Cerita Seks : Pesta di Akhir Pekan 5





“Sebagai pemenang, Mas Asep bakal dilayanin sama kita bertiga dan Dinda dapat tiga cowok sekaligus!” Seru Eci yang membuat jantung Dinda berdetak lebih kencang. Antara senang, penasaran, dan khawatir. Bagaimana tidak, selama ini Dinda belum pernah bermain seks segila itu. Sebelum Asep bergabung, jumlah cowok di grup itu lebih sedikit dari ceweknya. Dan Dinda kalah bersaing dengan Eci atau Dita yang lebih agresif. Jadi paling gila dia hanya pernah dihajar dua orang sekaligus, itu pun tidak full. 
“Asik, sama tiga orang sekaligus, akhirnya ngerasain juga!” Dinda bersorak memasang tampang pede
“Beuh, malah seneng dia...Hayu Jen, Ri, kita hajar sama-sama si Dinceu!” ledek Reza 
“Hayoh siah mun kuat mah” tantang Dinda membalas ledekannya, berpura-pura tegar
“Anjirr, nantang ieu awewe teh” timpal Jejen
“Hayu lah, hajar!” Ari yang biasanya diam ikut-ikutan
Sekilas Dinda memandang Asep. Dilihatnya pria itu hanya terdiam sementara gadis yang lain heboh. Pikir Dinda, pasti Asep juga bingung disuguhi tiga memek sekaligus. Dan Dinda sendiri tak tahu seperti apa nantinya tiga kontol itu akan mengaduk-aduk tubuhnya.

Reza adalah yang paling senang mendapat kesempatan mengeroyok Dinda. Pria bergigi tongos itu memang paling senang menggoda Dinda. Dia sering menyebut-nyebut nama pacar Dinda di depan gadis itu, yang sering membuat Dinda manyun. Sekarang dengan bantuan Jejen dan Ari, dia akan membuat gadis manis itu takluk dengan keperkasaan mereka. Lumayan buat bahan ledekan mereka nanti.
“Eh gimana kalo kita maen di kamar atas aja yuk” saran Reza sambil nyengir lebar
“Hayulah, nyeri bujur aing yeuh, hayang maen di kasur” Jejen setuju
“Emang boleh yah?” tanya Dinda ragu
“Pasti boleh lah” Reza menggamit tangan Dinda lalu berjalan ke arah pintu belakang
Ketika sampai di sana Reza berteriak “Mbak Eci, gak harus maen di situ kan? Kita mau ngegarap si Dinda di kamar atas”
“Yoooooo” balas Eci tanpa menengok

Dinda menurut saja membiarkan dirinya digiring Reza masuk. Sepanjang jalan Jejen dan Ari iseng mencubiti pantatnya, membuat Dinda harus menepis tangan-tangan jahil mereka. Tapi tampang cemberut Dinda malah membuat keusilan Jejen dan Ari menjadi-jadi. Dinda sendiri semakin masuk ke dalam rumah, semakin jauh dari cewek yang lain jantungnya semakin berdebar. Dia merasa menjadi satu-satunya perempuan di villa itu, hanya dengan tiga laki-laki yang siap memangsanya. Dan memang itulah tujuan Reza mengisolir Dinda dari yang lain. Bila tiga gadis yang lain masih dalam pandangan, Dinda akan merasa aman. Tapi sekarang, sendirian terpisah dari yang lain Dinda akan merasakan ketegangan tambahan. Dia akan merasakan sensasi baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Darah Dinda berdesir. Sejuta kemungkinan yang akan terjadi nanti berseliweran di kepalanya yang masih tertutup jilbab. Tapi segala ketidakpastian itu malah membangkitkan birahinya. Perlahan memeknya mulai basah, puting susunya yang berwarna coklat muda kembali mengeras. Tubuh bugilnya serasa menghangat, seluruh kulitnya terasa lebih sensitif.
Mereka pun sampai di kamar di lantai 2. Gulp. Dinda menelan ludah. Inilah saatnya.
“Ceu, duduk di situ” Reza mengarahkan Dinda untuk duduk di ujung ranjang.
Dinda menurut. Mencoba menenangkan dirinya, tapi diamnya Dinda jadi perhatian para pria.
“Ieu awewe naha diem wae?” goda Jejen yang mendekati dari kanan
“Deg-degan pasti” timpal Ari dari kiri
“Nggak kalee” tukas Dinda cepat pura-pura tenang
Reza mengeluarkan jurus andalannya “Serasa waktu mau diperawanin si Anto ya Ceu?”
Dinda langsung merengut, “Enak aja!” tak suka nama pacarnya disebut-sebut 
Reza yang dari tadi berdiri di depan Dinda nyengir lebar, lalu dengan tiba-tiba Reza mengangkangkan kaki Dinda dan dengan satu gerakan langsung mencaplok selangkangan pacar Anto itu dengan bibir tongosnya.
“Kyaaaaa!” Dinda memekik kaget, dan di saat bersamaan Jejen dan Ari menyerbu dari kanan-kiri membuat gadis itu tak bisa bergerak. Tangan Jejen dan Ari langsung menjelajahi tubuh Dinda, membuatnya menggelinjang geli-geli nikmat. Payudara mungilnya yang sensitif diremas-remas tanpa ampun. Putingnya yang sudah mengeras dari tadi dicubit, dipilin, digesek, dipelintir, ditarik sesuka hati. Sementara lidah Reza menjilat-jilat bibir memek Dinda, menyapu lubang kawin gadis berjilbab dengan bibir kasarnya. Liur Reza bercampur cairan cinta Dinda yang terus melimpah akibat dirangsang dari semua sisi. Tak dipedulikannya helaian jembut Dinda yang ikut tercabut saat Reza asyik menyantap kerang mentah basah yang nikmat itu.

Dinda yang kelabakan hanya bisa terpejam dan mendesah-desah menikmati serbuan dari ketiga lelaki. Dia hanya bisa pasrah ketika salah satu pria di sampingnya menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Di saat yang bersamaan di sisi lain, Dinda merasakan sensasi bibir tebal penuh liur di salah satu puting susunya.
“Hmmmhhpppphhhmmm” lenguhan nikmat Dinda tertahan oleh bibir Jejen yang melumat bibirnya penuh nafsu. Lidah Jejen menari-nari dalam mulut Dinda, memaksa gadis itu menurut untuk bertukar liur dengan Jejen. Di bawah sana, lidah Reza semakin masuk ke dalam celah sempit Dinda, sementara bibir atasnya sesekali menyapu kelentit Dinda. Reza menyedot lubang basah Dinda bagai vacuum cleaner. Pria itu memang ahli dalam urusan menyantap memek. Irma saja sudah dibuatnya ketagihan. Walaupun dilarang tapi Irma sering mencuri waktu di kantor, menyediakan memeknya untuk dilahap oleh Reza. Sekarang selain serangan lidah maut Reza, Dinda dikeroyok kanan kiri. Giliran Ari yang mencumbui bibirnya sedangkan Jejen dengan brutal mengenyot salah satu bukit susu Dinda dengan tangannya seenaknya memilin puting susu bukit yang lain.

Dinda yang sering bercinta dengan pacarnya dan berkali-kali ikut pesta liar itu baru pertama kali merasakan memeknya begitu banjir. Serangan bertubi-tubi dari segala arah membuat tubuhnya tak mampu menahan gelombang kenikmatan yang mendera pusat syarafnya. Niatnya untuk menjaga imej agar tidak jadi bahan ledekan di kemudian hari oleh para cowok terlupakan. Akhirnya bendungan itu jebol juga. 
“Mmmppnnghhhhaaaaaahhhhhhhhhh!” Dinda sampai harus melepas bibirnya dari pagutan Ari agar bisa berteriak mengekspresikan orgasme dahsyatnya.
Air bah mengalir deras dari lubang memeknya yang langsung diseruput oleh Reza dengan kuat bagai lintah. Tubuh Dinda tersentak-sentak dalam pelukan Jejen dan Ari merasakan sisa kenikmatan.
“Enak eta memek Za?” tanya Jejen
“Segerrr!” jawab Reza sambil menyeringai lebar
Dinda yang bersandar tak berdaya di tubuh Jejen dan Ari diam saja, mengatur nafas dan detak jantungnya. Dibiarkannya kakinya tetap mengangkang walaupun kepala Reza sudah tak disitu. Selangkangan Dinda benar-benar banjir, dengan cairan cintanya sendiri dan juga liur Reza.
“Jiah, masa gini doang udah KO, mana tadi yang nantangin kita” goda Reza melihat wajah sayu Dinda yang habis didera nikmatnya orgasme.
“Licik ih kalian mah, aku dikeroyok gini” Dinda menatap Reza dengan mata indahnya mencoba membela diri.
“Ya masa kita maen satu-satu giliran, gak rame atuh” protes Ari sambil membelai payudara Dinda pelan.
“Heu-euh, sasakali dikeroyok atuh ngarasakeun” timpal Jejen sambil menjawil puting Dinda yang masih mengacung tegak.

Dalam hati sebenarnya Dinda merasakan excitement luar biasa. Sensasi orgasmenya tadi benar-benar luar biasa. Jantungnya masih berdebar, walau rasa takutnya sudah hilang. Diganti rasa penasaran dengan kenikmatan apalagi yang akan dia dapat nanti. Tapi dia masih jual mahal. Gengsi dong kalau langsung pasrah.
“Udah ah, terus ngapain?” tanyanya
“Tadi kita udah bikin lo nikmat, sekarang gantian dong”
“Owhh, mau pada disepong nih, ya udah hayu atuh” Dinda mencoba memegang kendali
Bangkit dari tempat tidur, Dinda berjongkok di karpet di sebelah ranjang. Ketiga cowok jatahnya sore itu bergerak mendekatinya. Dinda kembali menelan ludah ketika tiga kontol yang sudah mengacung tegak mengelilingi kepalanya. Bau khas lelaki yang sangat kuat membuatnya pusing sekaligus terbuai. Dengan kedua tangan halusnya, dua kontol di kanan-kirinya dikocok pelan. Dinda lalu menciumi ujung kontol Jejen yang berada di depan mukanya, dan menjilati batangnya bagai es krim. Dinda melakukan servis mulutnya sambil memandang ke atas, menatap wajah Jejen dengan binal, tak keberatan wajah Jejen yang buruk rupa dan jelas jauh dengan pacarnya. Dilanjutkan dengan masuknya kontol Jejen seluruhnya dalam mulut Dinda yang mungil.

“Mmmmhhhh...Slurrrrppp...Cppllkcpllkkk....” suara kecipak dari mulut Dinda mengiringi servisnya pada kontol Jejen.
Kontol Reza dan Ari di kanan kirinya dikocok dengan kedua tangan halusnya. Tubuh atas Dinda yang sibuk melayani ketiga lelaki mulai kembali berkeringat, bukit susunya ikut bergoyang seiring gerakan tubuhnya. Sementara di bawah, cairan memek Dinda menetes-netes ke karpet tempat ia jongkok.
“Happpp...Mmmmhhhh” Dinda melepas kontol Jejen dan beralih ke kontol Ari. Kontol Jejen dia ganti dengan tangannya. Tanpa sungkan dan ragu mengulum dan menyedot-nyedot batang Ari dengan nikmat. Si pemilik kontol hanya bisa memejamkan mata menikmati sepongan mulut Dinda.
“Anjirr, tambah edun wae si Dinda nyepongna...” racau Ari
“Sering latihan sama si Anto yah Ceu?” ledek Reza
“Happpp...Berisik ah...Mmmhhhppp...Sluurrppp” tukas Dinda sambil melepas kontol Ari dan melahap kontol Reza
Ingin membalas ledekan Reza, Dinda menyedot kontol pria kurus itu dengan lebih kuat dari yang lain. Lidahnya lebih agresif menyapu batang Reza, yang membuat pria itu meringis. Bukan hanya karena nikmat, tapi juga puas pancingannya berhasil. 

Dan sekarang saatnya serangan balasan.

Kedua tangan Reza lalu mencengkram kepala Dinda yang terbungkus jilbab hitam. Dengan kasar digerakkannya kepala Dinda sementara pinggulnya bergerak berlawanan arah, yang membuat Dinda terbeliak kelabakan.
“Mmmrrhhrhrhrhhgurhkkkmmmmmmhhhhhrrppp!”
“Ahhhh bangkeeee! Enak banget ngentotin mulut ceweknya si Anto!” teriak Reza
“Hrrnnnnggghhh!” Dinda mencoba melawan, tapi tak bisa karena kepalanya dipegang erat oleh Reza. Sementara Jejen dan Ari memegang tangannya. Dinda hanya bisa pasrah merelakan mulutnya diperkosa oleh kontol Reza.
Face-fuck brutal itu berlangsung beberapa lama hingga akhirnya pinggul Reza berhenti bergerak. Begitupun kepala Dinda yang ditahan di posisi diam oleh tangan Reza. Mata Dinda membelalak ketika dirasakannya ada cairan kental hangat yang langsung menyemprot ke tenggorokkannya.
“Hrrnghhhhhhhhh....Guulllpp!” 
Setelah momen yang terasa sangat lama buat Dinda, akhirnya Reza melepas kepala Dinda dari cengkramannya. Dinda langsung terbatuk-batuk, liur mengalir dari sudut mulutnya dengan beberapa helai jembut menempel di sana.
“Uhukkk-uhuuukk...Puahhhh...Uhukk..Rekaaa sesek tauuu!” protesnya sambil mengusap mulutnya dan menatap tajam ke arah Reza yang nyengir kuda.
“Dinceu lu tambah cakep deh kalo lagi marah, apalagi kalo ada jembut gue di mulut lu”
“Gak bisa nafas akuuuu” sungut Dinda
“Peju gua lo telen Ceu?”
“Yaa gimana lagi atuh Reza, keselek aku iih...” protesnya sambil memegang lehernya yang tertutup jilbab
Dinda terlalu sibuk marah-marah sehingga tak disadarinya seseorang yang mendekatinya.

“Eh jiga nu enak euy, cobaan ah” tukas Jejen yang tiba-tiba langsung menghampiri Dinda, memegang kepalanya dan dengan paksa memghujamkan kontolnya dalam mulut Dinda
“Mas Jejen ap-grrggghhghghghghghhhhhhhhhhhh!” refleks Dinda membuka mulutnya dan menelan kontol Jejen.
Seperti Reza, Jejen dengan brutal menghentakkan pinggulnya mendorong-dorong kontol hitamnya ke mulut Dinda seolah-olah mulut mungil gadis manis itu hanyalah sebuah lubang milik boneka seks. Kepala Dinda ikut digerakkannya maju mundur tanpa belas kasihan. Lagi-lagi gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan jeritannya pun tertahan kontol dalam mulut sehingga yang terdengar hanyalah suara seperti orang berkumur.
“Grrrggghhhhhhhnnnkkggggghhhhh!”
Ketika Dinda mulai kepayahan, Jejen melepas cengkramannya di kepala berjilbab Dinda. Gadis itu langsung terbatuk-batuk, seperti sebelumnya. 
“Kyaaa!” Dinda memekik kaget ketika peju kental Jejen menyemprot muka mulusnya, meleleh di alis tebal dan hidung bangirnya.
Selain belepotan air mani Jejen, tampak wajah Dinda sudah memerah, matanya mulai basah oleh air mata. Tapi Dinda sudah tak punya tenaga untuk protes lagi, dia hanya bisa mengatur nafasnya yang memburu.
“Giliran gua yah”
“Eh?”
Ari tak mau kalah. Sekarang dia yang mengklaim mulut Dinda untuk kontolnya. Lagi-lagi Dinda digenjot dengan brutal di mulutnya, dan lagi-lagi Dinda hanya bisa menjerit tertahan.Tapi entah kenapa, dikasari seperti itu birahi Dinda malah semakin naik, nafsu primitifnya mulai bangkit. Pacarnya Anto bukan tipe yang akan memperlakukan Dinda seperti ini, dan bagaimanapun tentu cowok itu hanya punya satu kontol. Sensasi digilir tiga cowok yang memperlakukan dirinya seenak jidat hanya akan Dinda rasakan sekarang di tempat ini. Tanpa dia sadari, banjir di memeknya semakin menjadi-jadi.
“Puahhhhh...Uhukk..Haahhhh hosh hosshhh...” dengan wajah memerah dan mata sembab Dinda tersengal-sengal mengambil nafas setelah kontol Ari lepas dari mulutnya, yang untung tak selama dengan Reza atau Jejen tadi.
Tak dipedulikannya semprotan peju Ari yang mengarah ke jilbabnya, membuat jilbab hitam yang sudah basah dari dalam oleh keringat, sekarang dipenuhi bercak dari cairan kental dan hangat milik lelaki.

“Anjir, lebih enakan dari disepong biasa euy” seru Ari setelah kontolnya berhenti muntah
“Bener kan, apalagi pake mulut si Dinceu yang hobinya nyerewetin kita di kantor” balas Reza
Dinda hanya memandang tajam dengan mulut manyun ke arah mereka
“Gila ih kalian mah” protesnya pelan
“Kapan lagi coba bisa digituin Ceu, lo dapet rezeki nomplok tiga kontol sekaligus hahaha” goda Reza
“Emang jarang si Anto maen kasar kitu?” tanya Jejen dengan muka tengil
“Diem ah Mas Jejen!”
Melihat tampang Dinda yang kesal dan berantakan, ketiga cowok itu bukannya kasihan, ekspresi mereka malah semakin tampak menyebalkan.
“Cup cup cup, udah jangan nangis neng Dinda Fitriani Anjani, sekarang gantian kita lagi yang ngasih enak, eneng diem aja yah, biar akang-akang ini yang nyervis” goda Reza
Dinda hanya diam saja ketika dia diarahkan untuk duduk di pangkuan Jejen yang bersandar di tepi ranjang. Kontol Jejen yang setengah keras serasa menempel di pantatnya. Jejen memeluk pinggang Dinda sehingga gadis itu bersandar di dadanya.
“Ri, keluarin jurus lo” perintah Reza
“Siap!” Ari mengacungkan jari tengah dan telunjuknya berdampingan.

Dinda tahu apa yang akan Ari lakukan, sehingga tanpa diperintah dia mengangkangkan pahanya, menyajikan memek pinknya yang merekah dengan jembut tak terlalu lebat. Walaupun menurut, Dinda masih diam dan memasang tampang cemberut.
Tapi tak ayal bibir manisnya sedikit terbuka saat mendesah merasakan ujung jari Ari yang dengan nakal merabai bibir memeknya. Tangan Jejen juga mulai merabai payudaranya dan memainkan puting susunya yang sudah keras sempurna dan sangat sensitif.
“Mmmmhhhhh...” Dinda mendesah sambil sesekali memejamkan mata, sesekali memandang ke arah Ari yang menatapnya sambil nyengir menyebalkan. Dinda tak mau kalah, dia memasang tampang galak tapi apa daya permainan jari Ari di bibir memeknya membuat ekspresinya melunak. Walaupun baru hanya di bibir, banjirnya memek Dinda membuat suara kecipak terdengar jelas.
“Mmmmm...Ahhhh!” desahan Dinda semakin keras ketika sepertiga dari dua jari Ari masuk menerobos memeknya, tapi seketika Ari menarik jarinya sambil tertawa. Dinda blingsatan, dia ingin sekali jari Ari masuk sepenuhnya dalam memeknya, menggaruk bagian dalam lubang nikmatnya yang sudah gatal. Tapi Dinda masih gengsi. Dia masih marah dengan perlakuan ketiga cowok yang sudah memperkosa mulutnya tanpa ampun tadi.

Reza yang duduk di samping mereka melihat dilema Dinda tergambar jelas di wajah gadis itu yang masih blepotan air mani Jejen. Kesempatan baginya untuk semakin menjatuhkan gadis itu dalam perangkap birahi mereka.
“Kenapa Dong, pengen dimasukin? Bilang aja ke si Ari” ujar Reza santai sambil meremas salah satu susu Dinda yang bebas dari tangan Jejen
“Nggak..Ahhh, ng..Nghhhh....” Dinda mati-matian menahan diri
“Yahh Ri, si Dinda gak mau tuh lo kobel”
“Owh gitu yah, ya udah weh di luar aja, kayak gini terus yah?” goda Ari menggesek jarinya di bibir memek Dinda
Dinda semakin blingsatan “Ya kalo mau masuk mah masuk aja atuh...Ahhh!” Dinda mengerang lirih, ekspresinya semakin campur aduk tak karuan. Sementara ekspresi ketiga lelaki yang sedang mengerubutinya semakin tengil.
“Kayak gini?” Ari menusukkan dua jarinya perlahan
“Iiyaaaaaa! Ahhhhh!” Dinda mengerang dengan kepala mendongak dan mata terpejam
“Hahahaha! Takluk juga nih cewek!” tawa mengejek Reza sudah tak dipedulikan Dinda
SLRPPHHHH! Suara becek terdengar ketika dua jari Ari sudah masuk sepenuhnya dalam gua berair Dinda dan mulai bergerak maju mundur. Dinda sekarang hanya bisa mendesah dan mengerang dengan mata terpejam dalam pelukan Jejen.
“Anjir, ini memek basah banget siah” seru Ari
“Hayoh Ri, kobel langsung weh!” saran Jejen

Dan sekarang saatnya jurus andalan Ari. Seperti teknik ‘goldfinger’ milik aktor porno legendaris dari Jepang Taka Kato, Ari melengkungkan kedua jarinya yang berada dalam memek Dinda bagaikan cakar elang. Memang, bagaimanapun dikobel dengan jari sensasinya tidak akan sama dengan dipenetrasi oleh kontol. Tapi jari karena sifatnya yang prehensile bisa menggaruk bagian-bagian tertentu dalam dinding memek yang akan membuat pemilik memek itu mabuk kepayang.
“Nggghhhhhhaaahhhhh!” Dinda mulai histeris ketika ujung jari Ari menggaruk titik sensitifnya
Ari meraba-raba dinding memek Dinda dengan jarinya, mencoba mencari titik paling sensitif berdasarkan reaksi gadis itu.
“Lo bukannya udah nemu dulu?”
“Lupa gua Za...Eh bentar, kayaknya di sebelah sini deh...”
“Nghhh..Ariiiii...Ahhh...Iiiya di situuuu!”
“Nah, ini dia!”
Cakar elang milik Ari langsung bergerak menggaruk dinding memek Dinda dengan liar begitu menemukan tempatnya. Bila Reza jagonya melahap memek, Ari jagonya mengobel memek. Jari kasarnya bisa bergerak dengan cepat tanpa kenal lelah. Dinda yang jadi korbannya sekarang hanya bisa pasrah. Tubuhnya menegang, tangannya mencengkram erat lengan Jejen yang memeluk pinggangnya. Kepalanya terdongak jauh, bila tidak tertutup jilbab pastilah terlihat urat-urat di lehernya yang menegang.
KCPAKCPAKCPAK! Cairan bening memercik keluar dari lubang memek Dinda seolah-olah sedang diserok oleh jari Ari. Jumlahnya semakin banyak dan suara kecipaknya semakin keras.
“Ooouuuuuhhhhhh!” Dinda hanya bisa melenguh sambil menggelinjang. Kakinya yang tadi hanya diam mengangkang sekarang mulai bergerak tak beraturan.
“Ggggrhhhh!” Ari menggeretakkan giginya saat memfokuskan tenaga ke dua ujung jarinya. Karpet di bawah tubuh Dinda sudah basah kuyup oleh cairan memek yang diserok keluar oleh Ari.
Tubuh Dinda semakin menggelinjang ketika akhirnya gadis berjilbab itu memekik keras
“Nnnnnngggggghhhhhhhhhhaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhkkkkkkk!”
SPLRRT! Ari menarik tangannya dan seketika SERRRRRRRRRRRR! Bagai air mancur cairan bening memancar dari lubang nikmat Dinda. Tubuh gadis itu tersentak-sentak liar saat orgasme dahsyat dengan squirtnya tiba. 

Jejen, Reza, dan Ari tertawa-tawa melihat usaha mereka membuat Dinda pipis nikmat berhasil. Sementara Dinda, pelan-pelan membuka matanya setelah kelebat sinar putih dari orgasmenya tadi mulai menghilang.
“Hahhhh...Hahhh...Ampun gilaa..Lemes aku...” gumamnya lirih
“Enak Ceu?” goda Reza
“Iiya...” Dinda menjawab pasrah, tak ingin lagi melawan
“Belum juga dimasukin kontol tuh memek”
“Hah? Oh...Iiya yaa...” Dinda terhenyak ketika dia baru sadar
Belum ada satupun dari tiga kontol itu yang masuk ke dalam memeknya. Sementara dia sudah takluk dua kali. Melihat ke sekeliling, tiga kontol milik Jejen, Reza, dan Ari sudah kembali mengacung tegak, siap mengobrak-abrik tubuh Dinda. Membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Dinda merasa lemas tapi sekaligus bergairah. Dia sudah tak berminat lagi untuk menjaga harga dirinya. Biarlah dia diejek terus-terusan habis ini.
“Ceu, masih kuat?”
“...Masih”
“Mau dimasukin kontol kita ke memek situ?”

Dinda yang masih tersengal-sengal tersenyum dengan mata berbinar, lalu mengangguk pelan
“Mau...”

Dinda Fitriani Anjani kecil yang masih duduk di bangku SMP terbangun menjelang tengah malam. Tadi siang dia bekerja keras menjadi pagar ayu di pernikahan kakak perempuannya, dan juga membantu keluarganya di resepsi ala rumahan yang tanpa EO dan berlangsung sampai sore. Sehingga selepas maghrib Dinda tidur begitu saja setelah membersihkan make-up dan berganti baju. Terlewat makan malam, gadis cilik itu sekarang bangun dengan perut lapar.
Tapi rasa laparnya hilang seketika begitu telinganya mendengar sesuatu yang aneh dari kamar di sebelahnya. Kamar kakaknya sang pengantin baru. Dinda mendengar suara yang dia yakini berasal dari kakaknya, tapi dengan nada yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Seperti campuran antara suara mengaduh dengan suara yang kakaknya sering keluarkan ketika keenakkan dipijat Dinda. Entah kenapa suara itu seperti memicu insting terdalam Dinda, membuatnya penasaran setengah mati dan melupakan rasa lapar di perutnya. Dengan jantung berdebar, Dinda memanjat meja belajarnya, mengintip melalui celah antar kamar yang waktu kecil sering mereka gunakan untuk saling melempar ular-ularan karet. Dinda tak tahu, pemandangan yang akan dia lihat akan mengubah hidup gadis sederhana dari pinggiran kota kecil itu untuk selamanya.

Begitu sadar dari lamunan masa kecilnya, Dinda sudah mendapati dirinya terduduk di tengah ranjang. Dengan tiga lelaki dari kantornya mengelilingi tubuhnya yang telanjang bulat, kecuali kepalanya yang masih tertutup jilbab. Itupun sudah lepek oleh keringat dan belepotan sperma. Wajah cantiknya yang juga belepotan sperma memandang tiga kontol yang mengacung keras di depan mukanya. Benda yang sekarang sudah sangat familiar baginya. Benda yang dimiliki oleh Anto, pria spesial di hatinya dan juga dimiliki oleh seluruh pria di dunia ini. Dan Dinda, gadis cilik nan polos itu sekarang tumbuh menjadi gadis yang menginginkan semua kontol di dunia ini untuk mengisi lubang-lubang nikmatnya, dan menginginkan tangan-tangan kasar mereka untuk menggerayangi tubuh ranumnya.
“Hammmpphhhhhfhhhhhspppplllrrff” Dinda melahap kontol hitam di depannya, tak peduli punya siapa. Mengulangi sesi blowjob sebelumnya, Dinda mengulum satu kontol bergantian sementara kedua tangannya mengocok dua kontol sisanya. Bedanya sekarang Dinda jauh lebih agresif, seolah-olah kelaparan ingin melahap semua kontol yang disajikan.
“Ceu, mau kontol?” tanya Reza
“Mauuu...Hssslurrpppppcpppptt” jawab Dinda diantara sedotan dan kocokannya
“Mau dientot?”
“Iyarghhhghfhfhghghggh”
“Apa? Keluarin dulu atuh kontolnya dari mulut”
“Phuaahhh...Iiyaaa mauuu!” jawab Dinda dengan nada seperti anak kecil merajuk minta permen
“Dientot di manaaa?” timpal Ari dengan muka mengejek
“Memek akuuu...Plis masukin kontol ke memek akuuu!” Dinda meceuak menatap ke arah tiga pria dengan tatapan memohon. 

Sesuai janji para pria, sekarang saatnya menu utama. Dinda sudah dipuaskan oleh appetizersebelumnya. Formasi lingkaran kontol itu bubar, dan seorang yang berada dibelakang Dinda mendorong gadis itu hingga menungging. 
“Aahhh! Aduh!”
Dinda mengaduh diperlakukan seperti itu. Sekarang gadis itu pasrah bertumpu pada siku dan lututnya. Dinda menurut saja ketika pria di belakangnya menaikkan pantatnya sehingga tubuhnya semakin menungging. Segera dirasakannya ada sesuatu yang menggelitik bibir kelaminnya yang sangat basah. Tapi bukan jari. Dinda hafal betul dengan sensasi ini. 
“Ah si Dinda mah hanjakal euy awewe teh. Geulis-geulis beuki kontol” Dinda mendengar ejekan Jejen di belakang tubuhnya, yang hanya menggesek-gesek bibir memek Dinda dengan kepala kontolnya
“Masukin aja Mas Jejennn” pinta Dinda lirih
“Naooooonn?” tanya Jejen pura-pura tak mendengar dengan ekspresi menyebalkan
“Masukiiiiiiin kontolnyaaaaaahhh! Akku pengen dientot iiiih!” teriak Dinda frustrasi
Para cowok tertawa terbahak-bahak mendengar Dinda putus asa
“Cup cup cup, tong ceurik geulis” goda Jejen seperti menenangkan anak kecil yang merajuk, lalu setelahnya...BLESH!
“Ngrahhhhkkkhhhhhh!” Dinda mengerang keras ketika kontol kokoh Jejen menghujam memeknya
“Enaaakkkk neng Dindaaaa?”
“Enak..Ahhh...Bbangeettt..Shhhh”
“Gerak moal yeuh?”
“Gerakiiinnn...Yang kencengh Mas Jejennhhhh...Ahhh!”
Jejen mulai mengocok memek Dinda dengan brutal, membuat gadis itu melenguh dan menjerit-jerit nikmat. Matanya terpejam erat menikmati genjotan kontol Jejen di memeknya. Hingga terdengar suara
“Ceu, buka matanya coba”

Tahu-tahu di depan mukanya sudah ada satu kelamin pria lagi yang mengacung tegak. Dinda memandang ke atas melihat tampang jelek Reza yang menyeringai lebar. Tanpa protes Dinda pun melahap kontol Reza, dan sekarang lengkap sudah, Dinda ditusuk depan belakang. Jejen lalu menggenjot memek Dinda dengan semakin brutal, setiap sodokan membuat wajah Dinda semakin terbenam dalam selangkangan Reza.
“Grrggglllhhllpppppgrrrrgggggghhhh” lenguhan Dinda tertahan sumbatan kontol dalam mulutnya
Serangan ketiga dimulai oleh Ari yang merebahkan dirinya kemudian menggeserkan kepalanya ke bawah tubuh Dinda. Seperti montir yang masuk ke bawah kolong mobil. Tapi bukan untuk ganti oli, Ari mencucup payudara Dinda yang menggelantung indah dan berguncang hebat seiring sodokan Jejen di memek Dinda. Puting susu Dinda yang berwarna coklat muda sudah mengeras sempurna, Ari tinggal menjulurkan lidahnya menyapu puting itu yang maju mundur dengan sendirinya. Terasa asin karena keringat oleh Ari, dan terasa sangat nikmat bagi Dinda. Apalagi ketika Ari mencaplok seluruh bukit susunya dan menyedot-nyedotnya seperti bayi.
“Uoohhh...Anjing! Ngempot...Sempit..Awe..we..Bangor...Siah...Dinda!” Jejen meracau diantara genjotannya dan PLAK! Jejen menampar pantat Dinda membuat gadis itu memekik sakit-sakit nikmat, tapi tertahan kontol Reza dalam mulutnya.

Diserang gencar seperti itu tentu Dinda tak tahan. Tubuhnya yang terpontang-panting antara tiga lelaki menegang, bersiap menyambut ledakan birahi yang segera tiba. Dan mata indah Dinda membelalak ketika gelombang kenikmatan akhirnya menyapu seluruh tubuhnya. Di saat bersamaan Reza mencabut kontolnya sehingga Dinda bisa menjerit keras meluapkan klimaks pertamanya dalam sesi main course ini.
“A-a-akkuuu k-kke...Nggggraaaaaaaaaaaahhhhh!” jerit Dinda sambil mengejang
“Anjing yeuh memek banjirrrrr!” geram Jejen merasakan kontolnya disiram cairan kewanitaan Dinda yang membanjir seiring orgasme gadis itu.
Tubuh Dinda tersentak-sentak tanpa kendali, seluruh tubuhnya seperti dialiri listrik ribuan volt. Sensasi klimaksnya kali ini jauh lebih dahsyat daripada waktu sesi foreplay tadi. Hingga setelah beberapa lama akhirnya aliran listrik itu hilang dan tubuhnya kehilangan tenaga. Ari menarik kepalanya tepat waktu sebelum tubuh Dinda ambruk, siku gadis berjilbab itu sudah lemas tak mampu menahan tubuhnya yang kembali digenjot Jejen tanpa ampun.
“Mas Jejennnn...Udahhh...Aku...Memek aku udahh...Baru ajahh-Ahhhh!” Dinda melenguh lirih, wajahnya yang sudah berantakan menempel di atas sprei kasur.
Jejen tahu kalau Dinda sudah mencapai puncak kenikmatannya tapi ia tidak berniat membiarkan gadis itu istirahat. Tidak sampai dia menyiram rahim gadis itu dengan benihnya. Pria buruk rupa itu mendengus seperti babi hutan dan mulai menggenjot Dinda dengan tusukan-tusukan panjang. Gadis itu sudah terjerembab di kasur, tangannya hanya bisa meremas kain sprei dengan kuat. Dinda melenguh-lenguh pasrah menikmati rasa yang menjulur di seluruh tubuhnya. Tanpa ada rehat dari orgasme sebelumnya, kenikmatan yang dialami Dinda semakin naik, naik, dan siap meledak lagi.
“Jen, kayaknya si Dinda mau keluar lagi tuh” lapor Reza setelah mengamati bahasa tubuh Dinda 
“Nyaho aing ge...Ugghhh! Ngempotna ajibb beuhhh!” Jejen mengelap keringat di dahinya
“Crot di dalem Jen, abis itu kita gantian” ujar Ari yang dibalas anggukan Jejen yang tampak semakin kepayahan menahan ejakulasinya hingga akhirnya dia memaki dengan suara menggeram
“Anjing!”

CROTT! Cairan putih kental menyembur deras dari ujung kontol Jejen, langsung menyirami rahim Dinda. 
Sensasi semburan cairan hangat itu memicu serangkaian proses dalam sistem syaraf Dinda, yang bereaksi dalam sepersekian detik mengalirkan hormon pemicu euforia ke seluruh tubuhnya. Dinda kembali dilanda orgasme dahsyat seiring sang pejantan menanam benih di tubuhnya. Tak peduli pejantan itu adalah Jejen yang hitam dan buruk rupa, yang hobi menggoda perempuan di kantor dengan rayuan basi dan kampungan. Tapi sekarang kontol Jejen sudah mengaduk-aduk memek Dinda dan membuktikan kejantanannya.
“Hhhh-Oohhhhhhhh!” Dinda melenguh panjang sambil membelalak, tangannya mencengkram sprei erat-erat
“Nghh!” pekikan kecil terdengar ketika Jejen mencabut kontolnya dari gua Dinda yang banjir berbagai jenis cairan.
Sementara Jejen beristirahat, Reza dan Ari mengamati dari dekat memek Dinda yang habis digempur Jejen. Gadis itu masih menungging, masih sesekali tersentak-sentak merasakan sisa-sisa klimaksnya.
“Za, liat yeuh. Nyemprot keluar gitu dikit-dikit” tunjuk Ari
Terlihat jelas dari luar memek Dinda tampak berkedut-kedut. Sesekali kedutan itu menyemprotkan cairan cinta bercampur peju Jejen seperti gunung berapi. Melihatnya, timbul ide di kepala Reza
PLAK!
Terdengar Dinda mengaduh saat Reza menampar pantatnya, dan di saat bersamaan memek Dinda kembali memuntahkan cairan dari dalam. Mendapat mainan baru, tanpa belas kasihan Ari dan Reza menampar-nampar pantat Dinda memicu erupsi dari memek Dinda. Lenguhan dan erangan Dinda yang meminta mereka berhenti tak diindahkan.
“Jen! Liat nih, memek si Dinda bisa muncratin peju kayak kontol!” seru Ari menunjuk memek Dinda yang terus memuncratkan peju Jejen yang tadi baru disetor ke sana.

Hingga tenaga Dinda sedikit pulih sehingga ia bisa bangkit dan segera berbalik melindungi pantatnya
“Udah ih kalian mah! Sakit tau!” seru Dinda dengan cemberut, tapi Reza dan Ari hanya tertawa yang membuat Dinda semakin manyun. 
“Udahlah Ceu, jangan cemberut gitu sayang...Yuk kita enjut-enjutan lagi” rayu Reza
“Ogah!” tolak Dinda sambil membuang muka
“Wah, jual mahal nih cewek!” seru Ari
“Iye nih, harus ditangkep dulu ini mah...Rrragh!” Reza tiba-tiba meloncat ke arah Dinda, membuat gadis itu menjerit tapi masih bisa menghindar.
Sambil tertawa-tawa Dinda mencoba menghindar dari kejaran Reza sebisanya dengan merangkak melingkari kasur king size itu. Reza mengejar di belakang diikuti Ari. Sementara Jejen hanya menonton di tengah.
“Kena!” teriak Reza setelah berhasil menangkap Dinda
“Kyaa! Ahahhahahhha!”
Dinda tertelungkup di atas kasur dengan Reza menindihnya. Setelah derai tawa mereka habis, dengan nafas masih sedikit terengah-engah, Reza berujar sesuatu di telinga Dinda.
“Ceu, sekarang jatahnya gua sama Ari. Lo mau gak kita DP?”
“Hah? Di-DP? Kayak biasa Mbak Eci? Waduh...”
“Kenape? Lo bukannya pernah dianal Jejen dulu?”
“Iiya sih, tapi udah lama...Apalagi kalo depan-belakang aku belom pernah”
“Makanya nyobain sekarang, kapan lagi coba?”

Jantung Dinda berdebar kencang. Dia akan merasakan sebuah sensasi baru. Sekaligus pencapaian baru dalam kehidupan seksnya. Semakin lama gadis itu semakin binal saja. Debar jantungnya saat ini mengingatkan masa lalunya. Hari itu sobat karib Dinda di SMA membawa kabar. Ada warnet baru di kota kecamatan. Bedanya dengan yang sudah ada, warnet satu-satunya yang mereka tahu, adalah warnet baru itu punya bilik tertutup dan juga tidak memblok situs ‘aneh-aneh’. Penasaran, pulang sekolah mereka menyempatkan diri mampir ke sana. Walaupun harus menempuh perjalanan cukup jauh dari sekolah. Setelah berhaha-hihi mengecek dan mengupdate status alay mereka di facebook, keduanya dengan jantung berdebar mencoba mencari sesuatu yang anak laki-laki sekelas mereka sebut ‘bokep’. Namanya internet, dua remaja desa yang gaptek sekalipun bisa mengakses konten terlarang dari belahan dunia lain. Mereka hanya mengharapkan adegan seperti yang biasa mereka lihat di film-film hollywood. Tapi yang mereka lihat lebih dari itu. Adegan ekstrim tanpa sensor, tanpa penghalang, dengan alat kelamin yang di-zoom dari jarak dekat. Teman Dinda tak kuat melihatnya dan menutup wajahnya dengan tangan, tapi Dinda malah memandang tak berkedip ke arah pemandangan di layar. Debaran jantungnya saat itu adalah kombinasi dari rasa takut, takjub, penasaran, sekaligus bahagia. Setelah beberapa tahun sebelumnya menyaksikan sendiri hubungan antara pria dan wanita dewasa di rumahnya, Dinda semakin penasaran dengan seks. Hanya karena lingkungan dan keluarga yang melindungi dirinya dari liarnya dunia modern, Dinda kecil masih bisa tumbuh sebagai gadis polos.

“Jadi siapa yang dapet belakang?” tanya Ari memecah lamunan Dinda
“Ya masa si Jejen lagi, jadi gue aja Ri. Lo dapet memek”
“Okeeh!”
“Setuju gak Dinceu? Bool lo buat gua ya”
“Pelan-pelan tapinya ah, jangan bikin sakit” rajuk Dinda manja
“Yee pasti sakit dikit awalnya, udah ayo mulai” 
Ari berbaring telentang di ranjang. Dinda memposisikan tubuhnya di atas selangkangan Ari. Perlahan, dia menurunkan tubuhnya hingga kontol Ari melesak menembus memek legitnya.
“Nghhh...” Dinda mendesah pelan sambil memejamkan mata
Akhirnya batang Ari sudah mentok di dalam gua basah Dinda. Tapi posisi cowgirl ini bukanlah tujuan utama Dinda. Perlahan sambil menggigit bibir gadis itu memiringkan tubuhnya ke depan, semakin lama semakin sejajar dengan tubuh Ari. Berhati-hati agar kontol Ari tidak lepas lagi, Dinda pun sekarang menindih tubuh Ari. Payudara kenyal dan sekalnya menempel di dada berbulu Ari, memberi sensasi empuk-empuk hangat.
Reza memandang puas ke pemandangan indah di depannya. Pantat Dinda terangkat, memperlihatkan lubang anusnya sementara di bawahnya tampak memek Dinda yang sudah tersumpal kontol Ari. Sekarang saatnya. Double Penetration pertama buat Dinda.

Dinda menelan ludah ketika dia merasakan jari Reza di anusnya. Lalu jari itu berganti dengan ujung kontol ketika Reza sudah memposisikan tubuhnya di belakang pantat Dinda.
“Ri, mending lo panasin si Dinda dulu” ujar Reza
“Siap!”
“Panasin? Emang aku mo- Ahh!” Dinda melenguh ketika Ari menggerakkan pinggulnya naik turun hingga kontolnya mulai memompa memek Dinda. Terangsang, gadis itu ikut mencari kenikmatan dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan sodokan kontol Ari.
“Ahhh ahhh aaaahhhhhmmmmmmffhhhcuphhhhhhfhhh” Dinda mendesah erotis sebelum bibirnya dikecup oleh Ari. Putingnya yang ikut bergerak maju mundur bergesekan dengan dada kasar Ari, memberinya kenikmatan lebih.
“Nah udah rileks kan Ceu? Tuh bool lu juga keliatan kembang kempis gitu minta dicolok”
Dinda kembali merasakan ujung kontol menggesek lubang anus imutnya. Tapi berkat genjotan dan rangsangan Ari, Dinda sekarang tidak gugup lagi. Bahkan sudah tidak sabar. 
“Mmmfhh...Ahhh...Reza pelan-pelan yah...” pintanya dengan suara lirih sambil terus mendesah
“Iyee, tenang aja, cuh!” Reza meludahi lubang yang akan segera ditembusnya
Dan BLESH! Dinda memekik, mukanya tampak tegang
“Adududuh Reza, sakiitttt!” erangnya
“Sabaaar, bentar lagi juga ilaaaang” Reza menenangkan, tapi dia sendiri tidak tenang karena sulit memaksakan kontolnya masuk ke dalam lubang anus Dinda tanpa menyakiti gadis itu.
Ari yang mengurangi tempo genjotannya untuk memudahkan penetrasi Reza mengelus punggung dan kepala berjilbab Dinda untuk mengurangi rasa sakitnya.
“Fiuuuh, masuk nih semua” Reza mengusap keringat di dahinya
“Eh jadi gimana nih kita genjotnya bareng atau berlawanan arahnya?” tanya Ari
“Hmm gimana ya? Gua juga bingung” 
Jejen yang dari tadi menonton memberi saran “Gerak aja we saurang, ngke nu lain tinggal ngikut” 

Benar kata Jejen, Reza dan Ari dengan sendirinya bisa sinkron tanpa harus dipikir. Dinda masih meringis ketika Reza mulai menggerakkan kontolnya. Pertama kali dalam hidupnya, dua lubangnya terisi penuh dalam waktu yang sama. Sensasi yang tak mungkin dirasakannya kalau Dinda hanya bercinta dengan Anto saja.
“Awhhh...Ssshhhh penuh bangetttt...Ughhhh” erangnya
“Masih sakit Ceu?”
“Dikittt..Aww...Tapi udah mendingan...”
Ari kembali memagut bibir Dinda untuk menenangkannya. Sementara Dinda juga mulai terbiasa, pinggulnya kembali bergerak menyambut sodokan kontol Ari di memeknya. Lama-lama Reza merasa pinggul Dinda juga sesekali merespon sodokan di anus. Pelan-pelan tempo genjotannya dipercepat, tapi tak ada reaksi penolakan dari Dinda. Malah lenguhan dan erangannya terdengar nikmat tanpa rasa sakit ketika Ari melepas ciumannya.
“Ahhh gilaaa...Aku disandwichhh...Pantat akuhhh...Memek akuhhhh...Ngaaahhhh!” racau Dinda
Jejen yang menonton dari samping terkekeh “Yey si Dinda budak bageur teh jadi dijepit oge euy!”
Lalu dengan seenaknya dia mencolek pipi Dinda dengan kontolnya yang sudah keras kembali.
“Sakalian lobang yang ini nih ehuehuehue” perintahnya
Dinda hanya memandang sayu pada kontol hitam Jejen di depan mukanya. Tanpa protes dilahapnya ke dalam mulut mungilnya, sekarang lengkap sudah tiga lubangnya terisi kontol. 
Hari itu di warnet kota kecamatan, Dinda remaja tak pernah menyangka pemandangan ekstrim di monitor yang dilihatnya akan dialaminya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, Dinda sendiri yang disetubuhi dengan brutal di semua lubang.

Rasa sakit dan canggung hilang sudah. Dinda merasakan kenikmatan tiada tara digenjot dua kontol sekaligus depan belakang. Sebentar lagi klimaksnya akan segera meledak, setelah birahinya terus naik dan naik distimulasi di semua tempat. Bahkan dia jadi kurang konsentrasi mengulum kontol Jejen, beberapa kali kontol pria buruk rupa itu lepas dari mulut Dinda. Tapi selain Dinda, Reza juga merasakan ejakulasinya sebentar lagi. Tak terbiasa dengan sempitnya anus Dinda, Reza tak bisa bertahan selama biasanya.
“Arrghh anjing gak kuat gua! Gua keluarin di pantat lo ya Dinda, gua muncratin bool lo-Arrgghhh!”
Reza mengggeram sambil mengejang, menyemburkan cairan kental hangat dalam anus Dinda. Sensasi disembur plus hentakan ejakulasi Reza tak ayal mengantar Dinda ke orgasmenya. Orgasme pertama Dinda dari penetrasi ganda.
“Ngahhhhhhkkkkkhhhh!” Dinda memekik, kontol Jejen terlepas dari mulutnya
Lagi-lagi tubuh Dinda mengejang dan tersentak-sentak dilanda orgasme hebat. Ari merasa kontolnya dalam memek Dinda seperti kebanjiran. Sodokannya dihentikan sejenak untuk membiarkan Dinda menikmati puncak kenikmatannya.
“Auuhhh!” Dinda melenguh manja ketika Reza menarik kontolnya dari lubang pantat Dinda dengan sekali tarik. Tampak lubang itu menganga sekarang, dengan peju Reza mengalir keluar dari sana.
Dinda yang masih menindih tubuh Ari mengatur nafas. Matanya sayu, wajah cantiknya acak-cakan dengan keringat dan sisa-sisa sperma bercampur baur di sana. Jilbabnya sudah lepek total oleh keringat. Sekarang gadis itu berusaha mengumpulkan akal sehatnya kembali.

Tapi di luar dugaannya, sesi double penetration hari itu tidak selesai hanya dengan keluarnya Reza. Dinda menjerit kaget ketika ada kontol lain yang tiba-tiba menerobos pantatnya. Lebih mudah karena anusnya sudah menganga dan ada sperma Reza di sana.
“Ahh Mas Jejennnnn!” protesnya
Jejen tidak peduli. Dia terus menusukkan kontolnya ke dalam lubang anus Dinda sampai mentok.
“Ri, cengkat geura” perintahnya yang segera dituruti Ari
Sekarang Ari di posisi duduk, dengan Dinda dipangkuannya. Sementara Jejen menyodok pantat Dinda dari belakang. Lagi-lagi Dinda dijepit, tapi kali ini dengan posisi berpangkuan.
“Lebih gampang euy nyodok memek di posisi gini mah” ujar Ari
“Bener pan, si Dinda na ge bisa gerak” timpal Jejen
Dinda sendiri mencoba bergerak, mengangkat tubuhnya naik-turun memompa kedua kontol yang menyumbat kedua lubangnya. Walaupun sulit, Dinda yang sudah dimabuk birahi tidak peduli. Tubuhnya bergerak liar, bibirnya sesekali berciuman ganas dengan Ari di depannya, atau menengok ke belakang untuk menyambut bibir dan lidah Jejen. Tubuh ketiga manusia itu saling bergesekan, keringat yang mengucur dari tubuh masing-masing jadi seperti pelumas. Bila tidak menempel dan menggesek dada Ari, payudara ranum Dinda diremas-remas Jejen dari belakang. Putingnya yang sudah keras maksimal dipilin-pilin, dicubit, dipermainkan Jejen sesuka hati, membuat Dinda semakin tak tahan.

“Aaahhhhh!” Dinda kembali memekik sambil mengejang, merasakan orgasme dahsyatnya yang kesekian kali hari itu. Tapi Jejen seperti biasa cuek saja terus menggenjot pantat Dinda tanpa ampun. Begitu juga Ari yang nanggung sebentar lagi gilirannya orgasme. Kedutan dan banjirnya memek Dinda semakin membuatnya tak tahan. Saat tubuh Dinda masih menggelinjang, Ari mencabut kontolnya, membuka sumbat yang segera mengalirkan cairan cinta Dinda keluar.
SPLURT! SPLURT! SPLURT! Semburan cairan kental hangat dari Ari menyembur keluar beberapa detik kemudian. Semua semburan mengenai payudara Dinda, yang kemudian meleleh turun ke puting susu dan terus ke perutnya bercampur dengan keringat yang membasahi kulit mulusnya.
Dengan Ari out, tinggal Jejen yang tersisa. Tanpa mengubah posisi, tangan Jejen mencengkram bahu Dinda. Tanpa belas kasih digerakkannya tubuh Dinda naik turun, mengocok kontolnya menggunakan jepitan lubang pantat Dinda. Pinggul Jejen ikut bergerak menyambut pantat Dinda, yang hanya bisa pasrah saja dijadikan boneka seks oleh Jejen.
“Aaahhhh! Ahhh Mas Jejennhhhhhh...Nggghhhh!” boneka itu hanya bisa menjerit-jerit histeris disodomi dengan brutal oleh Jejen.
Sekarang sudah tidak ada bedanya lagi antara digenjot di memek atau di lubang pantat buat Dinda. Saat pantatnya digenjot Jejen, memeknya terus mengeluarkan cairan cinta, mengalir deras di lubang yang sekarang sudah kosong itu. Tak heran ketika kemudian orgasmenya yang kesekian kalinya hari itu bisa diraih hanya dengan pompaan kontol di anusnya.

Jejen mencabut kontolnya ketika tubuh Dinda mulai menegang menandakan klimaksnya. Dinda pun terjerembab, telungkup di atas kasur sambil mengejang dan mengeluarkan lenguhan panjang.
Di atas tubuh Dinda yang masih tersentak-sentak, Jejen mengocok kontolnya sendiri dan akhirnya memuncratkan ejakulasinya yang ke-3 di atas punggung Dinda. Lalu menyingkir begitu saja meninggalkan Dinda yang masih telungkup banjir keringat merasakan sisa-sisa orgasmenya di tengah kasur.
Antara sadar dan tidak, Dinda teringat saat-saat keperawanannya hilang di tangan Anto. Seksnya yang pertama, yang baru bisa dia rasakan setelah bekerja dan hidup sendiri jauh dari keluarga, walaupun Dinda sudah penasaran dengan seks sejak SMP. Tidak sesakit yang dia kira, dan rasanya seperti yang dia harapkan, mungkin lebih. Tapi saat itu seperti ada sesuatu yang bangkit dari dalam Dinda. Sesuatu yang membuatnya menyadari, ada potensi yang tak terbatas dari yang namanya seks ini. Ada kenikmatan yang lebih dari yang bisa dia bayangkan di luar sana, jika Dinda mau bereksplorasi. Dinda dan Anto saling bertukar kata mesra, saling berjanji sehabis seks pertama mereka saat itu, dan Dinda memang mencintai pria itu dari hati. Tapi di lubuk hatinya ada suara yang lain.
“Fuuh, Jen lo keluarin di punggungya si Dinceu?” suara Reza memecah lamunan Dinda
“Hahhhh...Iyeh, si Ari di susu”
“Hmm, coba itung. Gua keluar di mulut, ditelen sama si Dinceu. Lo crot di mukanya, Ari di jilbab. Trus elo ngecrot dalem memek, gua dalem pantat, Ari di toket, terakhir lo di punggung”
“Yey, kita sukses ngecrotin si Dinda di segala tempat, haha!”

Mendengar pembicaraan mereka, Dinda tidak tersinggung. Seulas senyum malah tersimpul di wajahnya. Teringat kata hatinya waktu itu “Maaf ya sayang, tapi aku ingin lebih...”.
loading...