik kacamata bingkai tebalnya, mata Eci tampak begitu fokus memandangi pedang Asep yang terhunus tegak. Begitu sampai, Eci langsung membenamkan kepalanya yang terbungkus jilbab di selangkangan Asep. Gadis bertubuh mungil itu menggesekkan wajahnya di batang Asep, persis seperti kucing yang merajuk minta makan dengan cara menggesekkan kepalanya di kaki majikannya. Hembusan nafas Eci begitu terasa di kulit kontol Asep yang sensitif, membuat Asep semakin geli-geli nikmat. Dan itu belum seberapa, karena kemudian Eci mulai menjilati peler Asep dengan lidahnya yang lembut, basah, dan hangat. Jilatan Eci di kulit peler Asep yang tipis begitu nikmat, lalu gadis itu semakin naik, dari pangkal kontol, ke bagian tengah, hingga ke ujung. Dirangsang seperti itu, Asep ingin bersuara mengekspresikan kenikmatannya...tapi tak bisa karena sekarang Dita dan Irma bergantian menyumpal mulut Asep dengan payudara mereka. Asep pun hanya bisa pasrah menyusu bergantian kanan-kiri. 

Bibir Eci yang lembut sudah di ujung kontol Asep sekarang. Bergantian mencium dan menjilati kepala kontol itu seperti es krim. Lalu HAP! Rahang Eci terbuka menelan kontol Asep, dan dalam sekejap batang sakti itu sudah terbenam seluruhnya. Karena mulut Eci yang mungil, kontol Asep sampai menyentuh ujung tenggorokan Eci yang lunak dan basah. Sensasi deepthroat ini sungguh membuat Asep yang masih terjepit gunung empuk semakin panas dingin, apalagi kemudian Eci menggerakkan kepalanya maju mundur, menyedot kontol Asep dengan syahdu dari pangkal hingga ke ujung. Bagai burung pelatuk, Eci menggerakkan kepalanya dengan cepat tanpa ampun. Suara sedotan dan hisapan mulut Eci memenuhi tempat itu.
“Sluuurrrpp...Phuaahh!” Eci akhirnya melepas mulutnya dari kontol Asep, air liur menetes-netes dari sudut bibirnya, bercampur dengan beberapa helai jembut Asep yang tercabut saking buasnya sepongan Eci.
“Ahh gila, sampe masuk ke tenggorokan gue...” gumam Eci sambil mengusap-ngusap lehernya. Lalu gadis berkacamata itu berdiri dan menaikkan tubuhnya ke pangkuan Asep. 
Saatnya penetrasi.
“Ahhh” lenguhnya saat kepala kontol Asep menyentuh bibir memeknya
“Hnngghhh” Eci mengerang sambil memejamkan mata ketika kontol Asep mulai melesak masuk ke memeknya yang mungil dan sempit itu
“Oooohhhh...Oohhhh” Eci mendesah lega ketika kontol Asep amblas seluruhnya. 
“Baru masuk ajah, udah enak ginih” racaunya sambil gemetar. 
Tampaknya Eci orgasme ringan dipenetrasi Asep.

Kontol Asep sudah dirangsang setengah mati, dan bagian atasnya pun tak mau kalah. Dua bukit susu menjepit Asep dari kanan-kiri. Bila salah satunya masuk di mulut, yang lain digesek-gesek ke wajahnya seolah ingin melukis pipi Asep dengan puting susu sebagai kuasnya. Diserang gencar seperti itu, akhirnya mesin Asep panas juga. Ah bodo amat sama si Dinda, mending hajar yang di depan mata ajah! Pikir Asep yang akal sehatnya sudah ditendang jauh-jauh oleh nafsu. Dan inilah yang diharapkan Dita, Irma dan Eci. Tangan Asep yang tadinya pasif, mulai bergerak. Mulanya dia mengelus-elus punggung Dita dan Irma yang membuat kedua gadis itu menggelinjang. Lalu turun ke bawah meremas pantat empuk mereka, tak lupa menepuk-nepuk buntalan lemak menggiurkan itu. Dan tangan Asep semakin turun, 
Hingga akhirnya sukses mencucuk memek Dita dan Irma secara bersamaan dengan jarinya.
“Ahhh..” Irma mengerang ketika jari Asep menembus belahan memeknya yang sudah sangat basah
“Akhirnyaa...Ahhh...Sukseess kita Ir...” racau Dita
“Iiyaahhh...Ahhh...Kalo udah gini Mas Asep mantep dehh” timpal Irma
Menggencarkan serangan, Irma dan Dita saling mendekat dan kedua sahabat itu pun berciuman mesra tanpa tanggung. Ini membuat kepala Asep semakin terjepit payudara mereka. Susu Dita yang montok dan empuk di kanan, dan susu Irma yang sedikit lebih kecil tapi padat dan sekal di kiri. Asep balas menyerang dengan semakin gencar mengobel memek keduanya dengan dua jari. Irma yang paling gampang orgasme pun bobol pertahanannya.
“Aduhh..Ahhh..Gua keluar..Ahh..Ditaaaa!” Irma menggelinjang, membuat payudaranya yang masih menempel di wajah Asep bergerak liar. 
Anjrit, seumur idup belom pernah gua mimpi nih mata nyaris kecolok pentil, pikir Asep. Sementara Irma sedang di awang-awang, Dita menurunkan tubuhnya agar bisa mencium bibir Asep. Sambutan ciuman Asep meyakinkannya bahwa keraguan Asep sudah hilang.

Di bawah sana. Eci dengan khidmat menggerakkan tubuh mungilnya di atas kontol Asep. Naik-turun, maju-mundur, diputar, digoyang, dikocok semuanya dia kerahkan. Dengan memek mungilnya gerakan apapun terhadap kontol Asep memberi Eci kenikmatan tiada tara. Bahkan dengan hanya diam pun, desakan kontol Asep yang sampai menyentuh bibir rahimnya sudah terasa nikmat; Tapi Eci ingin lebih dan lebih. Gerakan tubuhnya yang liar membuat buah dadanya memantul-mantul liar, keringat mengalir deras di tubuhnya walau cuaca mulai sejuk sore itu. Dan suasana sore yang damai itu pun dipenuhi suara kecipak memek banjir Eci yang sedang menggesek kontol Asep, diiringi lenguhan, erangan, desahan, dan pekikan nikmat ketiga gadis berjilbab itu. Eci terus mengejar kenikmatannya hingga akhirnya tubuh mungilnya tersentak, matanya terpejam dengan erangan nikmat keluar dari mulutnya.
“Gaahhhhhh..Ahhhhh!” erangnya sambil mengejang di atas pangkuan Asep.
Asep sukses mengantar gadis mungil itu ke puncak kenikmatannya, tapi hebatnya gempuran dahsyat mulut dan memek Eci tidak cukup untuk membuatnya muncrat.
Eci menarik tubuhnya, melepas memek hangatnya yang banjir bandang dari kontol Asep yang masih sangat keras. Masih ngos-ngosan, dia merebahkan tubuhnya di sebelah Dita, menggumam tak jelas.
“Mas Asep giliran aku yaaa” bisik Irma manja di telinga Asep
Irma lalu berdiri dan menarik tangan Asep agar ikut berdiri. Sekilas Asep melirik ke arah Dita, terlihat olehnya gadis itu sedang memeluk dan menggerayangi Eci yang masih lemas.

Setelah saling berciuman dalam posisi berdiri, Irma berlutut di depan Asep.
“Hmmhhhm cupphh” lidah Irma menjelajahi sekujur batang Asep. Irma masih merasakan cairan memek Eci di kontol Asep, dan bukannya jijik, irma justru tampak senang. Seperti sedang menjilati es krim batangan, Irma terlihat begitu menikmati mengulum batang kemaluan asep. Sesekali mata bulatnya menatap binal ke mata Asep, membuat Asep semakin bergairah.
“Ahhh...Uhhh...Enakh bangethh Mbakkhh” erang Asep yang merasa nikmat luar biasa
“Slurrphh..Puahh..nih udah aku bersihin ya Maaas” ujar Irma dengan manja
Gadis jangkung itu berdiri kembali, memeluk Asep dan melingkarkan tangannya di leher Asep. Saat Asep meremas-remas pantat sekalnya, Irma menaikkan salah satu kakinya hingga lubang memeknya yang basah total merekah, siap untuk ditusuk. Seperti lomba Ekiben tadi, Asep menggunakan sebelah tangannya untuk mengarahkan kontolnya ke lubang nikmat Irma.
BLESH! 
“Auhhhh...Mas Aseeppphhh!” Irma melenguh nikmat dengan suara serak-serak basahnya.
Asep mengira Irma ingin disetubuhi seperti ini jadi mulai menggerakkan pinggulnya untuk menggenjot memek Irma. Tapi tanpa disangkanya Irma meloncat secara tiba-tiba hingga tubuh Irma nemplok di pangkuannya, persis seperti posisi lomba tadi. Untung saja waktu itu Asep sedang meremas pantat bulat Irma hingga dia bisa menangkap tubuh semampai gadis itu. Belum lama tadi Asep mengerahkan tenaganya hingga kelelahan bolak-balik halaman sambil menggendong Dinda, tapi Asep tidak keberatan harus kembali mengambil posisi ini. Instingnya yang sudah ‘on’ langsung menggempur memek Irma dengan gencar bagai piston. Irma yang menggantungkan tubuhnya di badan Asep pun terlonjak-lonjak seiring pompaan kontol Asep yang ganas.

Irma terus mengerang-erang ‘ah’ dan ‘oh’ tanpa henti sambil menengadah. Dalam posisi seperti ini, Irma memasrahkan tubuhnya sepenuhnya di tangan Asep. Sekarang dia bagai hanya sebuah boneka yang terlempar-lempar oleh sodokan brutal kontol Asep di memeknya. Irma sangat menikmati posisinya yang tak berdaya, takluk, dan pasrah dikuasai oleh seorang pejantan yang mengobrak-abrik tubuhnya tanpa bisa melawan. Sedangkan Asep begitu menikmati dominasinya, egonya sebagai seorang lelaki terpuaskan saat dia bisa menguasai tubuh gadis cantik berjilbab seperti Irma sepenuhnya.
“Ahhh...Oohhhh...Ahhh!” Irma terus mendesah, mengerang, dengan penuh kepasrahan dan kenikmatan. Tubuhnya yang indah seperti model bermandikan keringat. Apalagi Asep, tanpa harus berjalan bolak-balik seperti lomba tadi dan hanya diam di tempat sambil menggenjot pun posisi ini sudah melelahkan. Tapi Asep sudah di puncak birahinya sekarang. Nafsunya untuk menyikat tubuh gadis-gadis yang memancing birahinya sudah menguasai akal sehatnya. Tadi sempat terkekang karena Eci mengambil kendali sementara dia ‘disandera’ Dita dan Irma, sekarang dia bebas. Asep akan memberi pelajaran kepada mereka yang sudah memancing birahinya hingga nyaris gila.

Dan tiba-tiba terdengar pekikan Eci. Asep yang melirik ke arahnya kaget melihat Dita sudah membenamkan kepalanya di selangkangan Eci. Tampaknya Dita sedang asyik menyedot cairan cinta rekan kerja seniornya itu, karena suara seruput yang erotis terdengar sampai ke telinga Asep. Melihat pemandangan permainan sesama jenis itu, Asep semakin bernafsu. Cewek-cewek binal ini harus dihukum! Tekad Asep. Sambil terus menggendong dan menggenjot Irma, Asep melangkah mendekati dinding tembok tak jauh dari situ. Begitu sampai, Asep langsung memepet tubuh ke tembok. Irma memekik saat tubuhnya dengan seenaknya dihempas Asep ke tembok. Pekikan kaget, sakit, tapi juga nikmat. Sekarang Irma dijepit tubuh Asep dan tembok, membuat Asep bisa semakin leluasa dan gencar menyodok kontolnya dalam memek Irma. Ibarat ditindih dalam posisi misionaris, tapi dalam posisi vertikal.
“Ahh Mas Asephhh yang kencenggg...Terusss...Ahhh!” Irma memohon, merengek agar Asep terus menyetubuhinya semakin cepat, semakin kasar, semakin tidak manusiawi. Kaki Irma sudah tidak memijak tanah, tubuhnya hanya ditopang oleh kontol Asep. Perasaan tidak berdaya ini membuai angan gadis modis berjilbab itu, membuatnya ketagihan. Kepasrahan Irma adalah kenikmatan buat Asep. Irma yang tak berdaya jadi sasaran empuk bagi kontol kerasnya. Irma hanya megap-megap, merem-melek tak berdaya memeknya dihujam habis-habisan oleh kontol perkasa Asep.
“Ahhhhh...Ohhhh!” keduanya terus macu birahi dengan liar, tak peduli dengan keringat yang mengucur membanjiri tubuh mereka. Sementara Irma juga semakin banjir di liang nikmatnya, bersiap untuk orgasme super dahsyat yang segera tiba.

“Hhhaaaahhhhh...Mas Aseppppphhhh!” Irma berteriak keras memanggil namanya, dan insting Asep pun langsung bekerja mendeteksi datangnya orgasme Irma. Dia mengganti tusukan-tusukan pendeknya yang seperti piston dengan tusukan-tusukan panjang dengan hentakan kuat. Tusukan Asep yang begitu dalam memicu gelombang kenikmatan di pusat syaraf Irma.
“Oooouuhhhhhhhhh!” Irma melolong merasakan orgasme maksimalnya. Tubuhnya menggelepar dalam pelukan Asep. Begitu seluruh otot di tubuhnya selesai berkontraksi, Irma merasa tubuh dan pikirannya begitu damai dan ringan.
“Hahhh...hahh” dengan nafas masih memburu, Irma menatap mata Asep dengan matanya yang bulat indah. Dia memandangi sang pejantan yang sudah mempecundangi tubuhnya itu dengan pandangan antara mesra, takjub, dan pasrah. Tak terpikirkan sekalipun pacarnya sendiri, saat ini insting primitif liar Irma sebagai seorang wanita lebih tergila-gila dengan pemilik kontol perkasa yang memberinya kenikmatan duniawi. Apalagi kontol itu masih menancap keras dalam memeknya.
Sang pejantan sendiri begitu lega melihat betinanya takluk di pelukannya. Ego Asep melambung tinggi. Ditatap dengan penuh kepasrahan oleh Irma, Asep tersenyum sombong sambil sesekali menyundul-nyundul memek Irma dengan kontolnya.
“Iihh Mas Aseeeepp...” desah Irma sambil terus menatap mata Asep dengan pasrah

Tapi Asep si pejantan tak punya waktu untuk terus bermesraan dengan Irma. Dia masih punya satu target lagi untuk dihukum. Irma melenguh kecewa ketika kontol Asep tercabut dari lubang memeknya. Gadis itu terduduk lemas, bersandar di dinding melihat Asep mendekati Dita yang saat itu sedang ber-69 dengan Eci. Dita berada di atas, asyik menjilati memek dan kelentit Eci di bawahnya sehingga dia tidak menyadari kedatangan Asep. Dibiarkannya pantatnya menungging membelakangi Asep dan Irma, memperlihatkan pantat dan belahan memeknya yang sedang dijilati Eci. Hingga tiba-tiba...
“Ahhhh!” Dita memekik ketika memeknya tiba-tiba tertusuk benda keras nan panjang milik Asep
PLAK! PLAK! Asep lalu menampar pantat putih dan montok Dita, menghukum gadis yang terlihat alim tapi sebenarnya super binal itu. Tadi siang atas permintaan Dita, Asep menyetubuhinya dengan pelan-pelan dan mesra. Tapi sekarang dia ingin mencoba kebalikannya, seperti yang dilakukan Jejen di malam pertama. Toh, Dita sendiri bilang dia suka main kasar. Asep ingin melihat sebinal apa gadis yang sudah mengetahui rahasianya itu. Dita menjerit-jerit nikmat ketika Asep semakin gencar menggenjot memeknya. Suara kecipak dari memek basah Dita yang dipompa oleh kontol Asep mengiringi jeritannya. 

Sibuk menikmati genjotan Asep, Dita melupakan memek Eci yang tadi dilahapnya. Tapi Eci tak keberatan, karena dia disuguhi pemandangan fantastis. Tepat di depan mukanya, dia bisa melihat dari dekat kontol Asep yang keluar masuk memek tembem Dita. Cairan cinta Dita yang melimpah memercik di setiap tusukan kontol Asep, membasahi wajah dan kacamata Eci seperti hujan. Dengan lahap Eci menjilat dan menelan setiap percikan cairan memek Dita yang kebetulan hinggap di mulutnya. Lalu Eci mendongakkan kepalanya dan mengulurkan lidahnya sepanjang mungkin, hingga mencapai kelentit Dita. Sehingga Dita semakin histeris saat merasakan kelentitnya dijilat Eci, padahal memeknya sendiri sedang digenjot kontol Asep. Dita yang kelabakan ambruk menindih tubuh Eci. Kepalanya terbenam dalam jembut Eci. Tapi Asep tidak memberinya ampun. Dia ingin menaklukkan Dita sebelum gadis itu bisa membalas dengan kekuatan kedutan memek khasnya. Asep terus menghantam kemaluan Dita dari belakang. Sesekali dia menepuk, menampar, meremas, dan mempermainkan pantat empuk Dita hingga yang tadinya putih mulus menjadi kemerahan.
“Ngghhhahhhhh Mas Aseeppp...” Dita melenguh setelah berhasil mengangkat kepalanya dari selangkangan Eci.
Dita memang tidak bohong, dia sangat menikmati percintaan mesra dengan Asep tadi siang, dia senang memegang kendali, tapi dia juga seperti Irma ketagihan dengan nikmatnya memasrahkan tubuhnya untuk didominasi oleh para pria. Apalagi oleh para pria di bawah mereka seperti Asep, Reza, dan yang lainnya yang sehari-hari biasa mereka suruh-suruh. Membayangkannya saja sudah membuat memek Dita basah. Dirinya yang dibesarkan dengan nilai-nilai agama oleh keluarganya, dirinya yang tidak pernah pacaran, dirinya yang selalu berbusana sopan, dirinya yang selalu menjaga pandangan...perbedaan yang begitu mencolok antara kesehariannya dengan Dita yang saat ini telanjang bulat, menungging di atas memek wanita lain sedangkan alat kelaminnya yang mestinya suci itu dihajar habis-habisan oleh kontol pria yang posisinya lebih rendah darinya. Perbedaan yang begitu kontras, tapi inilah yang dicari dan diinginkan Dita. Mendominasi atau didominasi tak masalah, yang penting Dita bisa lari dari kehidupannya yang biasa.

Dita kembali memekik ketika Asep menarik pinggangnya dengan tiba-tiba. Asep membawa gadis yang memeknya masih menancap di kontolnya itu agak jauh dari Eci. Dia lalu merebahkan Dita dengan posisi miring, rupanya Asep ingin mencoba posisi baru yang belum pernah dicobanya. Meniru Ari malam tadi yang menyetubuhi Dinda dengan posisi menyamping, Asep lalu mulai menggerakkan pinggulnya untuk kembali menggenjot memek Dita. Tangannya memeluk Dita erat sambil meremas pabrik susu gadis itu. Dita bisa merasakan hembusan nafas Asep yang memburu di dekat telinganya yang masih terbungkus jilbab. Disetubuhi sambil dipeluk erat seperti ini, insting alami Dita sebagai wanita bangkit. Kenikmatan tiada tara didapatnya justru saat dia dalam posisi tak berdaya. Apapun yang pejantannya akan lakukan, Dita akan terima. Karena dia adalah wanita, yang ingin disetubuhi dan dibuahi. Asep juga saat itu sudah dikuasai oleh instingnya sebagai seorang pria. Klop sudah.

Asep menggagahi Dita dalam posisi ini cukup lama, sebelum dia kembali mengganti posisi. Keringat Dita bercucuran saat Asep menyeret tubuhnya yang sudah lemas bangun. Kali ini Asep bersimpuh dengan Dita juga ikut bersimpuh di depannya dengan posisi membelakangi Asep. Tubuh Dita miring ke depan sehingga Asep bebas merojok lubang memeknya dari belakang. Agar tak jatuh ke depan, tubuh Dita ditahan tangan Asep yang sedang mencengkram kedua payudaranya. Nampaknya Asep ingin total menyetubuhi Dita dari belakang dengan brutal dalam sesi ini, setelah sebelumnya siang tadi mereka saling berhadapan dan bercinta dengan mesra. Dita yang sudah digenjot dari tadi mulai kewalahan. Kulit tubuh dan wajahnya yang biasanya putih mulus tampak memerah akibat aktivitas fisik dan rangsangan seksual yang intens. Tampang kalemnya nampak kusut, jilbabnya sudah acak-acakan dan lepek oleh keringat. Keringat yang mengucur ditubuhnya tidak usah ditanya lagi. Asep tak peduli. Dia mulai menggenjot memek Dita dengan brutal sementara tangannya meremas-remas bukit susu Dita. Dita mengerang pasrah, merasakan kenikmatan yang terakumulasi dalam dirinya. Sesaat lagi, kenikmatan itu akan meledak dahsyat, melemparakannya ke langit ke tujuh. Memek Dita mulai berkontraksi tanpa kendali, pikirannya sudah tak fokus sehingga dia tidak bisa mengendalikan kemampuan khususnya itu.
“Ahhh! Mas Asep...Mas Aseeep...Mas Aseeeeppp!” Dita berteriak histeris
Dan Asep pun paham. Seperti Irma tadi, Asep mengganti tusukan-tusukan cepat tapi dangkalnya dengan tusukan panjang dengan hentakan kuat. Dan di ujung hentakan kontol Asep itu, Dita pun meledak.

“Ahhhhhrrgghhhhhhhhhhhhhhhh!” Dita menjerit kencang, tubuhnya tersentak-sentak.
Otaknya serasa kosong. Cahaya menyilaukan seolah menutupi semuanya. Seperti Irma, Dita pun merasakan dirinya begitu damai selepas orgasme.

“Nghhhhh” Dita melenguh lirih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Memeknya terus berkedut tanpa henti, membasahi kontol Asep yang masih betah di sana dengan cairan cinta. Dita terjerembab pasrah saat Asep melepas cengkraman di payudaranya. Ini membuat kontol Asep terlepas keluar dari memeknya. Selesai dengan Dita, Asep memandang sekeliling. Hampir tak percaya, Asep sadar dia sukses memuaskan tiga wanita sekaligus, memporak-porandakan tubuh mereka hingga pasrah tak berdaya. Dan hebatnya Asep sendiri belum keluar sekalipun. Gila...Manteb banget gue, batinnya.
Kontolnya yang masih berlumur lendir Dita terus mengacung tegak. Sebenarnya pertahanan Asep sudah hampir jebol tadi, setelah bersetubuh dengan tiga gadis berurutan. Apalagi saat memek Dita mulai berkedut-kedut liar. Tapi untungnya Dita orgasme duluan.
Nah sekarang di mana Asep akan menumpahkan benihnya? Asep memandang Dita yang tertelungkup di lantai. 
Baru aja tadi siang buang pejuh di situ, pikirnya. Lalu ke Irma yang terduduk lemas bersandar di dinding. Boleh nih, tapi tadi malem juga udah, timbang Asep. Dan pandangan Asep kemudian tertuju ke Eci yang berbaring sambil mengangkang. Belahan memeknya tampak mengkilat, penuh oleh cairan cinta. Asep baru ingat, dia belum pernah crot di dalam memek Eci. 

“Nggahhhh!” Eci memekik kaget ketika Asep tiba-tiba menindih tubuh mungilnya. Tanpa basa-basi Asep pun menusukkan kontolnya ke dalam memek sempit Eci, dalam satu tusukan kuat yang langsung menyundul bibir rahim gadis berkacamata itu. Memek Eci yang banjir memudahkan penetrasi Asep sehingga dia tidak kesulitan dalam menembus lubang sempit Eci. Tapi buat Eci, ditusuk benda sebesar kontol Asep dalam satu tusukan sensasinya begitu luar biasa dan meng-overload syaraf nikmatnya. Hingga Eci pun kembali orgasme – hanya dengan satu tusukan. 
“Nggrrhhhhhhhhaahhhhhh! Mas Aseeeppppp!”
Asep yang mengejar kenikmatannya sendiri tak peduli. Dia terus menggenjot Eci saat gadis itu masih menggelinjang memekik-mekik nikmat. Terus menusuk-nusuk memek Eci tanpa ampun sambil menindih tubuh gadis itu, yang membuat puting susu Eci menggesek-gesek dada Asep. 
Dan tak lama Asep merasa tubuhnya mulai menghangat, sesuatu menjalar dari tulang belakang ke seluruh tubuhnya, dan rasa nikmat luar biasa memenuhi kontolnya yang terbenam dalam memek Eci. Rasa nikmat itu mengalir ke semua bagian tubuh yang lain, mengisi kepala Asep dengan rasa damai tak terkira.
CROT CROT CROT!
“Hngggrhkkkk!” Asep menggeram, diiringi jeritan histeris Eci. Gadis itu masih orgasme saat Asep menyemprot rahimnya dengan cairan kental hangat, membuat orgasme gadis itu semakin menjadi-jadi.
Asep tidak menyadari hal itu. Karena dia masih tenggelam dalam sisa kenikmatan orgasmenya. Setelah rasa itu hilang dan nafasnya mulai tenang dia mencabut kontolnya dari memek Eci. Tubuh gadis itu masih tersentak-sentak saat lubang nikmatnya sudah tak disumbat kontol Asep lagi.
Asep kembali berdiri dan memandang sekeliling. Lengkap sudah, dia sudah membuang pejunya sembarangan dalam memek keempat gadis itu. Dinda, Irma, Dita, dan terakhir tadi Eci. Egonya sebagai lelaki melambung tinggi. Sangat puas dengan pencapaiannya walaupun dia hanya keluar sekali. Tubuhnya serasa jauh lebih lemas dibandingkan lomba tadi siang. Dengan sempoyongan, Asep mendekati Irma untuk menuntaskan hasratnya yang terakhir.

“Mbak, bersihin lagi dong” perintahnya
Irma menuruti tanpa protes. Dia mengulum kontol Asep yang mulai melemas ke pangkalnya, menggunakan mulut dan lidahnya untuk membersihkan kontol Asep dari berbagai cairan, termasuk miliknya sendiri. Asep ingin menunjukkan dominasinya yang terakhir dengan menyuruh gadis itu membersihkan kontolnya yang sudah memperbudak mereka.
“...Udah Mas Asep...” gumam Irma lirih saat kontol Asep terlepas dari mulutnya
“Makasih Mbak”
Asep dengan sempoyongan meninggalkan Irma lalu mendudukkan tubuhnya yang lelah di kursi teras.
Manteb banget gue, pikirnya memuji diri sendiri. Sampai saat ini Dinda tak terbersit sekalipun dalam pikirannya. Bahkan dia tidak sadar, sebagai pemenang lomba sebenarnya dia bisa menggunakan haknya untuk menyuruh ketiga gadis itu yang memegang kendali. Dia tinggal diam dan menikmati. Tapi rangsangan ketiga gadis itu telah membuat akal sehatnya ditendang keluar oleh insting dan nafsu binatangnya. 
Lelah dan puas, Asep pun tertidur.
Samar-samar Asep mendengar Eci meracau “Rencana kita berhasil...Gals...” 
***

“Woi Sep, bangun! Udah maghrib noh”
Asep terbangun oleh suara Reza. Langit sudah gelap dengan semburat kuning tua sedikit tersisa di barat.
“Mandi sono gih, kita lagi nunggu Mbak Eci sama si Jejen nyari makan”
“Lo udah mandi Za?”
“Udah lah, gua udah pake baju nih” jawab Reza
Dengan gontai Asep berjalan kamar mandi. Masih bugil sambil menenteng bajunya yang dia lepas di teras siang tadi. Di ruang tengah Asep mendapati Dinda duduk sendirian di sofa sambil mengutak-atik HPnya. Gadis itu sudah berpakaian rapih dengan pakaian santai. Asep bahkan bisa samar-samar mencium bau shampo dan body lotion khas cewek. Di depan Dinda yang berpakaian, entah kenapa Asep merasa malu dan jengah bertelanjang. Padahal sewaktu mereka bugil sama-sama, rasa itu tidak ada.
“Cieeee yang abis maen sama tigaan baru bangun nih” goda Dinda tanpa rasa bersalah
“Iye nih, situ udah rapih ajah” jawab Asep berbasa-basi
“Iiya, abis badan aku lengket disemburin peju tiga orang barbar itu” ujar Dinda cuek
Sial, gua gak pengen denger detilnya, rutuk Asep dalam hati.
“Udah sono mandi gih, anduknya ambil yang dilipet di meja depan pintu kamar mandi”
“Iya iya”

Siraman air dingin perlahan mengembalikan akal sehat Asep yang sempat hilang. Dia mengingat-ingat reward yang dia dapat. Bisa menggarap tiga orang cewek sekaligus, benar-benar luar biasa.
Apalagi kalo Dinda juga ikut berempat, wih mantap, lamunnya.
Tapi Asep tiba-tiba teringat sesuatu. Tadi dia menyetubuhi Dita dengan kasar, langsung colok tanpa sepengetahuan Dita dan sampai menampar-nampar pantatnya. Padahal Dita sudah cukup baik mau menyimpan rahasianya dan mendukung perasaannya terhadap Dinda. Asep merasa bersalah, memang sih dia ingat kalau Dita bilang dia juga suka dikasarin. Tapi kalau yang tadi terlalu berlebihan, bisa jadi Dita sakit hati dan melaporkan rahasianya ke Eci. Dan ngomong-ngomong soal Eci, tadi siang dia merasa sedikit takut dengan Eci mendengar cerita Ari; tapi tadi dengan seenaknya Asep buang peju ke dalam rahim Eci tanpa permisi. Bagaimana kalau dia marah? Asep mengutuk dirinya yang selalu kehilangan akal sehat sewaktu nafsu mengambil alih.
Gawat ini mah, pikir Asep.
Suara ketukan di pintu mengagetkannya
“Woi Sep! Cepetan siah, mules nih!” teriak Ari di balik pintu

Asep adalah yang terakhir mandi. Saat Eci dan Jejen berangkat mencari makan malam, yang lain segera beristirahat, mandi membasuh semua keringat dan cairan lain yang menempel di tubuh mereka. Dinda dan Irma lalu sibuk dengan HP mereka, berbalas pesan dengan pacar masing-masing. Reza dan Ari duduk di ruang tengah menyaksikan pertandingan sepak bola di TV. Sementara Asep nongkrong di halaman belakang sambil merokok. Dia memandang halaman luas yang jadi tempat pesta gila mereka tadi siang. Suara jangkrik menggantikan erangan dan lenguhan penuh nafsu di tempat itu.
“Mas Asep...”
Asep menengok ke arah suara yang memanggilnya. Dita tampak manis dengan piyama putih lengan panjang dan jilbab warna pink muda. Gadis itu lalu duduk di sebelah Asep yang segera mematikan rokoknya.
“Mbak, m-maaf ya yang tadi sore” ujar Asep dengan muka serius
“Kok minta maaf?”
“Abis...Setelah sayah pikir-pikir lagi kok kayaknya saya kasar banget yah maennya sama kalian bertiga”
Dita malah tertawa mendengar pengakuan Asep
“Ya ampun Mas Asep ini kayak punya kepribadian ganda, beda banget sama yang tadi ngabisin kita”
“Yah apalah, pokoknya saya...Trus tadi juga crot di dalem Mbak Eci gak bilang-bilang...Takut sayah...”
“Iih Mas Asep udah ah, kita udah berkali-kali maen, udah tau luar dalam masa masih ga enakan sih, lagian kita seneng...Kita bisa ngeliat sisi liarnya Mas Asep hehe...Sukses deh rencana si Mpok” potong Dita sambil tertawa
“Kalo soal si Mpok Eci, masa Mas Asep belom tau tuh anak maniaknya kayak gimana” sambungnya
Asep menggaruk-garuk kepalanya “Iya juga ya...”
Beneran gua dimanfaatin mereka kalo gini, pikir Asep. Dia pikir dia sudah menaklukkan mereka, tak tahunya malah dia yang sengaja dipancing oleh para gadis itu. Dan dia pun menyambar umpan mereka dengan lahap.

“Mas Asep kenapa gak ikut nonton bola sama Reza & Ari?” Dita mengalihkan pembicaraan
“Gak suka liga lokal saya mah...Mbak Dita gak ngumpul sama yang lain?”
“Si Irma ama Dinda lagi sibuk BBM-an sama pacarnya kali, aku ya pasti dikacangin”
“Ooh”
“Gimana Mas Asep, udah mulai biasa?” tanya Dita
“Yah, masih sulit sih Mbak, saya masih grogi nih. Bener kata Mbak Irma sayah susah panasnya hehe”
“Karena ada Dinda?” tanya Dita dengan suara pelan dan sedikit menengok ke belakang memastikan tidak ada yang mencuri dengar
“Yaa itu salah satunya Mbak...Saya jadi rada malu, yang lain rela bagi-bagi tapi saya egois gini pengen dia buat saya seorang” Asep curhat dengan polosnya
“Aku ngerti kok, Mas Asep kan sukanya udah dari dulu kan sebelum di sini. Tapi ada alasannya Mbak Eci bikin peraturan gak boleh bawa perasaan, buat kenyamanan kita juga” jelas Dita
“Biar gak ada yang rebutan dan monopoli kayak sayah gitu Mbak?” 
Dita tampak berpikir “Iya, itu juga, tapi lebih ke arah ngebentuk mindset kita para cewek. Tanpa ngebawa perasaan kita nganggap acara ini cuman permainan fisik, hepi-hepi buat ngelepas stres. Jadi aku gak perlu mikir ‘emang aku rela ya dijamah sama Mas Jejen’ misalnya. Atau Dinda dan Irma ngerasa bersalah karena ngentotin cowok selain pacar mereka gitu”
Asep manggut-manggut, sekarang dia mendapat jawaban kenapa para gadis itu dengan rela dan cueknya membiarkan tubuh mereka dimainkan Asep dan yang lain, biarpun masih tidak masuk di akal bagi Asep. Entahlah, mungkin dia sendiri masih lugu dan kampungan, pikir Asep. Pikirannya yang polos tidak bisa connect dengan para gadis kota itu. Masih ada pertanyaan soal pandangan mereka soal konsekuensi dosa dan moral tapi Asep memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Kalo soal dosa dan moral mah itu pandangan pribadi, batin Asep.

“Jadi kalo saya gak sampe bikin gak nyaman yang lain, trus gak ngemonopoli Dinda, gak papa kan saya punya rasa?” tanya Asep memastikan
“Ya kalo Mas Asep rela cemburu terus dan nanggung beban sendiri mikirin dia terus”
“Ya jadi sayah harus gimana Mbak?” Asep garuk-garuk kepala
“Hmm? Aku gak bilang itu gak baik Mas Asep...Aku...Udah lama gak ngerasain cemburu dan rasanya kepikiran terus sama orang yang aku suka” jawab Dita dengan ekspresi hampa
Lho lho lho, kok malah dia yang curhat? 

“Ah masa sih Mbak gak ada yang pernah naksir” ujar Asep
“Yang ngedeketin ada sih beberapa, tapi aku kan pemalu hehe” jawab Dita sambil tersenyum tipis tapi masih memandang halaman belakang dengan hampa.
Dua hari lalu Asep masih percaya kalau gadis manis itu memang pemalu. Tapi sekarang, yah, kontolnya sudah bersarang di memek gadis itu berkali-kali tanpa malu-malu.
“Kalo naksir cowok?”
“Hmm...Aku ngefans sama beberapa artis cowok juga sih...”
“Yee bukan itu maksud sayah, mbak”
“Hehe, iiya aku tau...Yaa aku juga kan cewek Mbak Asep, wajarlah kalo pernah”
“Oohh” Asep meraih gelas berisi kopi di sebelahnya. Merokok sambil ngopi, memang kebiasaan favorit Asep.
“Aku waktu kuliah diperkosa sama temen seangkatan yang udah aku anggap kakak sendiri”

PFFFFTTT! Asep langsung menyemburkan kopi dalam mulutnya mendengar perkataan Dita yang begitu tiba-tiba.
Dita tak mempedulikan Asep yang gelagapan dan sibuk menyeka mulut. Dia melanjutkan ceritanya dengan muka kalem.
“Padahal aku rada-rada naksir dia, eh ternyata penjahat kelamin juga biarpun tampangnya alim”
“Jadi, mmm, pertama sama dia Mbak?” tanya Asep yang masih menyeka mulutnya
“Iiya..Dan parahnya abis dia, temen-temenya langsung ngegilir aku. Bayangin coba Mas Asep, udah ilang perawan, digilir pula, pada keluar di dalem lagi” jelas Dita, masih dengan wajah tenang
Sementara Asep malah melongo mendengar cerita Dita
“Mas Asep pasti penasaran kan gimana ceritanya kita bisa kayak gini?” tanya Dita sambil tersenyum. Asep hanya bisa mengangguk. Sekali lagi Dita bisa menebak isi hatinya. Memang yang diam yang paling menghanyutkan. Dita pun melanjutkan ceritanya.
“Kampus aku itu biarpun gak terkenal ternyata punya rahasia. Cowok-cowoknya punya tradisi buat merawanin dan ngejadiin cewek-cewek di sana jadi budak seks mereka...Gak peduli apa itu cewek gaul atau yang jilbaban kayak aku”
“Masa gak ketauan? Gak ada yang lapor polisi gituh Mbak?”
“Mereka punya sistem, aku sendiri gak tau gimana, yang pasti efektif banget. Aku gak bisa bilang siapa-siapa, cuman bisa pasrah...tau-tau semua cowok seangkatan udah ngerasain badan aku. Dan temen-temen cewek aku juga akhirnya kena semua”
“Wew” Asep tak tahu harus berkata apa
Dita melanjutkan ceritanya. Betapa dia sering digilir dan digangbang oleh teman-teman kuliahnya. Ataupun ikut orgy berkedok rapat organisasi kampus. Asep semakin melongo ketika dia mendengar Dita dioper seperti barang oleh teman-teman kuliahnya. Dan puncaknya di acara perpisahan sebelum wisuda, angkatan Dita menggelar pesta seks massal di sebuah bumi perkemahan. Dita menceritakan semua itu dengan muka datar tanpa raut sedih sedikitpun.

“Abis lulus aku langsung kerja di tempat sekarang, rada jauh dari rumah sih tapi untungnya jadi jarang ketemu mereka”
“Temen-temen kuliah Mbak maksudnya?”
“Iiya...Aku bisa lepas dari mereka, jadi bisa mulai hidup baru”
“Wah, saya mah gak tau apa-apa soal pesiko-logi, tapi saya kagum liat Mbak yang gak trauma abis pengalaman kayak gitu” cetus Asep
“Yakin aku gak trauma?”
“Eh?”
“Mas Asep udah berapa kali ngentotin aku coba? Liatin aku digilir sama yang lain?”
Asep hanya bisa garuk-garuk kepala tak mengerti
“Aku rencananya pingin mulai dari nol, mulai hidup baru. Tapi...Kayaknya otak aku udah terlanjur konslet deh. Kalo ada temen atau keluarga ngejodoh-jodohin aku ama cowok yang katanya mapan, akhlaknya bagus, dan lain-lain, tapi aku malah kepikiran kontolnya kayak gimana ya, maennya kuat gak ya hahaha...Ngeliat cowok yang ada dipikiran malah gimana rasanya dientotin mereka...Jadi maaf ya Mas Asep waktu kenalan dulu aku kayak yang sombong jarang ngajak ngomong hahaha” Dita tertawa tapi Asep bisa mendengar kehampaan dalam tawanya

“Yah akhirnya aku gak tahan dan cerita ke si Mpok Eci. Eh bukannya nasehatin, dia malah ikutan curhat sambil nangis, katanya gak kuat nahan nafsu juga kayak aku...”
“Oohh” Asep mulai paham “Jadi kalian semua kayak begini karena pengalaman masa lalu gitu yah...”
“Nggak kok, cuman aku” tukas Dita cuek
“Eh!?” 
“Yang pengalamannya bombastis kayak gitu cuman aku doang kok. Yang lain biasa aja”
“Masa sih Mbak?” Asep semakin bingung
“Si Mpok waktu kuliahnya rada badung, jadi dia pacaran bebas gitu deh sama beberapa cowok. Pas kerja katanya mau tobat tapi malah ketemu aku hehehe...Udah nasib kali ya”
“Kalo...Mbak Irma?”
“Dia sih awalnya baik-baik pas kuliah, tapi pacarnya yang sekarang - yang gak direstuin ortunya itu, merawanin dia dan ngenalin dia ama seks. Susah juga sih ngeyakinin dia biar ikut pesta ini, tapi akhirnya mau juga. Pas awal-awal dia malu-malu banget, eh sekarang jadi doyan kontol juga kayak kita. Emang bakat kali tuh anak”
Asep terdiam, otaknya tak mampu memproses informasi absurd dari mulut gadis berpenampilan alim di sebelahnya.
“Mas Asep gak nanya soal Dinda?” tanya Dita yang menohok hati Asep
“I-itu...Yah saya juga...Iyah Mbak saya pengen tau” Asep menyerah
“Mau tau apa mau tau banget?”
“Banget Mbak!” Dita tertawa melihat Asep begitu desperate

“Jadi Dinda...Mmmm, dulu sih kita gak ada niatan buat ngajak Dinda. Kita juga liatnya dia cewek polos dan baik-baik. Tapi kemudian Reza gak sengaja ngeliat Dinda lagi ngentot sama pacarnya di kosan Dinda”
“...Pacarnya yang si Anto itu?” Hati Asep tak karuan mendengarnya
“Iiya. Mas Asep patah hati?” goda Dita
“Ah, gimana lagi Mbak, emang mereka udah pacaran dari dulu, sayah bisa apa”
“Intinya kita tau Dinda gak sepolos yang kita duga, jadi yah kayak Irma kita undang juga. Dan sama kayak Irma akhirnya dia ketagihan juga”

Asep menggeleng-gelengkan kepalanya “Saya gak ngerti Mbak. Terus terang saya gak ngerti. Mungkin kasusnya Mbak Dita –maaf ya Mbak- atau juga Mbak Eci, saya bisa paham kenapa jadi beginih. Tapi saya gak abis pikir soal Mbak Irma sama Dinda. Okelah kalo mereka gak perawan karena udah dijamah pacar masing-masing. Segitu mah menurut sayah yang orang kampung ini udah gak aneh di jaman modern sekarang. Tapi sampe mau digilir sama kita-kita yang bukan pacar mereka, di pesta gila kayak gini menurut sayah gak masuk akal Mbak”

Dita tersenyum melihat wajah Asep yang begitu serius “Kadang...Banyak hal di dunia ini yang kita gak ngerti, kita anggap gak masuk akal, tapi terjadi juga. Dulu waktu aku digilir bolak-balik sana-sini aku anggap itu gak masuk akal banget, kayak cerita-cerita panas di internet gitu tapi aku ngalamin sendiri. Aku bisa lulus dan dapet kerja tanpa trauma abis digituin selama kuliah juga sebenarnya ajaib banget, tapi kejadian juga. Terus aku dapet temen kerja yang keliatannya baik-baik tapi ternyata senasib sama aku, kayaknya kebetulan banget. Tapi beneran lho”
“Jadi, ini semacam takdir gitu empat cewek kayak kalian bisa ngumpul bareng di satu tempat dan bikin grup ini?”
Dita mengangkat bahu “Yah, kalau memang ini udah takdir kita-kita yang diem-diem punya kelainan soal seks, atau hanya kebetulan kita bisa ketemu ya anggap aja begitu”
Asep menggaruk-garuk kepalanya. Kalo cerita ini gua tulis di internet, yang baca pasti protes karena beneran gak masuk akal, batinnya.

“Dan mungkin, takdir juga Mas Asep bisa gabung di grup ini. Mas Asep nyesel setelah ngeliat kita kayak gini?” tanya Dita pada Asep yang masih kalut
“Yah...Saya gak munafik Mbak. Saya juga punya nafsu, saya juga butuh pelampiasan, jadi yah saya sih seneng-seneng aja. Tapi saya mah kaget aja Mbak, dunia yang sayah kenal serasa runtuh”
“Trus, ngeliat Dinda kayak gini perasaan Mas Asep gimana?”
Asep hanya diam tak mampu menjawab pertanyaan Dita yang menohok hatinya. Dia masih berpikir keras ketika terdengar suara ramai dari ruang tengah
“Eh, itu suaranya si Mpok Eci. Udah pulang mereka” potong Dita
“Yuk, kita ke dalem aja” tambahnya sambil bangkit dan berjalan ke arah pintu. Asep tak punya pilihan selain mengikuti Dita, walau masih banyak pertanyaan di kepalanya.
Di ruang tengah Eci membagikan makan malam mereka. Di sudut ruang tampak Ari, Reza, dan Jejen berkumpul.
“Sep! Makannya di sini aja, kita mo ngebahas games berikutnya!” panggil Ari
Asep menurut saja. Cerita Dita barusan dilupakannya sejenak ketika Ari mengumumkan konsep games berikutnya. 
****

“Oke, tadi kita para cowok udah dites fisik sama permainan hasil ide kalian, sekarang giliran kita yang ngetes kalian-kalian para cewek” Reza berpidato seusai makan malam
“Tapi kita gak akan ngetes fisik, kita mau ngetes daya ingat kalian” tambah Reza yang disambut anggukan Ari
“Maksudnya? Jangan yang susah-susah ah Reza” tanya Irma dengan khawatir, karena dia yang memang paling lemot di antara yang lain.
“Tenang aja Ir, paling lo kalah lagi” ledek Dita
“Ah gak mau gua, dari kemarin kalah terus...Masa yang punya rumah gak pernah menang...” rajuk Irma sambil manyun
“Udah udah, dengerin dulu nih. Kita mau negetes seberapa familiar kalian sama kontol kita-kita” potong Ari menenangkan suasana
“Hah!?” serempak para gadis heran
“Yap, dengan ini lomba tebak kontol dibuka!” seru Reza tak mempedulikan reaksi para cewek

“Ayo ayo mulai, buka bajunya semua” perintah Ari pada para gadis yang masih berdiri keheranan.
Mereka saling memandang, tapi akhirnya menurut saja melepas pakaian mereka. Ternyata di balik piyama dan baju santai yang mereka kenakan sehabis mandi, mereka tidak mengenakan pakaian dalam. Dengan menyisakan jilbab seperti sebelumnya, para gadis sudah bugil total dan berdiri berjajar. Asep mestinya sudah terbiasa, namun pemandangan absurd tapi erotis seperti ini selalu berhasil memancing pedang Asep untuk naik.
“Sep, ayo” ujar Jejen
“Oh, iya hayu” Asep dan Jejen melaksanakan tugasnya seperti yang direncanakan. Mereka bertugas menutup mata para gadis dengan kain yang sudah disediakan.
“Permisi ya Mbak” Asep melingkarkan kain penutup mata di kepala Eci
“Duh, maksudnya apaan nih Sep, gak ngerti aku mah” protes Dinda yang masih bingung di sebelah Eci
“Ntar liat aja deh”
Sementara Jejen dan Asep melaksanakan tugas masing-masing, Reza menjelaskan aturan main dari lomba tebak kontol ini.

Intinya para cewek dengan mata tertutup akan digilir oleh keempat cowok itu dengan urutan yang nantinya para cewek harus tebak. Misalnya Asep-Reza-Jejen-Ari. Yang bisa menebak semuanya dengan benar adalah pemenangnya, dan yang paling banyak salah menebak adalah yang kalah.
“Ari udah mikirin reward-nya belum?” tanya Eci
“Tadi kan yang menang dapet hadiah, sementara yang kalah gak dihukum apa-apa, nah sekarang gantian, yang kalah bakal kena hukuman” jelas Ari
“Hagh siah Irma” ledek Jejen menakut-nakuti Irma yang matanya sedang dia tutup dengan kain
“Ah aku gak mau kalah lagi pokoknya!” rengek Irma putus asa
“Waduh, kayaknya aku bisa kalah nih” gumam Dinda yang matanya sedang ditutup oleh Asep
“Ah gampang kok, gak usah takut gitu...Eh terlalu kenceng gak ngiketnya?” Asep mencoba menenangkan Dinda, curi-curi kesempatan
“Gak kok...Hehe, iya juga ya mungkin gak bakalan susah” jawab Dinda sambil tersenyum
Reza meneruskan penjelasannya. Nanti para cewek akan dapat kesempatan menyepong tiap kontol selama 3 menit, kemudian penetrasi juga 3 menit per kontol. Dan terakhir penetrasi 30 detik per kontol.
Jadi para gadis punya 3 kesempatan untuk merasakan dan mengira-ngira kontol siapa saja yang masuk ke mulut dan memek mereka. Dan setelah semuanya selesai, barulah mereka akan menebak urutan yang benar. Sebenarnya ronde terakhir saat waktu kontak antara kontol dan memek sangat singkat adalah bonus sekaligus rintangan yang disiapkan Ari dkk buat para cewek, tetapi mereka masih belum menyadarinya. 

Sekarang Irma, Dita, Eci, dan Dinda berjejer rapi dengan mata tertutup kain. Mereka berlutut, dengan tangan di balik punggung sesuai perintah Reza. Mereka terlihat seperti tawanan perang yang siap dieksekusi. Melihat para gadis itu dalam kondisi pasrah, tak ayal Asep dan yang lain terpacu birahinya. Walaupun Reza, Ari, dan Jejen sudah sering menyetubuhi mereka bahkan sebelum pesta ini, tapi jarang mereka bisa mengambil kendali seperti ini. Karena biasanya merekalah yang didominasi oleh para cewek, tak jauh beda seperti waktu di kantor.
“Untung lo ikut Sep, kita bisa bikin mereka kayak gini” bisik Reza
“Emang gak pernah games kayak gini atau tadi siang?” tanya Asep heran
“Susah Sep, kan cowoknya kurang”
Asep hanya manggut-manggut sementara Ari mem-briefing team cowok sekali lagi
“Inget yah, jangan terlalu banyak pegang-pegang kalo gak perlu, trus jangan bersuara. Si Reza yang pegang pluit sama stopwatch. Inget kan urutanna?” 
“Sip, hayolah” jawab Jejen

PRIIIITTTT! 
Reza meniup peluit. Serempak Asep dkk mendekati para cewek tanpa bersuara dengan kontol menghunus tegak. Untung tinggi mereka tak terlalu beda jauh jadi sulit untuk menebak dari tinggi badan. Dinda tersentak kaget ketika ada kepala kontol menyentuh bibirnya. Lalu tanpa bisa melihat Dinda dengan hati-hati mengecup dan meraskan benda keras panjang yang ada di depan mulutnya. Di sebelah Dinda, Eci mengulum kontol jatahnya dengan pelan, mencoba mengenali karakteristik kontol di mulut mungilnya dengan menggerakkan kepalanya perlahan. Lain dengan Dita, gadis itu menelan kontol di depannya sampai ke pangkal, tak peduli sampai harus menelan jembut si pemilik kontol. Beda dengan Eci, mulut Dita tidak bergerak sama sekali. Sepertinya dia sedang mengukur panjang dan diameter dari kontol jatahnya. Sementara Irma hanya memasukkan ujung kontol dalam bibirnya, sambil sesekali dijilat seperti es krim. Irma lebih memilih strategi mengenali kontol dari karakteristik kepalanya yang khas.
Suara seruputan dan jilatan memenuhi ruangan itu. Tak ada suara lain karena para cowok harus menahan suaranya walaupun rasanya nikmat luar biasa disepong dengan penuh konsentrasi oleh para gadis. Hingga akhirnya suara peluit memecah keheningan. 
PRITTT!
“Duh, tadi siapa yaaa” Irma menggumam cemas
“Ih, aku sampe ngeces gini” Dita mengusap liurnya yang tumpah sebelum kembali menyimpan tangannya di balik badan
“Hmm, susah juga yaaa” timpal Eci, sementara Dinda diam saja tapi tampak sibuk berpikir

Masih tanpa suara para cowok bertukar posisi dengan urutan yang sudah disepakati sebelumnya. Kembali keempat gadis berjilbab itu mengisi mulut mereka dengan kemaluan pria tanpa segan. Pemandangannya sungguh sangat erotis, para wanita yang berlutut dengan mata tertutup dan tangan di belakang badan nampak seperti sekelompok budak seks. Para pria yang sedang menyumpal mulut mereka dengan kontol berkacak pinggang tanpa suara bagaikan tuan dari para budak seks itu
PRITTT!
Suara peluit kembali terdengar setelah 3 menit. Dinda dan yang lain langsung mengambil nafas sebelum kontol urutan ketiga mengisi mulut mereka yang seharusnya suci itu.
“Hmmpphhh...cplkcleppppkkkcleppeeep...sluurrrrpppp” suara seruputan yang erotis kembali menggema.
Asep adalah urutan ketiga buat Dinda. Melihat ke bawah, Dinda tampak begitu semangat menyedot kontol Asep. Lidah gadis manis itu mempermainkan batang Asep, mencoba mengenali siapa pemilik kontol yang mengisi rongga mulutnya. Melihat binalnya Dinda saat itu, Asep teringat apa yang dijelaskan Dita. Hatinya masih belum bisa menerima. Apa sesimpel itu? Masa dengan mudahnya Dinda, yang tidak punya masa lalu sewarna-warni Dita, bisa jadi seperti sekarang? Tapi bagaimanapun, itulah kenyataannya. Dinda yang dulu Asep anggap gadis biasa saja sekarang sedang berlutut dengan mata tertutup. Telanjang bulat, dan tanpa malu-malu menelan kontol Asep. Asep sendiri tidak bisa munafik, dia sudah mencicipi tubuh gadis itu, dan dia sudah melihat teman-temannya ikut menikmati. Sekali lagi syarat yang diajukan Eci agar Asep bersikap biasa setelah semuanya selesai terasa semakin sulit.

PRITTT!
Lamunan Asep buyar oleh suara peluit. Serempak para pria menarik kontol masing-masing dari lubang tempat mereka bersarang selama tiga menit ke belakang.
“Hmm kayaknya aku tau deh yang tadi...” Dinda menggumam, yang membuat Asep berbunga-bunga mendengarnya. Dia hapal kontol gue!
Sesi keempat pun dimulai. Tampaknya semua sudah tidak kebingungan lagi dengan peran masing-masing. Hanya saja bila di awal para cewek bisa menebak lewat bau khas kontol setiap pria, sekarang setelah dikulum berkali-kali tentu baunya sudah hilang. Reza dan yang lain juga harus menjaga agar tidak ejakulasi. Mereka harus bertahan sampai permainan selesai.
PRITTT! PRITTT! PRITTT!
Reza meniup peluit tiga kali, tanda sesi blowjob selesai. Semuanya menarik nafas lega, rehat sebentar mengambil nafas.
“Kayaknya aku ada gambaran deh, tapi ada yang aku gak yakin” ujar Irma
“Inget-inget sekarang Ir, nanti lupa” saran Eci

Tak lama, Ari memberi komando “OK cewek-cewek, semuanya nungging, kakinya direnggangin dikit...yak gitu”
Sekarang pantat Irma, Dita, Eci, dan Dinda menghadap ke arah para cowok. Tampak lubang memek mereka yang sudah merekah basah, terangsang oleh kontak antara kontol dengan mulut mereka sebelumnya. Jejen menyikut Reza sambil nyengir tanpa suara. Asep sudah tidak mau berpikir lagi. Sebagai teman yang baik, Asep ikut saja dengan kemauan mereka. Sebagai anggota baru dari klub gila ini.

PRITTT!
Peluit tanda mulai sudah ditiup oleh Reza. Sebelumnya Ari mengingatkan teman-temannya agar jangan sampai ejakulasi dan meminimalisir rabaan dan gerayangan yang tidak perlu. Bagaimana cara mereka menggenjot memek jatah masing-masing, itu terserah mereka. Tentu, masih tanpa suara yang bisa mengungkap identitas mereka.
“Ah kok aku jadi deg-degan ya” ujar Eci yang merasakan pantatnya dipegang sepasang tangan misterius
“Iiya Mbak, gak pernah ya kita maen sambil ditutup mata gini” balas Dinda
“Jadi khawatir memek kita malah dimasukin yang lain ya Mpok?” ledek Dita
“Ah elu Dit, bisa aj-AHH! Udah masuk aja iiihhhh...” erang Eci yang dicoblos tiba-tiba 
“Ahhh...Ini beneran kontol...” desah Dita, sementara di sebelahnya Irma hanya melenguh lirih
Memek keempat gadis berjilbab yang sedang nungging itu lalu dipompa dengan tempo dan gaya berbeda-beda. Memang sulit untuk mengukur dimensi dan bentuk dari kontol dengan memek, apalagi buat Eci, kontol apapun akan mentok dalam memeknya yang sempit. Jadi mereka diberi kemudahan dengan membiarkan para cowok menggenjot sesuai gaya dan ritme khas masing-masing sehingga setidaknya para cewek bisa menebak dari situ, dipadukan dengan data yang mereka dapat dari mulut mereka saat sesi blowjob tadi.

Setidaknya itu teorinya. Namanya kelamin bertemu, pasti rasa nikmat mulai perlahan menggantikan kemampuan berpikir dan mengolah informasi. Keempat gadis berjilbab itu mulai mendesah-desah erotis saat memek mereka digenjot bersamaan. Payudara mereka yang bergantung mengayun-ayun indah. Keringat mulai membasahi tubuh mereka, gaya gravitasi mengarahkan bulir-bulir keringat mereka ke titik paling rendah: puting susu mereka yang sudah mengacung tegak. Yang kemudian jatuh memercik seiring ayunan bukit susu keempat gadis itu.
“Ahhh...Bener ini yang aku tebak...” lenguh Dita
“Mmmhh...Ahhh...Yang ini juga...” balas Dinda sambil megap-megap
PRITTT!
Keempat gadis itu memekik terkejut saat kontol di memek masing-masing tercabut tiba-tiba seiring bunyi peluit. Pekikan kembali terdengar sesaat kemudian saat lubang nikmat mereka kembali tersumpal kontol.
“Ahhhh susah ih ini nebaknya!” racau Irma yang tampak sudah kepayahan menahan kenikmatannya
Mendengarnya, pria di belakang Irma malah semakin cepat menggenjot memek gadis tinggi semampai itu. Membuat Irma semakin berteriak nikmat.
“Ahh bodo amat ahh...Ahh...Yang penting...Nghhh enakkk!”
Sementara yang lain sibuk berpikir, siapa yang sedang mengaduk-aduk lubang kenikmatan mereka saat ini, mencocokkan dengan tebakan mereka sementara dari sesi sebelumnya.
PRITTT!
“Yaaahhhhh!” Irma melenguh kecewa ketika kontol di memeknya lepas, padahal dia hampir mencapai puncak kenikmatan. Begitu kontol yang lain mulai masuk, dia malah mendorong pantatnya kebelakang dengan agresif. Seandainya yang lain bisa melihat, tentu mereka akan menasihati Irma agar konsentrasi. Tapi masing-masing masih sibuk sendiri.
Seperti tadi, urutan ketiga untuk Dinda adalah Asep. Melihat punggung tipis nan mulus Dinda, pantat bulatnya, dan tentu lubang memeknya yang merekah, Asep menelan ludah. Dia bingung, seperti apa dia harus memompa memek Dinda? Tak mau kehilangan waktu 3 menitnya yang berharga, Asep mulai memasukkan kontolnya dalam memek Dinda. Masih tak yakin, Asep hanya menggenjot Dinda dengan tempo standar. Mestinya dia bisa menikmati, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Selama tiga menit itu pikiran Asep kembali melayang.

Selama ini diam-diam dia sudah mengumpulkan informasi tentang Dinda. Gadis itu berasal dari kota kecil di Jawa Barat. Ayahnya adalah mantri desa, ibunya ibu rumah tangga. Punya beberapa kakak yang sebagian sudah menikah. Tak ada yang aneh. Mulai berpacaran dengan Anto tak lama setelah diterima bekerja di kantornya yang sekarang. Asep sudah beberapa kali melihat Anto dan Dinda bersama, Anto walaupun beda departemen cukup akrab dengan Jejen dkk, mereka sering main futsal atau konvoi jalan-jalan bersama. Walau cemburu, harus diakuinya dirinya memang kalah dengan Anto. Dan melihat gaya pacaran mereka, masih tampak normal buat Asep, walaupun tadi Dita bilang Antolah yang pertama memerawani Dinda. Apakah pria itu yang mengubah Dinda jadi gadis maniak seks seperti ini? Mungkin Anto bukanlah pria yang benar-benar alim, toh dia sudah berani berhubungan suami-istri dengan pacarnya sebelum menikah. Tapi rasanya tidak mungkin hanya satu pria bisa mengubah gadis seperti Dinda jadi begini. 
PRITTT!
Ah sial, kebanyakan mikir malah gak bisa nikmatin, rutuk Asep kesal. Dicabutnya kontol miliknya dari memek Dinda yang diiring lenguhan manja gadis itu. Sementara terdengar protes Irma yang lagi-lagi nyaris meraih orgasme tapi gagal. Para cowok sebisa mungkin menahan tawa melihat Irma yang frustrasi. Termasuk Asep yang segera mulai berpindah posisi ke jatahnya saat ini. 

Suara-suara erotis kembali memenuhi ruangan itu. Memek para gadis semakin basah, sehingga suara kontol yang menerjang-nerjang memek yang banjir semakin keras. Begitupun erangan dan lenguhan keempat gadis berjilbab itu. Irma terus berusaha menggapai kenikmatannya hingga akhirnya ia memekik nikmat dan tubuhnya tersentak-sentak liar.
“Ahhh akhirnyaaa...” erang Irma puas
“Iiih Ir, lo keluar ya?” tanya Dita mendengar kehebohan Irma
“Iyaa Dit...Gila enak banget...”
“Ah elo emang gampangan...Nnghhh” ledek Dita yang juga sudah mulai didera nikmat
“Diem lo...Ahh masih gerak aja nih yang ngentotin gue...”
Eci dan Dinda pun mulai kehilangan konsentrasi, mereka terus mengerang dan mendesah nikmat

PRITT! PRITTT! PRITTT!
Peluit berbunyi menandakan selesainya ronde kedua, dan saatnya ronde terakhir dimulai. Sebenarnya ronde ini tidak terlalu perlu, tapi Ari merancang ronde ini untuk menambah keseruan permainan.
“Ini apa bedanya sama yang tadi?” tanya Eci
Tak ada yang menjawab karena para cowok sibuk bertukar posisi kembali ke urutan awal.
PRITTT!
Peluit berbunyi dan serempak Irma, Dita, Eci, dan Dinda memekik kaget ketika memek mereka langsung dicoblos dengan tiba-tiba dan langsung dihajar dengan kecepatan tinggi. Memang perintah Ari untuk menggenjot dengan tempo seganas mungkin selama 30 detik. Para gadis protes diantara lenguhan nikmat dan pasrah mereka.
“Ahh pelan-pelan iihhh! Aduhh!”
“Mhhhh bisa nyampe lagi akuuu!”
PRITTT!
“Eh? Kok cepet ama- Ahhhhh!” 
Kembali memek mereka ditusuk oleh kontol tak lama setelah kontol sebelumnya lepas. Dicoblos bergantian dengan genjotan brutal tak ayal membuat pertahanan mereka roboh.
“Oooohhhh!” Dinda melolong dan ambruk tak kuasa menahan nikmat orgasmenya. Tapi memeknya terus dihajar tanpa ampun membuat gadis itu belingsatan. Eci sudah di ambang puncak ketika peluit berbunyi.
PRITTT!
“Nggaaaahhhhh! Ampuunnnn!” jerit Eci saat gelombang orgasme datang bersamaan dengan masuknya kontol gelombang ketiga yang menggasak memek sempitnya.
Dita menyusul dengan pekikan membahana tak lama kemudian, dan terakhir Irma yang histeris saat orgasme keduanya menerpa. 
PRITTT!
Tak ayal, setelah tumbang di sesi sebelumnya, para gadis hanya bisa mengerang lirih ketika memek mereka dibombardir di 30 detik terakhir. Inilah bonus dari Ari, memberi kesempatan bagi mereka untuk bisa meraih orgasme. Tapi sekaligus juga rintangan, karena orgasme dahsyat mereka bisa jadi membuyarkan konsentrasi dan membuat mereka lupa dengan jawaban yang sudah disusun di kepala mereka. 
PRITT! PRITTT! PRITTT!

"Ngghhhkkk" para cewek mengejang ketika semua kontol tercabut dari memek mereka bersamaan 
“Hahh!” para cowok pun sudah kelelahan sebenarnya. Mereka langsung terduduk mengambil nafas.
“Anjirr, ampir bucat urang tadi” ujar Jejen
“Hehe, mantep pan yang terakhir” Ari nyengir memuji idenya sendiri
“Gila, seru tapi cape yang terakhir” timpal Asep
“Heueuh rame euy pindah-pindah memek siga tadi, kapan-kapan lagi atuh euy”
Sementara Reza menunjuk kontolnya sendiri “Ampir gak tahan gue, kalo keluar pasti banyak banget nih”
“Tahan dulu Za sampe kita nentuin siapa yang bakal dihukum, pasti nanti puas deh” saran Ari
“Sip lah” Reza mengacungkan jempolnya. Lalu dia berdiri dan memberi pengumuman.
“Oke, cewek-cewek silakan buka penutup matanya dan mendekat sini, saatnya kalian ngasih jawaban”
Reza menggosok-gosokkan tangannya dan menyeringai lebar
“Heheheh, siapa nih yang bakal kena hukuman” gumamnya 
loading...